Menunggu yang tidak membosankan

Kisah Rasul 1 : 14
1:14 Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus.
Seorang pegawai ditempatkan di daerah kerja yang baru dan masih belum memiliki apapun untuk menunjang pekerjaannya. Sebelumnya dia dijanjikan akan disediakan berbagai fasilitas untuk membantu kelancaran pekerjaannya. Begitu tiba di tempat kerjanya yang baru, pegawai ini tidak melakukan kegiatan apapun. Malah masyarakat yang datang untuk meminta pelayanannya ditolak dengan alasan bahwa belum ada fasilitas. Dan ternyata semua fasilitas yang dijanjikan baru tiba setelah 1 tahun pegawai itu berada di tempat kerja barunya. Sehingga selama 1 tahun tidak ada pelayanan bagi masyarakat sekitar.
Kita bicara soal memulai dengan yang benar. Pegawai tadi berpikir bahwa jika disuruh untuk menunggu berarti dia benar-benar akan menunggu sampai apa yang dijanjikan itu dipenuhi. Dan selama melakukan hal itu tidak ada satupun kegiatan yang dilakukan. Tetapi untunglah para murid Tuhan Yesus memilih yang benar. Mereka dijanjikan akan menerima kuasa dari Roh Kudus yang memampukan mereka menjadi saksi, tetapi selama janji itu belum mereka terima, mereka tidak bersikap pasif atau cuma menunggu saja.
Kesaksian dalam Kisah Rasul 1 : 14 menyatakan kegiatan yang dilakukan oleh murid-murid termasuk ibu dan sahabat-sahabat Yesus adalah mereka bertekun dengan sehati dalam doa bersama. Setelah kembali ke Yerusalem, murid-murid masih belum punya ide untuk melakukan apapun sehubungan dengan tugas kesaksian yang Yesus berikan sebelum naik ke surga. Ini disebabkan karena memang Roh Kudus belum mereka terima. Tetapi sekalipun demikian mereka tetap berusaha untuk memelihara persekutuan mereka.
Menjadi saksi adalah satu hal yang baru bagi murid-murid, apalagi mereka harus menyaksikan seseorang yang tidak bisa mereka buktikan keberadaannya. Namun sekalipun mereka belum menerima kuasa dari Roh Kudus, kelompok ini mampu memulai dengan yang benar yaitu mereka mempererat persekutuan di antara mereka sehingga persekutuan mereka tidak sampai jadi dingin seperti yang biasa terjadi dalam kelompok yang baru saja kehilangan pemimpin.
Seringkali kita menunda untuk mulai menjadi saksi bagi Tuhan hanya karena kita masih aktif kerja, karena masih sibuk, karena masih banyak urusan dan berbagai macam alasan lain. Kita pun suka beralasan bahwa kita belum siap. Padahal justru selama kita belum benar-benar terlibat dalam suatu kegiatan khusus dalam pelayanan itulah kesempatan yang dapat kita gunakan untuk memulai dengan yang benar.
Jika sampai saat ini kita belum dipercayakan suatu tugas khusus, itu bukan halangan untuk tidak menjadi saksi. Belajar dari para murid yang walaupun saat itu mereka belum menerima kuasa dari Roh Kudus, namun mereka berusaha untuk memulai dengan yang benar yaitu membangun persekutuan yang sehati.
Disadari atau tidak ketika mereka memilih untuk tetap memelihara persekutuan dan hubungan yang baik dengan sesama saudara dan dengan Tuhan, sekalipun Roh Kudus belum diberikan bagi mereka, maka saat itu mereka telah memberi diri mereka untuk dibentuk dan dipersiapkan hingga tiba saatnya mereka akan memberi hidupnya total untuk menjadi saksi bagi Tuhan.
Menjadi saksi bukan menunggu dengan pasif sampai kita digerakkan oleh suatu kuasa yang hebat sehingga kita mampu berkotbah atau melakukan hal-hal luar biasa lainnya. Menjadi saksi adalah lewat hidup kita, kita membuat orang lain dapat mencintai Tuhan.
Ini yang namanya sekali merengkuh dayung, 2-3 pulau terlampaui. Dengan memilih untuk memulai yang benar yaitu memelihara persekutuan dengan Tuhan dan dengan sesama maka 2 hal kita dapatkan yaitu: hubungan yang baik dengan Bapa di dalam Yesus dan kesaksian hidup yang dapat dilihat oleh orang lain. Sehingga walaupun kita tidak secara khusus melayani dalam pelayanan gereja tertentu tetapi kita mampu untuk membuat orang lain mengenal dan mencintai Yesus lewat hidup kita. Karena lewat hidup kita orang lain bisa melihat bahwa dengan memiliki Yesus dalam hidup itu suatu keuntungan besar bagi orang yang percaya kepada-Nya. Amin.

Tuhan membela setiap orang yang ada di pihak-Nya

2 Raja-raja 6 : 15 – 17

6:15 Ketika pelayan abdi Allah bangun pagi-pagi dan pergi ke luar, maka tampaklah suatu tentara dengan kuda dan kereta ada di sekeliling kota itu. Lalu berkatalah bujangnya itu kepadanya: “Celaka tuanku! Apakah yang akan kita perbuat?”
6:16 Jawabnya: “Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita dari pada yang menyertai mereka.”
6:17 Lalu berdoalah Elisa: “Ya TUHAN: Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat.” Maka TUHAN membuka mata bujang itu, sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa. 

Rencana bangsa Aram atau Siria untuk menghadang Israel tidak pernah terlaksana karena TUHAN selalu bekerja lewat Nabi Elisa untuk memberitahu jalan yang boleh atau yang tidak boleh dilewati. Tahu bahwa rencananya selalu gagal dan nabi Elisa biang keroknya membuat raja aram menjadi kesal dan memerintahkan untuk menangkap Elisa. Tidak tanggung-tanggung, untuk menangkap Elisa raja aram mendatangkan suatu pasukan besar yang disertai dengan kereta perang dan kuda. Kota tempat Elisa akhirnya dikepung, dan kalau terjadi sebuah kota sampai terkepung maka peluang untuk kabur juga sangat kecil.

Melihat kotanya sudah dikepung pembantu Elisa ketakutan. Tetapi Elisa menjawab : tidak usah takut. Karena lebih banyak yang menyertai kita dari pada yang menyertai mereka. Pembantunya tentu saja tidak bisa percaya sehingga akhirnya Tuhan membuka mata pembantunya dan baru ia lihat sendiri bahwa di sekeliling Elisa penuh dengan kuda dan kereta berapi.

Tuhan membela setiap orang yang ada di pihaknya. Artinya di pihak-Nya adalah orang yang hidup mengikuti kehendak TUHAN. Ketika orang itu terancam maka TUHAN akan hadir menjadi pembela. Tetapi pembelaan TUHAN unik. Ia membiarkan pihak lain merasa di atas angin. Ia membiarkan mereka merasa sudah menang. Tetapi lalu Ia tunjukkan kekuatan-Nya.

Berarti 2 hal yang kita renungkan adalah: pertama di pihak mana saat ini kita berada? Kalau kita ingin ada di pihak TUHAN, apakah hidup kita menunjukkan bahwa kita taat? Apakah perkataan kita menunjukkan kita anak TUHAN? Kalau jawabannya tidak mungkin ini jadi peringatan dini untuk segera berpindah sebelum terlambat.

Kedua: kalau saat ini kelihatannya belum ada pertolongan dan kelihatannya pihak yang berseteru dengan kita hampir menang, tidak perlu kuatir. Karena itu belum berarti TUHAN kalah. Semuanya soal waktu. Waktu Tuhan beda dengan waktu kita. Kalau bagi kita air di leher itu sudah terlambat  maka bagi Tuhan air di hidung pun belum terlambat.

Kadang kita lelah menjalani hidup. Begitu banyak tebing yang harus kita daki dan begitu banyak lembah curam yang harus kita turuni. Dan dalam proses itu kita mulai ditinggalkan oleh orang-orang yang dulu dekat dengan kita. Tetapi kita diingatkan bahwa Tuhan menjadi sahabat tanpa melihat apakah kita pantas dijadikan sahabatnya. Tuhan mendekati kita tanpa mencari alasan apakah kita pantas untuk didekati. Selama kita ada di pihak-Nya maka Ia akan berjalan bersama-sama kita.

Jika tidak ada orang yang mau menemani kita mendaki tebing tinggi, Tuhan mengulurkan tangan-Nya untuk kita genggam. Jika tidak ada orang yang mau bersama-sama kita menuruni lembah curam, Tuhan menawarkan diri-Nya untuk bersama-sama kita menuruni lembah itu. Jika ada begitu banyak orang yang mengepung kita dan siap mencelakakan kita, maka TUHAN mengingatkan bahwa yang menyertai kita jauh lebih banyak dari yang menyertai orang-orang itu.

Ketika Tuhan menjadi sahabat dalam hidup kita, kecemasan kita Ia singkirkan. Karena Ia ada untuk menyertai kita, amin.

Dikasih Gratis bukan untuk dijual donk..!!

1 Korintus 12 : 1 -11
12:1. Sekarang tentang karunia-karunia Roh. Aku mau, saudara-
saudara, supaya kamu mengetahui kebenarannya.
12:2 Kamu tahu, bahwa pada waktu kamu masih belum mengenal Allah,
kamu tanpa berpikir ditarik kepada berhala-berhala yang bisu.
12:3 Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada
seorangpun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat
berkata: “Terkutuklah Yesus!” dan tidak ada seorangpun, yang
dapat mengaku: “Yesus adalah Tuhan”, selain oleh Roh Kudus.
12:4 Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh.
12:5 Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan.
12:6 Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu
yang mengerjakan semuanya dalam semua orang.
12:7 Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk
kepentingan bersama.
12:8 Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk
berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang
sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan.
12:9 Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan
kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan.
12:10 Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan
mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk
bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia
untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang
seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan
bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk
menafsirkan bahasa roh itu.
12:11 Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang
sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara
khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.

Suatu saat saya lewat di depan jajaran ruko di daerah kelapa gading dan mata saya langsung terkunci pada tulisan di billboard sebuah ruko: Karunia Penyembuhan lalu ada 2 nama yang tercantum di situ seperti nama pada firma-firma hukum. Rasanya aneh kalau orang mengumumkan karunia yang dimilikinya lalu karunia itu dapat dimiliki oleh orang-orang yang berkunjung ke ruko itu. Kalau begitu tidak salah jika dianggap karunia itu diperjualbelikan. Ini jadi tidak masuk akal jika disebut karunia tetapi untuk mendapatkannya orang musti membayar. Berarti sumber karunia itu perlu dipertanyakan. Kalau dari dukun mungkin namanya bukan karunia karena dari dukun sudah pasti dibeli. Tapi kalau dari Roh Kudus berarti gratis, tapi kok bisa-bisanya dijual? Jika kita memiliki suatu kemampuan karena belajar, maka minta bayaran tidak masalah tetapi kalau kemampuan itu dapatnya gratis, maka kalau minta bayaran itu uang haram alias nyuri.
Renungan ini mengambil bahan dari 1 Korintus 12 : 1 -11 yang isinya adalah penjelasan Paulus tentang karunia-karunia Roh kepada jemaat di Korintus. Paulus mengawali penjelasannya dengan mengatakan “aku mau supaya kamu mengetahui kebenarannya.” Berarti saat itu mungkin sudah tersebar ajaran-ajaran yang keliru mengenai karunia Roh. Paulus menegaskan Roh Allah tidak mungkin mengatakan 2 hal yang bertentangan. Roh itu cuma satu namun Ia dapat memberikan karunia yang berbeda kepada setiap orang. Dan semua karunia yang berbeda itu diberikan untuk melayani Tuhan yang cuma satu. Karunia itu diberikan berdasarkan kemauan Roh Allah bukan karena seorang memenuhi syarat untuk mendapatkannya.
Jadi pemahaman mengenai karunia Roh adalah:

1.Sumber karunia itu cuma 1 yaitu Roh Allah (ay.3,4)
2.karunia yang diberikan itu tidak sama seorang dengan yang lain.
(ay.8-10)
3.tujuan pembedaan itu adalah supaya semua bekerja bersama. (ay.7)
4.dasar diberikannya karunia itu adalah menurut kemauan Roh.(ay.11)
Dengan demikian kita tidak bisa menganggap bahwa karunia yang kita miliki itu membuat kita menjadi lebih penting dari orang lain. Atau membuat kita ingin menonjol dari yang lain. Lebih parah lagi kalau karunia itu diiklankan dan dikutip bayaran.
Tapi bagaimana dengan orang yang misalnya memperjualbelikan karunia tetapi tokcer? Tentu saja iblis punya kerjaan. Iblis akan membuat karunia yang disebut itu tokcer karena dengan memperjualbelikan karunia maka nama Tuhan tidak lagi dimuliakan. Dan iblis senang jika itu terjadi.
Dan Itu sebabnya kenapa sebaiknya kalau menyanyi di gereja itu tidak di depan atau menghadap ke jemaat, supaya jangan motivasi yang nyanyi salah, karena kalau motivasinya salah yang senang dan tepuk tangan itu iblis sekalipun lagunya lagu rohani. Kenapa tidak perlu bertepuk tangan setelah selesai sebuah persembahan pujian bukannya tidak menghargai tetapi semata-mata supaya motivasi kita dalam mempersembahkan pujian tidak salah dan malah memuliakan iblis. Karena saat itu konteksnya bukan sedang di acara resepsi pernikahan atau di kafe melainkan sedang dalam ibadah.
Kita menerima karunia yang berbeda supaya kita bisa melayani Tuhan dengan cara yang berbeda. Dan kita diberikan karunia bukan karena kita pantas menerimanya melainkan karena itu kemauan Roh Kudus yang bebas.
Setiap karunia yang kita terima itu ibarat 1 bagian puzzle. Kalau cuma 1 saja kita tidak tahu apa gambarnya. Atau dari 1 bagian kecil saja tidak mungkin tergambar seluruh bagian puzzle. Supaya ketahuan gambarnya maka seluruh bagian puzzle itu harus disatukan tetapi juga tidak asal disatukan begitu saja, melainkan dengan teratur dan pakai mikir. Jadi apapun karunia yang kita punya, waktu diberikan ada tujuannya. Tetapi kadang karena satu bagian ingin menonjol sendiri sehingga dia tidak mau bergabung dengan yang lainnya atau mencari potongan yang bukan gambarnya. Bukannya jadi bagus malah jadi hancur atau juga tidak jadi.
Karena itu kenali karunia apa yang Tuhan berikan bagi kita lalu pahami bahwa kita dapatkan itu bukan untuk hebat-hebatan melainkan agar dipadukan dengan karunia yang lain. Minta kepada Tuhan untuk membuat kita mampu melihat kebutuhan orang-orang disekeliling kita sehingga karunia yang kita miliki bisa dipakai untuk memuliakan nama Tuhan. Karena sebenarnya Tuhan memberikan kita pertambahan hari-hari hidup sampai saat ini adalah supaya kita menjadikan diri kita jalan berkat Tuhan bagi orang lain yang memerlukan, amin.

YHWH atau Bapa?

April 25, 2009 1 komentar
Penjelasan berikut akan bikin merah kuping tapi tenang aja karena saya ga lagi sedang marah-marah kok…cuma suka sebel kalau ada orang ngajak orang lain untuk mempersoalkan hal-hal yang ga penting sama sekali……
untuk kata Yahwe…
Tidak  usah yang kayak gitu diribetin karena tidak membangun iman kita karena sebenarnya kata yahwe pun belum tentu benar. kenapa?
Alasan pertama karena huruf  ibrani itu ga ada huruf hidupnya dan ketika TUHAN Allah menyatakan nama-Nya hanya dipakai 4 huruf ibrani yaitu YHWH tanpa huruf hidup artinya yang punya nama saja tidak kasih tahu bagaimana cara baca nama-Nya, ngapain juga diusahain. Lembaga Alkitab Indonesia sudah sangat bijak dengan menyalin YHWH dalam huruf besar TUHAN. seharusnya kita yang ada dalam budaya timur ini malah lebih bisa ngerti soal penyebutan nama seorang yang dihormati. contoh: kalau masih kecil kita memang bisa memanggil nama kecil seseorang tetapi makin lama nama kecil tidak lagi dipakai, dan semakin seorang dihormati maka rasa segan itu ditunjukkan lewat menyapa dengan memakai gelar. jadi kalau dulu dipanggil Iyem karena namanya Sariyem lalu  karena sekarang sudah jadi ibu menteri atau ibu guru maka memanggil nama dianggap tidak hormat. yang paling pantas adalah menyebut gelar yang dimiliki misalnya Bu Guru atau Bu Menteri,  begitu juga dengan TUHAN (YHWH). Bapak kita di rumah aja tidak kita panggil namanya begitu saja melainkan ada sebutan papa, bapak atau ama kan? jadi kenapa  dengan TUHAN kita pingiiiiiin sekali manggil nama-Nya bulet-bulet itu kan namanya lancang?? jadi yang Tuhan Yesus ajarkan itu sudah benar: sapalah dengan Bapa di Surga.
Alasan berikutnya: mana yang lebih baik: kita sapa YHWH tetapi yang punya nama enggan untuk nengok karena kita ga sopan atau kita sapa Bapa tetapi TUHAN berkenan untuk memandang kita karena kita sopan.
Alasan berikutnya: iblis itu senang kalau TUHAN Allah tidak dihormati jadi waktu ada orang yang getol banget untuk menyapa Bapa sebagai YHWH yang jingkrak-jingkrak itu iblis.
Alasan berikutnya: kalau saya panggil seorang ibu dengan nama saja hei Yanti! itu tandanya saya menempatkan ibu itu sejajar dengan saya atau seolah-olah kita ini teman sepantaran. demikian juga ketika kita menyebut YHWH! prinsip tadi juga berlaku. dan tolong ingat hawa sampai makan buah pengetahuan baik dan jahat karena ia ingin sama dengan TUHAN Allah. jadi saat kita menyamakan kedudukan bukankah kita sudah punya keinginan seperti hawa? maka iblis menang lagi.
Alasan berikutnya: mendebatkan istilah sampai habisin waktu itu mempengaruhi iman ga? kalau iman jadi berkembang karena bahas istilah-istilah, ya.. silahkan tetapi kalau waktu habis dan iman cuma begitu-begitu aja mending ke laut kali ya…. :-)
 
Jadi jangan mudah percaya pada buku….atau orang-orang yang menyarankan buku-buku tertentu..  tanyain dulu orang itu sekolah teologi ga? kalau cuma tahunya baca doang mending sekolah dulu kali ya…..
 
Agak pedes ya???? ini cuma karena gregetan sama orang yang suka bahas hal-hal yang ga penting dan ga membangun iman kayak gitu. mending urus diri dan keluarga supaya jangan sampe lancang nyebut Bapa dengan nama kayak temen….dikirain udah paling bener tahu-tahu selama itu dia nyenengin iblis dan waktu mati masuk neraka.

Mengampuni Sahabat

Bahan Alkitab: Ayub 42:10.

“Lalu TUHAN memulihkan keadaan Ayub, setelah ia meminta doa untuk sahabat-sahabatnya, dan TUHAN memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu.”

 

Lebih baik sakit gigi dari pada sakit hati hanya berlaku kalau pas lagi sakit hati.  Seperti kalau dikhianati sahabat yang selama ini makan sepiring, tidur seranjang baik lewat perbuatannya atau ucapannya. Apalagi kalau merasa tidak melakukan salah tapi dituduh berbuat macam-macam oleh sahabat sendiri yang parahnya lagi merasa diri sudah paling benar.

            Itulah yang dialami Ayub ketika Ia mengalami pencobaan atas kesalehannya. Sahabat-sahabatnya memang mengunjunginya dan (berniat) menghiburnya. Tetapi percakapan mereka justru mengarah pada usaha untuk mengingatkan Ayub akan dosa-dosanya. Keadaan Ayub seperti: sudah jatuh tertimpa tangga, ketiban tembok. Tapi ketika masa sulit itu lewat, ketika segala yang dulu pernah hilang kembali dimiliki, ketika ada kesempatan untuk membalas yang Ayub lakukan justru memohon pengampunan TUHAN atas sahabat-sahabtanya itu.

Ketika sahabat mengkhianati atau menyakiti bahkan meninggalkan kita terutama saat kita membutuhkan dukungan mereka, teladan Ayub adalah sekalipun ada kesempatan untuk membalas, tidak perlu diambil. Karena justru saat sahabat tidak dapat menjadi sahabat kita bisa belajar menghargai Yesus sebagai Sahabat Sejati.

Tidak ada yang lebih baik antara sakit gigi dan sakit hati tapi  yang jelas dua-duanya sakit dan dua-duanya ada obatnya.

Categories: Kumpulan Renungan

Mengampuni Orang Tua

April 18, 2009 4 komentar

Bahan Alkitab : Keluaran 20:12.

“Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu. “

 

Coba periksa baik-baik siapa tahu ada catatan kaki atau nb yang terselip di perintah kelima ini. Dapat? Tidak? Coba cari lagi, mungkin terlewat! Tidak ketemu juga?  Maaf sebelumnya tapi kalau begitu apapun keadaan orang tua kita yang bisa kita lakukan hanya satu hal : menghormati mereka titik!  Surga bukan di telapak kaki ibu (saja) karena dalam Alkitab tidak menyebutkan hal itu. Alkitab mengingatkan untuk menghormati ayah dan ibu tidak ada pakai pilih-pilih dan kriteria lain. Mereka dihormati karena mereka orang tua.

Ketika mereka menempuh jalan yang salah bukan berarti mereka dibentak, dimaki-maki, disumpah-sumpahin. Justru ketika kita tahu mereka salah, menjadi tugas kita untuk mendoakan orang tua kita agar Tuhan menolong mereka menyadari kesalahan yang telah dilakukan.

Ketika kita merasa mereka menyakiti hati kita, yang harus dilakukan adalah mengampuni mereka. Kenapa harus mengampuni orang tua yang sudah menyakiti hati kita? Karena yang kita sebut menyakiti hati, mereka sebut demi kebaikan. Yang kita sebut melukakan hati, mereka sebut kasih sayang. Satu hal yang tidak bisa disangkal adalah sekalipun pangkat dan gelar kita berbaris di depan dan belakang nama kita tetap saja orang tua yang memiliki pengalaman hidup yang tidak bisa kita samai dalam usia kita. Jalan yang saat ini kita lewati adalah jalan yang dulu pernah mereka lalui sehingga mereka dapat memberi tahu kita di mana ada lubang, tanjakan, belokan, atau jalan yang rata.

            Kalau ada nb di perintah ke-5 silahkan berikan syarat ketika mengampuni kedua orang tua yang telah membuatmu melihat dunia.

Categories: Kumpulan Renungan

Sang Raja Damai

Yohanes 12 : 12 – 19

 

12:12. Keesokan harinya ketika orang banyak yang datang merayakan pesta mendengar, bahwa Yesus sedang di tengah jalan menuju Yerusalem,

12:13 mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru-seru: “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!”

12:14 Yesus menemukan seekor keledai muda lalu Ia naik ke atasnya, seperti ada tertulis:

12:15 “Jangan takut, hai puteri Sion, lihatlah, Rajamu datang, duduk di atas seekor anak keledai.”

12:16 Mula-mula murid-murid Yesus tidak mengerti akan hal itu, tetapi sesudah Yesus dimuliakan, teringatlah mereka, bahwa nas itu mengenai Dia, dan bahwa mereka telah melakukannya juga untuk Dia.

12:17 Orang banyak yang bersama-sama dengan Dia ketika Ia memanggil Lazarus keluar dari kubur dan membangkitkannya dari antara orang mati, memberi kesaksian tentang Dia.

12:18 Sebab itu orang banyak itu pergi menyongsong Dia, karena mereka mendengar, bahwa Ia yang membuat mujizat itu.

12:19 Maka kata orang-orang Farisi seorang kepada yang lain: “Kamu lihat sendiri, bahwa kamu sama sekali tidak berhasil, lihatlah, seluruh dunia datang mengikuti Dia.”

 

                  Coba cari lukisan 8 keledai sedang berlari. Pasti tidak akan ketemu. Karena hanya kuda yang jumlahnya 8 yang akan dilukis sedang berlari. Kuda itu lambang kegagahan, keperkasaan, kekuatan, ketangkasan dan kemenangan. Sehingga jika dipajang di dalam rumah atau ruang usaha diharapkan hidup atau usahanya akan jaya dan kuat selamanya.

                  Orang juga tidak akan tertarik jika anda pasang iklan: dijual susu keledai liar. Tapi sekalipun itu susu kedele tapi kalo iklannya susu kuda liar pasti orang tertarik untuk beli. Sekali lagi itu karena anggapan umum bahwa kuda itu hewan perkasa jadi kalau minum susu kuda liar pasti jadi perkasa.

                  Sejak jaman dulu kuda adalah bagian dari perlengkapan perang di samping kereta, tombak, perisai, baju perang dan lain-lain. Dalam peperangan biasanya raja akan turun sebagai pemimpin peperangan dan jika raja berhasil memenangkan peperangan maka ia akan kembali ke wilayahnya dengan menunggangi kuda lalu disambut oleh rakyat yang memujanya.

                  Tetapi peristiwa Yesus masuk ke Yerusalem menjadi peristiwa yang unik karena memang Yesus menunggangi hewan dan disambut dengan arak-arakkan, sehingga berarti Ia menyatakan bahwa diri-Nya adalah Raja Israel. Hanya saja ada yang tidak biasa pada hewan yang ditunggangi oleh Yesus. Yesus tidak menunggangi seekor kuda yang perkasa, tidak terkalahkan, kuat, yang biasa maju dalam pertempuran dan melihat pertumpahan darah. Melainkan Ia menunggangi seekor keledai tapi bukan keledai tua atau keledai liar melainkan keledai muda, yang belum berpengalaman dan cenderung lemah.

                  Sekalipun peristiwa ini ganjil tetapi Yesus menggenapi nubuat nabi Zakaria dalam Zakaria 9:9 “Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.”  Hampir 600 tahun Israel menunggu nubuat nabi Zakaria ini digenapi dan hari itu semua orang bisa menyaksikan penggenapannya. Bahkan orang-orang Farisi pun mulai saling mempersalahkan dan mengakui kegagalan mereka karena pengaruh mereka justru memudar di hadapan orang banyak yang mengikut dan menyambut Yesus. Mereka mengatakan bahwa seluruh dunia datang mengikut Yesus karena memang saat itu di Yerusalem sedang berkumpul orang-orang Yahudi dari seluruh dunia yang akan merayakan paskah.

                  Sebenarnya pantang bagi seorang raja untuk menunjukkan sisi lemahnya dan ketika Yesus menunjukkan kelembutan dan kedamaian tentunya Ia akan dianggap sebagai memperlihatkan sisi lemah seorang Raja. Yesus masuk ke Yerusalem dengan menyatakan diri sebagai Raja Israel tetapi seperti yang ditunjukkan oleh hewan yang ditunggangi-Nya, Yesus tidak menunjukkan kekuatan dan kekuasaannya sebagaimana lazimnya seorang raja. Dan itulah tujuan Yesus. Ia mau mengumumkan kepada semua orang yang melihat dan menyambut-Nya bahwa Ia adalah Raja Damai. Kekuasaan-Nya tidak diperoleh lewat perang atau pertumpahan darah melainkan lewat jalan damai.

                  Jika Yesus saja menunjukkan kerendahan, kenapa kita rebutan ingin menunjukkan bahwa kita yang paling berkuasa? Jika Yesus saja menunjukkan kedamaian kenapa kita mengusahakan segala cara supaya mempertahankan perang? Jika Yesus saja menunjukkan kelembutan kenapa kita merasa hebat dengan kekasaran dan ketidaksopanan kita? Jika Yesus saja menunjukkan kebaikan yang tulus kenapa kita masih saja suka menyimpan motivasi lain di balik kebaikan kita?

                  Tujuan kehadiran Yesus di dunia ini yang paling utama bukan mendamaikan manusia dengan manusia, melainkan mendamaikan manusia dengan Bapa. Ketika hubungan manusia dengan Bapa pulih, maka Bapa akan menolong setiap orang untuk berdamai dengan diri sendiri dan orang lain. Jika kita menerima Yesus sebagai Juru damai bagi hubungan kita dengan Bapa,  maka pulihnya hubungan kita dengan Bapa akan menular sampai pada pulihnya hubungan kita dengan sesama: dengan orang tua, dengan suami, dengan istri, dengan kekasih, dengan anak, dengan saudara, dengan rekan sepelayanan, dengan orang yang memusuhi kita.

                  Dari mana kita bisa tahu atau mendapat bukti bahwa hubungan kita dengan Bapa sudah pulih? Buktinya dapat dilihat dari hubungan kita dengan sesama. Singkatnya begini: Yesus hadir untuk memulihkan hubungan manusia dengan Bapa. Ketika hubungan itu dipulihkan maka manusia akan dibantu untuk memulihkan hubungannya dengan sesama. Sehingga kalau ingin tahu apakah hubungan seorang dengan Bapa sudah pulih dapat terlihat dari pulihnya hubungan dengan sesama.

                  Yesus menjadi Juru damai untuk mengembalikan kasih yang ada dalam manusia itu hanya tertuju pada Bapa. Oleh karena dosa, kasih yang ada dalam diri manusia tidak lagi 100% tertuju pada Bapa melainkan pada diri sendiri, pada harta benda, pada jabatan, pada orang-orang tertentu, dll. Dengan dipulihkannya hubungan ini maka manusia bisa kembali mengasihi Bapa dengan segenap hati. Dan wujud kasih kita pada Bapa nampak dalam kasih kepada manusia. Sampai tahap ini tidak ada lagi orang yang iri,  yang sirik, yang serakah, yang suka merencanakan kejahatan, yang munafik, yang keras hati, yang tidak tulus, yang gila hormat, yang tinggi hati. Artinya jika sampai saat ini semua keadaan itu masih ada dalam diri kita (jangan tunjuk atau lihat orang lain), maka status kita perlu dipertanyakan lagi: apakah benar kita adalah pengikut Kristus, apakah Yesus menjadi satu-satunya Juruselamat dalam hidup kita? Amin.

Categories: Kumpulan Renungan
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.