Tuhan memulihkan karena Kasih

Bahan Bacaan : Yehezkiel 36: 33 – 38

Kalau sampai ada anak yang karena nakalnya terusir dari rumah biasanya bukan kenakalan anak itu yang akan dibicarakan orang melainkan orang tuanya. Orang tuanya yang akan dianggap gagal, tidak mampu, tidak pantas jadi orang tua. Sehingga dari pada orang tua itu harus menjelaskan kepada setiap orang mengenai keputusannya untuk menghukum anaknya lebih baik anaknya sendiri yang dipanggil pulang ke rumah, diajak berbicara, dipulihkan keadaannya, dikasihi, disayangi dengan harapan dia akan berubah menjadi baik. Orang tua tentu lakukan hal ini bukan terutama untuk anak itu melainkan untuk memulihkan nama baiknya dan membuktikan bahwa ia dapat menjadi orang tua yang berhasil mendidik anaknya.

Dalam dunia kuno (bahkan sampai saat ini) juga demikian, kalau sebuah bangsa mengalami banyak musibah atau bahkan sampai dijajah oleh bangsa lain itu menandakan bahwa dewa mereka adalah dewa yang tidak dapat diandalkan sehingga sangat tidak pantas untuk disembah sebagai dewa.

Sehingga ketika TUHAN Allah menghukum Israel dengan membuang mereka dari tanah milik mereka dan Yerusalem serta tempat ibadah di dalamnya TUHAN Allah biarkan dihancurkan oleh bangsa Babel, maka nama TUHAN Allah-lah yang kemudian menjadi buruk. Oleh penduduk Babel dan bangsa-bangsa lain TUHAN Allah Israel dianggap sebagai TUHAN Allah yang tidak mampu menjadi Allah oleh karena tidak bisa melindungi umat-Nya dari serangan sehingga mereka harus kalah dan keluar dari tanahnya.

Jadi alasan TUHAN Allah memulihkan bukan karena Israel istimewa melainkan karena bermula dari Israel tidak setia lalu dihukum dengan diserakkan di antara bangsa2 tapi kemudian keluarnya mereka dari tanah mereka sendiri malah membuat nama TUHAN dipermalukan karena seolah2 menjadi TUHAN  yang tidak mampu melindungi dan menjaga umat-Nya (20) sehingga TUHAN Allah mengambil keputusan yang sebenarnya sangat sulit yaitu memulihkan Israel. Untuk itu berulang kali nabi diperintahkan untuk berkata bahwa pemulihan itu terjadi bukan terutama karena dan untuk Israel melainkan semata-mata supaya semua orang tahu kemampuan Allah Israel.

TUHAN memulihkan keadaan dan hati Israel sehingga menjadi umat yang taat supaya bangsa-bangsa lain melihat kemahakuasaan dan kebesaran-Nya. sekalipun dikatakan bahwa TUHAN melakukan ini untuk memulihkan nama-Nya tetapi jika untuk itu TUHAN harus menerima kembali umat yang telah menyakiti hati-Nya, TUHAN harus membuat keadaan mereka bahkan lebih baik dari sebelumnya maka dasarnya harus karena kasih. Karena hanya kasih yang dapat membuat seorang melakukan hal-hal yang sulit untuk dilakukan.

Kasih yang memampukan seorang untuk melakukan hal-hal yang luar biasa diceritakan oleh seorang anak dalam kisah seperti ini: dia terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untuk dia. Sambil memindahkan nasi ke mangkuknya, ibu berkata : “Makanlah nak, aku tidak lapar” ———-

Ibunya berusaha memancing ikan supaya dapat memberi makanan yang bergizi lalu ia akan membuat sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu anak ini memakan sup ikan itu, ibu duduk di sampingnya dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang dia makan. Dia melihat ibu seperti itu, hatinya tersentuh, lalu menggunakan sumpit ia memberi sebagian ikan itu kepada ibunya. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan” —

Untuk membiayai sekolahnya dan saudaranya, ibunya pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, dia bangun dari tempat tidur, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Dia berkata :”Ibu, tidurlah, sudah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata :”Cepatlah tidur nak, aku tidak capek” ———-

Ketika waktu ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaninya pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika lonceng berbunyi menandakan ujian sudah selesai, Ibu dengan segera menyambut dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untuknya. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, dia segera memberikan gelasnya untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata : “Minumlah nak, aku tidak haus!” ———

Setelah ayahnya meninggal karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahnya pun membantu ibu baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan mereka yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibu untuk menikah lagi. Tetapi ibu berkata : “Saya tidak butuh cinta” ——-

Setelah anak-anaknya tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Anak-anaknya yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : “Saya punya uang” ——

Setelah lulus dari S1, dan melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika. Akhirnya laki-laki itu pun bekerja di perusahaan yang memberinya beasiswa. Dengan gaji yang lumayan tinggi, dia bermaksud membawa ibunya untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati,bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata “Aku tidak terbiasa” ——–

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, anaknya segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Dia melihat ibunya yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatapnya dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibu sehingga ibu terlihat lemah dan kurus kering. Sambil berlinang air mata ia memandang ibunya. Hatinya perih dan sakit sekali melihat ibunya dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : “Jangan menangis anakku, aku tidak kesakitan” ——

Setelah mengucapkan kata-katanya itu, ibu tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.

Hanya kasih yang bisa membuat seorang menyangkali diri dan perasaannya. Dan Ini-lah yang TUHAN Allah lakukan bagi kita. Melalui Yesus Kristus, TUHAN Allah menunjukkan apa arti kasih. Ia menerima kita kembali dan memulihkan kita sekalipun kita telah amat sangat menyakiti-Nya. Memang Ia lakukan semua itu untuk membuktikan kebesaran dan kemampuan-Nya. Tetapi Ia melakukan semua itu atas dasar kasih. Karena itu Ia tidak menunggu sampai kita menjadi orang yang 100% benar, ia tidak menunggu sampai kita jadi orang suci, ia memulihkan kita dalam keadaan kita masih berdosa supaya kita belajar menghargai arti Dia bertindak atas dasar kasih.

Pemulihan yang kita terima bukan karena kita telah berbuat baik, Kebaikan yang kita rasakan bukan karena kita istimewa, Pemeliharaan yang kita alami bukan karena kita pantas, Pengampunan yang dicurahkan bukan karena kita layak, Rejeki yang berlimpah bukan karena kita dianakemaskan melainkan karena TUHAN Allah tahu kita tidak bisa hidup tanpa diri-Nya sehingga dengan kasih Ia melakukan semua itu bagi kita, amin.

Forgive and Forget

Kita tidak bisa menghindar dari sakit hati dan amarah tetapi kita bisa membebaskan diri dari belenggu dendam jika kita bersedia mengampuni dan melupakan apa yang orang lain perbuat pada kita.  Dan setiap orang yang hidup di dalam Tuhan dan telah menerima pengampunan seharusnya bersedia untuk saling mengampuni dan melupakan dendam. Karena bukti seorang hidup di dalam Tuhan bukan pada asesoris rohani yang dikenakan melainkan pada sejauh mana hidupnya diubah oleh Tuhan yang dipercayai.

ini akan mengingatkan dan kalau bisa menggugah kita semua untuk bisa mengampuni dan melupakan segala kepahitan yang kita alami karena jika itu kita lakukan maka kita sebenarnya menolong diri kita sendiri, bukan orang lain.

Banyak orang berkata: pengampunan adalah ide yang sangat baik sampai ketika mereka harus mengampuni. Dan melupakan sepertinya tidak akan menjadi suatu akhir yang masuk akal dan yang diinginkan kalau kita sendiri yang harus melakukannya.

Tetapi kenapa kita harus mengampuni dan melupakan semua dendam dan amarah? Berikut ini alasannya:

  1. alasan kesehatan: penelitian belakangan membuktikan bahwa ketika seorang mengampuni dan melupakan maka ia akan menikmati tekanan darah yang lebih baik, sistem kekebalan tubuhnya lebih kuat, menurunkan hormon stress yang beredar di dalam darah. Sakit punggung, masalah dengan perut/pencernaan, sakit kepala akan hilang. Ketika seorang berhasil melakukannya akan mengurangi amarah, kepahitan, depresi dan emosi negatif lainnya.Itu sebabnya tadi dikatakan bahwa kalau kita mengampuni dan melupakan apa yang telah dilakukan seseorang pada kita maka kita sebenarnya bukan menolong orang itu melainkan menolong diri sendiri. Tetapi jika seorang berkeras untuk tidak mau mengampuni dan melupakan maka itu sama saja dengan dia mau mengatakan: selamat datang: tekanan darah tinggi, kekebalan tubuh yang melemah, hormon stress, sakit punggung, masalah pencernaan, dan sakit kepala. Comfort yourself inside me. Anggap aja tubuh saya ini seperti rumah sendiri…
  2. alasan rohani: dalam tubuh yang sakit tidak mungkin ada jiwa yang sehat. Ketika tubuh kita melemah karena menahan semua kepahitan, dendam dan amarah maka kita tidak mungkin bisa bersyukur dan menjalani hidup pemberian Tuhan dengan sukacita dan bahagia. Itu sebabnya dari sejak sekitar tahun 62 (bukan 1962) berarti 1947 tahun yang lalu, Paulus telah mengingatkan orang-orang Kristen di Kolose bahwa jika mereka mau supaya hidup mereka bisa dijalani dengan bahagia dan penuh syukur maka mau tidak mau mereka harus bisa saling mengampuni dan melupakan dendam antara satu dengan yang lain. Karena kalau tidak maka sebagai orang-orang yang telah hidup di dalam Tuhan, hidup mereka tidak akan menjadi berkat dan dengan begitu sia-sia saja mereka hidup. Lalu sekiranya mereka pikir mengampuni dan melupakan adalah hal yang mustahil bisa terjadi maka Paulus mengingatkan bahwa mereka adalah orang-orang yang telah menerima pengampunan dari Kristus. Dan orang yang telah mengalami pengampunan seharusnya menjadi orang yang bisa mengampuni dibandingkan dengan orang yang tidak pernah mengalami bagaimana rasanya diampuni.

Jadi keputusan apapun yang akan saudara-saudara dan saya buat, ingat bahwa kita melakukan itu semua untuk kebaikan diri sendiri. Semua yang dilakukan oleh orang tua, saudara, pasangan, sahabat, atasan, rekan kerja, rekan sepelayanan yang telah menyakiti hati kita dan membuat kita dipenuhi dengan rasa kecewa dan marah yang kemudian menjadi dendam, tidak bisa terus kita biarkan membelenggu kita dan membuat kita tidak bahagia. Mengampuni dan lalu melupakan bukan sebuah perkara yang mustahil dilakukan seperti yang dipikirkan oleh kebanyakan orang, karena hidup adalah anugerah yang tidak bisa diminta apalagi diulangi sehingga sangat sayang jika kita harus menjalaninya dengan tidak bahagia.

Ada sebuah cerita mengenai dua orang sahabat yang sedang berjalan melalui gurun pasir. Pada suatu kali dalam perjalanan itu, mereka bertengkar,dan salah seorang dari mereka menampar pipi yang lain. Orang yang mendapat tamparanpun terluka hatinya, tapi dengan tanpa mengatakan sepatah kata pun, ia menulis di pasir:

“HARI INI TEMAN BAIKKU MENAMPAR PIPIKU”

Mereka melanjutkan perjalanan sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka memutuskan untuk mandi di sana. Waktu itu orang yang menerima tamparan dan sakit hatinya, tenggelam dan temannya berhasil menyelamatkannya. Setelah pulih dari rasa takutnya, ia memahat di sebuah batu:

“HARI INI TEMAN BAIKKU MENYELAMATKAN NYAWAKU”.

Teman yang telah menampar dan menyelamatkan sahabatnya, bertanya,

“Mengapa setelah saya menyakitimu kamu menulis di pasir, dan sekarang kamu menulis di batu?”

Yang ditanya tersenyum dan menjawab:

“Saat seorang teman menyakiti kita,kita harus menuliskannya di pasir, dimana angin maaf akan bertugas menghapusnya, dan saat sesuatu yang hebat terjadi, kita harus memahatnya di batu kenangan di hati, dimana tidak ada angin yang dapat menghapusnya.”

Jadi  belajarlah untuk menulis di pasir.

Amin.

Mengucap Syukur ketika Bangkrut…

Filipi 4 : 4 – 7
4:4 Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan:
Bersukacitalah!
4:5 Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah
dekat!
4:6 Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi
nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa
dan permohonan dengan ucapan syukur.
4:7 Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan
memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus..

Seorang pendeta diminta untuk memimpin ibadah di rumah seorang pengusaha. Begitu pendetanya tiba, jemaat sudah banyak yang datang dan memenuhi tenda yang dipasang di depan rumah. Meja makan yang memang terlihat dari ruangan ibadah penuh makanan. Pendeta dan juga jemaat disambut dengan senyum yang ramah dari tuan rumah, istri dan anak-anaknya. Pendeta yang sudah cukup lama melayani ini sudah tahu ayat mana yang akan digunakan karena biasanya kalau pengucapan syukur dibuat besar-besaran seperti itu berarti usaha berhasil, pertambahan usia atau sembuh dari sakit parah. Seperti biasa, pendeta akan mendapat pokok doa untuk dibawakan dalam doa syafaat. Di pokok doa itu hanya ada sebaris kalimat: bersyukur untuk pemeliharaan Tuhan dalam usaha yang sedang bangkrut. Akhirnya pendeta kembali membuka alkitab untuk mencari ayat yang tepat untuk ibadah pengucapan syukur atas pemeliharaan Tuhan ketika usaha bangkrut.
Mungkin kisah seperti ini hampir tidak mungkin menjadi kenyataan. Biasanya lebih mudah untuk menghibur orang lain ketika kita sedang tidak ada masalah dan lebih mudah untuk membuat orang lain tertawa ketika hati kita sedang senang. Sebaliknya jika sedang sedih atau banyak masalah kita akan sangat menginginkan untuk dihibur dan dikuatkan bahkan cenderung menutup diri.
Jemaat Filipi cukup beruntung karena mereka diperkaya dengan kisah Paulus yang saat dalam penjara ia justru menulis surat dan meminta jemaat itu untuk bersukacita di dalam Tuhan. Permintaan ini seperti ini tentunya membuat jemaat heran karena yang bisa mereka bayangkan adalah Paulus meminta mereka mendoakan dia, Paulus meminta mereka untuk mendukung dia dalam pencobaannya. Tetapi yang mereka terima justru ajakan untuk bersukacita dalam Tuhan dari seorang yang sedang berada dalam penjara dengan akhir hidup yang tidak pasti.
Sebenarnya tidak berlebihan kalau Paulus meminta jemaat untuk melakukan kebaikan dengan mengusahakan dia keluar dari penjara, tetapi yang Paulus minta justru agar jemaat di kota Filipi terus berbuat baik kepada orang lain sehingga semua orang mengetahui kebaikan hati mereka.
Sebenarnya tidak berlebihan juga kalau menyampaikan kekuatirannya untuk diketahui jemaat tetapi justru ia meminta jemaat untuk tidak kuatir mengenai apapun juga melainkan menyampaikan segala hal pada Allah dengan ucapan syukur.
Sebenarnya tidak berlebihan kalau Paulus mengatakan bahwa dia tertekan, bimbang, tidak tenang dengan situasi dalam penjara. Tetapi Paulus justru menyatakan ketika seorang telah menyatu dengan Yesus maka hati dan pikirannya dipelihara dengan damai sejahtera yang tidak dapat dipikir oleh akal.
Bagi Paulus, seorang yang telah menyatu dengan Yesus tidak dapat dibuat kuatir dengan segala persoalan yang dihadapi di dunia ini. Kenapa karena ketika Yesus hidup di dalam diri seseorang maka ia tidak menjadi seperti seseorang kebingungan ketika melihat potongan puzzle di tangannya dan mencoba menebak gambarnya. Melainkan akan menjadi seorang yang yakin bahwa potongan puzzle di tangannya itu pasti bagian dari sebuah gambar yang indah.
Jika setiap orang yakin bahwa rancangan Tuhan dalam hidupnya pasti baik dan indah maka tentunya kita akan mampu menjalani setiap bagian hidup ini dengan tenang. Di tengah tantangan yang saat ini dihadapi, setiap orang yang percaya bahwa rancangan Tuhan adalah rancangan damai sejahtera, tidak akan dilemahkan oleh keadaan. Ketika phk besar-besaran terjadi di mana-mana, ketika lapangan kerja makin sulit dicari dan ketika biaya hidup makin mahal belum lagi biaya pendidikan anak-anak semua keadaan itu tidak akan melemahkan dan membuat orang percaya putus asa. Ketika semua pintu tertutup bagi kita dan kita percaya Tuhan menyediakan satu pintu tak terduga bagi kita maka pintu itu akan kita temukan.
Kita juga ditantang untuk menjadi wadah yang dapat mendukung jemaat dalam mengambil sikap menghadapi keadaan dunia yang semakin banyak kesulitan dan tuntutannya. Kita melangkah bersama Tuhan dan diutus untuk menghadirkan sukacita dalam dunia yang berduka, berbuat baik di tengah dunia yang jahat, menghadirkan keyakinan di tengah dunia yang dipenuhi kekuatiran, menghadirkan damai sejahtera di tengah dunia yang dilanda krisis dan kesulitan.

Menunggu yang tidak membosankan

Kisah Rasul 1 : 14
1:14 Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus.
Seorang pegawai ditempatkan di daerah kerja yang baru dan masih belum memiliki apapun untuk menunjang pekerjaannya. Sebelumnya dia dijanjikan akan disediakan berbagai fasilitas untuk membantu kelancaran pekerjaannya. Begitu tiba di tempat kerjanya yang baru, pegawai ini tidak melakukan kegiatan apapun. Malah masyarakat yang datang untuk meminta pelayanannya ditolak dengan alasan bahwa belum ada fasilitas. Dan ternyata semua fasilitas yang dijanjikan baru tiba setelah 1 tahun pegawai itu berada di tempat kerja barunya. Sehingga selama 1 tahun tidak ada pelayanan bagi masyarakat sekitar.
Kita bicara soal memulai dengan yang benar. Pegawai tadi berpikir bahwa jika disuruh untuk menunggu berarti dia benar-benar akan menunggu sampai apa yang dijanjikan itu dipenuhi. Dan selama melakukan hal itu tidak ada satupun kegiatan yang dilakukan. Tetapi untunglah para murid Tuhan Yesus memilih yang benar. Mereka dijanjikan akan menerima kuasa dari Roh Kudus yang memampukan mereka menjadi saksi, tetapi selama janji itu belum mereka terima, mereka tidak bersikap pasif atau cuma menunggu saja.
Kesaksian dalam Kisah Rasul 1 : 14 menyatakan kegiatan yang dilakukan oleh murid-murid termasuk ibu dan sahabat-sahabat Yesus adalah mereka bertekun dengan sehati dalam doa bersama. Setelah kembali ke Yerusalem, murid-murid masih belum punya ide untuk melakukan apapun sehubungan dengan tugas kesaksian yang Yesus berikan sebelum naik ke surga. Ini disebabkan karena memang Roh Kudus belum mereka terima. Tetapi sekalipun demikian mereka tetap berusaha untuk memelihara persekutuan mereka.
Menjadi saksi adalah satu hal yang baru bagi murid-murid, apalagi mereka harus menyaksikan seseorang yang tidak bisa mereka buktikan keberadaannya. Namun sekalipun mereka belum menerima kuasa dari Roh Kudus, kelompok ini mampu memulai dengan yang benar yaitu mereka mempererat persekutuan di antara mereka sehingga persekutuan mereka tidak sampai jadi dingin seperti yang biasa terjadi dalam kelompok yang baru saja kehilangan pemimpin.
Seringkali kita menunda untuk mulai menjadi saksi bagi Tuhan hanya karena kita masih aktif kerja, karena masih sibuk, karena masih banyak urusan dan berbagai macam alasan lain. Kita pun suka beralasan bahwa kita belum siap. Padahal justru selama kita belum benar-benar terlibat dalam suatu kegiatan khusus dalam pelayanan itulah kesempatan yang dapat kita gunakan untuk memulai dengan yang benar.
Jika sampai saat ini kita belum dipercayakan suatu tugas khusus, itu bukan halangan untuk tidak menjadi saksi. Belajar dari para murid yang walaupun saat itu mereka belum menerima kuasa dari Roh Kudus, namun mereka berusaha untuk memulai dengan yang benar yaitu membangun persekutuan yang sehati.
Disadari atau tidak ketika mereka memilih untuk tetap memelihara persekutuan dan hubungan yang baik dengan sesama saudara dan dengan Tuhan, sekalipun Roh Kudus belum diberikan bagi mereka, maka saat itu mereka telah memberi diri mereka untuk dibentuk dan dipersiapkan hingga tiba saatnya mereka akan memberi hidupnya total untuk menjadi saksi bagi Tuhan.
Menjadi saksi bukan menunggu dengan pasif sampai kita digerakkan oleh suatu kuasa yang hebat sehingga kita mampu berkotbah atau melakukan hal-hal luar biasa lainnya. Menjadi saksi adalah lewat hidup kita, kita membuat orang lain dapat mencintai Tuhan.
Ini yang namanya sekali merengkuh dayung, 2-3 pulau terlampaui. Dengan memilih untuk memulai yang benar yaitu memelihara persekutuan dengan Tuhan dan dengan sesama maka 2 hal kita dapatkan yaitu: hubungan yang baik dengan Bapa di dalam Yesus dan kesaksian hidup yang dapat dilihat oleh orang lain. Sehingga walaupun kita tidak secara khusus melayani dalam pelayanan gereja tertentu tetapi kita mampu untuk membuat orang lain mengenal dan mencintai Yesus lewat hidup kita. Karena lewat hidup kita orang lain bisa melihat bahwa dengan memiliki Yesus dalam hidup itu suatu keuntungan besar bagi orang yang percaya kepada-Nya. Amin.

Tuhan membela setiap orang yang ada di pihak-Nya

2 Raja-raja 6 : 15 – 17

6:15 Ketika pelayan abdi Allah bangun pagi-pagi dan pergi ke luar, maka tampaklah suatu tentara dengan kuda dan kereta ada di sekeliling kota itu. Lalu berkatalah bujangnya itu kepadanya: “Celaka tuanku! Apakah yang akan kita perbuat?”
6:16 Jawabnya: “Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita dari pada yang menyertai mereka.”
6:17 Lalu berdoalah Elisa: “Ya TUHAN: Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat.” Maka TUHAN membuka mata bujang itu, sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa. 

Rencana bangsa Aram atau Siria untuk menghadang Israel tidak pernah terlaksana karena TUHAN selalu bekerja lewat Nabi Elisa untuk memberitahu jalan yang boleh atau yang tidak boleh dilewati. Tahu bahwa rencananya selalu gagal dan nabi Elisa biang keroknya membuat raja aram menjadi kesal dan memerintahkan untuk menangkap Elisa. Tidak tanggung-tanggung, untuk menangkap Elisa raja aram mendatangkan suatu pasukan besar yang disertai dengan kereta perang dan kuda. Kota tempat Elisa akhirnya dikepung, dan kalau terjadi sebuah kota sampai terkepung maka peluang untuk kabur juga sangat kecil.

Melihat kotanya sudah dikepung pembantu Elisa ketakutan. Tetapi Elisa menjawab : tidak usah takut. Karena lebih banyak yang menyertai kita dari pada yang menyertai mereka. Pembantunya tentu saja tidak bisa percaya sehingga akhirnya Tuhan membuka mata pembantunya dan baru ia lihat sendiri bahwa di sekeliling Elisa penuh dengan kuda dan kereta berapi.

Tuhan membela setiap orang yang ada di pihaknya. Artinya di pihak-Nya adalah orang yang hidup mengikuti kehendak TUHAN. Ketika orang itu terancam maka TUHAN akan hadir menjadi pembela. Tetapi pembelaan TUHAN unik. Ia membiarkan pihak lain merasa di atas angin. Ia membiarkan mereka merasa sudah menang. Tetapi lalu Ia tunjukkan kekuatan-Nya.

Berarti 2 hal yang kita renungkan adalah: pertama di pihak mana saat ini kita berada? Kalau kita ingin ada di pihak TUHAN, apakah hidup kita menunjukkan bahwa kita taat? Apakah perkataan kita menunjukkan kita anak TUHAN? Kalau jawabannya tidak mungkin ini jadi peringatan dini untuk segera berpindah sebelum terlambat.

Kedua: kalau saat ini kelihatannya belum ada pertolongan dan kelihatannya pihak yang berseteru dengan kita hampir menang, tidak perlu kuatir. Karena itu belum berarti TUHAN kalah. Semuanya soal waktu. Waktu Tuhan beda dengan waktu kita. Kalau bagi kita air di leher itu sudah terlambat  maka bagi Tuhan air di hidung pun belum terlambat.

Kadang kita lelah menjalani hidup. Begitu banyak tebing yang harus kita daki dan begitu banyak lembah curam yang harus kita turuni. Dan dalam proses itu kita mulai ditinggalkan oleh orang-orang yang dulu dekat dengan kita. Tetapi kita diingatkan bahwa Tuhan menjadi sahabat tanpa melihat apakah kita pantas dijadikan sahabatnya. Tuhan mendekati kita tanpa mencari alasan apakah kita pantas untuk didekati. Selama kita ada di pihak-Nya maka Ia akan berjalan bersama-sama kita.

Jika tidak ada orang yang mau menemani kita mendaki tebing tinggi, Tuhan mengulurkan tangan-Nya untuk kita genggam. Jika tidak ada orang yang mau bersama-sama kita menuruni lembah curam, Tuhan menawarkan diri-Nya untuk bersama-sama kita menuruni lembah itu. Jika ada begitu banyak orang yang mengepung kita dan siap mencelakakan kita, maka TUHAN mengingatkan bahwa yang menyertai kita jauh lebih banyak dari yang menyertai orang-orang itu.

Ketika Tuhan menjadi sahabat dalam hidup kita, kecemasan kita Ia singkirkan. Karena Ia ada untuk menyertai kita, amin.