Tuhan membela setiap orang yang ada di pihak-Nya

2 Raja-raja 6 : 15 – 17

6:15 Ketika pelayan abdi Allah bangun pagi-pagi dan pergi ke luar, maka tampaklah suatu tentara dengan kuda dan kereta ada di sekeliling kota itu. Lalu berkatalah bujangnya itu kepadanya: “Celaka tuanku! Apakah yang akan kita perbuat?”
6:16 Jawabnya: “Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita dari pada yang menyertai mereka.”
6:17 Lalu berdoalah Elisa: “Ya TUHAN: Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat.” Maka TUHAN membuka mata bujang itu, sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa. 

Rencana bangsa Aram atau Siria untuk menghadang Israel tidak pernah terlaksana karena TUHAN selalu bekerja lewat Nabi Elisa untuk memberitahu jalan yang boleh atau yang tidak boleh dilewati. Tahu bahwa rencananya selalu gagal dan nabi Elisa biang keroknya membuat raja aram menjadi kesal dan memerintahkan untuk menangkap Elisa. Tidak tanggung-tanggung, untuk menangkap Elisa raja aram mendatangkan suatu pasukan besar yang disertai dengan kereta perang dan kuda. Kota tempat Elisa akhirnya dikepung, dan kalau terjadi sebuah kota sampai terkepung maka peluang untuk kabur juga sangat kecil.

Melihat kotanya sudah dikepung pembantu Elisa ketakutan. Tetapi Elisa menjawab : tidak usah takut. Karena lebih banyak yang menyertai kita dari pada yang menyertai mereka. Pembantunya tentu saja tidak bisa percaya sehingga akhirnya Tuhan membuka mata pembantunya dan baru ia lihat sendiri bahwa di sekeliling Elisa penuh dengan kuda dan kereta berapi.

Tuhan membela setiap orang yang ada di pihaknya. Artinya di pihak-Nya adalah orang yang hidup mengikuti kehendak TUHAN. Ketika orang itu terancam maka TUHAN akan hadir menjadi pembela. Tetapi pembelaan TUHAN unik. Ia membiarkan pihak lain merasa di atas angin. Ia membiarkan mereka merasa sudah menang. Tetapi lalu Ia tunjukkan kekuatan-Nya.

Berarti 2 hal yang kita renungkan adalah: pertama di pihak mana saat ini kita berada? Kalau kita ingin ada di pihak TUHAN, apakah hidup kita menunjukkan bahwa kita taat? Apakah perkataan kita menunjukkan kita anak TUHAN? Kalau jawabannya tidak mungkin ini jadi peringatan dini untuk segera berpindah sebelum terlambat.

Kedua: kalau saat ini kelihatannya belum ada pertolongan dan kelihatannya pihak yang berseteru dengan kita hampir menang, tidak perlu kuatir. Karena itu belum berarti TUHAN kalah. Semuanya soal waktu. Waktu Tuhan beda dengan waktu kita. Kalau bagi kita air di leher itu sudah terlambat  maka bagi Tuhan air di hidung pun belum terlambat.

Kadang kita lelah menjalani hidup. Begitu banyak tebing yang harus kita daki dan begitu banyak lembah curam yang harus kita turuni. Dan dalam proses itu kita mulai ditinggalkan oleh orang-orang yang dulu dekat dengan kita. Tetapi kita diingatkan bahwa Tuhan menjadi sahabat tanpa melihat apakah kita pantas dijadikan sahabatnya. Tuhan mendekati kita tanpa mencari alasan apakah kita pantas untuk didekati. Selama kita ada di pihak-Nya maka Ia akan berjalan bersama-sama kita.

Jika tidak ada orang yang mau menemani kita mendaki tebing tinggi, Tuhan mengulurkan tangan-Nya untuk kita genggam. Jika tidak ada orang yang mau bersama-sama kita menuruni lembah curam, Tuhan menawarkan diri-Nya untuk bersama-sama kita menuruni lembah itu. Jika ada begitu banyak orang yang mengepung kita dan siap mencelakakan kita, maka TUHAN mengingatkan bahwa yang menyertai kita jauh lebih banyak dari yang menyertai orang-orang itu.

Ketika Tuhan menjadi sahabat dalam hidup kita, kecemasan kita Ia singkirkan. Karena Ia ada untuk menyertai kita, amin.