“Katanya:… ” belum tentu sama dengan faktanya
Bahan Bacaan Roma 2 : 17 – 24
Siapa yang sejak dari dulu tidak pernah jadi korban iklan? Kenapa dibilang korban, karena beberapa iklan dibuat tidak sesuai dengan produk yang diiklankan. Misalnya iklan soft drink yang katanya kalau minum nanti seperti mandi di kolam renang alias segar padahal faktanya makin banyak yang diminum makin haus jadi lebih enak langsung minum air dingin.
Seperti di New Delhi India, Vaibhav Bedi, 26 tahun menuntut perusahan pengharum tubuh karena iklan mereka menjamin bahwa kalau pengahrum tubuh itu dipakai maka akan didatangi oleh wanita-wanita. Dan Bedi telah memakai produk itu selama 7 tahun dan selama itu tidak ada seorang pun wanita yang datang kepadanya.
Katanya dan faktanya memang suka bikin repot:
- Katanya pegawai biasa, faktanya rekeningnya luar biasa
- Katanya amat peduli, faktanya peduli amat
- Katanya lurus, faktanya sengaja dilurusin
- Katanya perumahan asri disebelah sungai yang tenang, faktanya perumahannya di sebelah kali yang mampet dengan sampah.
Katanya selalu diharapkan sama dengan faktanya, karena jika tidak bukan saja mengecewakan tetapi menghilangkan kepercayaan.
Inilah yang Paulus lakukan dalam bacaan kita. Paulus berusaha untuk membuka beberapa fakta yang sebenarnya mengenai orang-orang Yahudi kepada orang orang-orang Kristen bukan Yahudi yang gelisah karena mereka selalu mendengar segala sesuatu yang “katanya’ mengenai orang Yahudi sehingga seolah-olah orang Yahudi menjadi sangat sempurna. Sementara orang Yahudi merasa di atas angin.
Paulus secara terus terang (karena dia juga orang Yahudi) menyatakan “katanya” orang Yahudi mengenai diri mereka:
- Orang Yahudi berarti Umat Pilihan
- Bersandar pada Hukum Taurat
- Bermegah dalam Allah
- Tahu kehendak Allah
- Dari Taurat bisa tahu mana yang baik dan yang tidak
- Penuntun orang buta
- Terang bagi yang dalam kegelapan
- Pendidik orang bodoh
- Pengajar orang yang belum dewasa
- Memiliki segala kepandaian dan kebenaran
Dan faktanya menurut Paulus:
- Orang Yahudi mengajar orang lain tetapi tidak mengajar diri sendiri
- Orang Yahudi bermegah atas hukum Taurat tetapi justru menghina Allah dengan melanggar hukum Taurat
- Orang Yahudi sendiri yang membuat nama Allah dihujat oleh bangsa- bangsa lain.
Lalu mari kita kembangkan pemikiran ini : ketika kata dan fakta tidak sejalan maka akan membuat nama TUHAN yang dicela. Dan ketika kita membuat nama TUHAN dicela maka kita tidak menjalankan pengutusan kita untuk menjadikan setiap orang menjadi murid Tuhan. Dan kalau kita gagal melakukan pengutusan kita maka bisakah kita berdoa mohon TUHAN memberkati kita? Dan sekalipun kita bisa berdoa mohon diberkati (karena itu sering terjadi) yakinkah kita bahwa kita akan menerima berkat itu?
Kalau begitu ketika kata dan fakta tidak sejalan maka semua akan berpengaruh pada hidup kita sendiri yaitu pada berkat yang kita dan keluarga kita terima. Ini bukan pembicaraan soal uang atau kekayaan yang berlipat kali ganda, melainkan bicara soal damai sejahtera, ketentraman, ketenangan, ketabahan, kerukunan. Berkat-berkat ini tidak bisa dibeli dengan uang.
Mobil Alphard New Alphard 3.5 V Automatic = Rp 1.118.000.000. Dan ada yang bisa beli tetapi berapa harga damai sejahtera?
Harga rumah termahal di dunia adalah 5,5 trilyun rupiah di perancis tetapi mampu dibeli Roman Abramovich, Milioner dari Rusia, tetapi berapa harga ketentraman?
Makanan termahal di dunia ada di Srilanka harga 132 juta rupiah dan berupa gula-gula berisi buah yang diberi hiasan patung nelayan dari coklat dan batu permata raksasa, toh ada yang mampu beli tetapi berapa harga ketenangan hidup?
Harga parfum termahal di dunia adalah 2 milyar rupiah dan pasti ada yang mampu membeli tetapi adakah yang tahu harga ketabahan dan membelinya?
Tas termahal di dunia harganya 600juta rupiah dan ada yang bisa membeli tetapi siapa yang bisa membeli kerukunan dan berapa harganya?
Itu sebabnya berkat tidak hanya dipahami sebagai uang atau kekayaan. Karena ada yang tidak bisa diketahui harganya dan yang tidak mampu dibeli dengan uang. Sehingga ketika kata dan fakta hidup kita tidak sejalan itu berarti kita sementara menutup pintu berkat kita sendiri.
Terutama sekali jika dia adalah seorang ibu, seorang wanita. pemahaman ini harus menjadi pemahaman yang melekat dan tidak tergoyahkan ketika kita menjalankan peran kita baik di rumah, di tempat kita bekerja maupun di tempat kita melayani. Saya tidak akan pernah lupa nasihat ibu saya: kalau laki-laki melakukan kesalahan dunia tertawa, kalau perempuan yang melakukan kesalahan dunia akan menangis. Dunia akan bersedih ketika seorang perempuan apalagi seorang ibu mengambil jalan yang salah. Alkitab pun memberi kesaksian dalam 1 Petrus 3 : 1. “Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya” , seorang suami bisa dimenangkan oleh hidup istrinya. Apalagi anak tentu bisa dimenangkan oleh kehidupan ibunya.
Bukan berarti suami tidak punya peran atau boleh berbuat seenaknya tetapi karena hari ini kita merayakan hari wanita maka wanitanya yang musti dibicarakan. Jadi untuk semuanya, khusus bagi para wanita: jangan sampai fakta dan kata berbeda. Jangan sampai apa yang kita katakan mengenai kita berbeda dengan apa yang orang lihat dari kita karena itu berarti kita menghalangi berkat Tuhan bagi kita dan keluarga kita.
Berikut ini adalah surat yang ditulis oleh seorang anak laki-laki yang bernama Eric 3 bulan sebelum kematiannya, surat ini dititipkan kepada tetangganya seorang ibu pemulung yang telah lanjut usia. Sepanjang hidupnya Eric belajar menulis supaya bisa menulis surat ini: “Ma, mengapa Mama tidak pernah kembali lagi…? Mama marah sama Eric, ya? Ma, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mama harus berjanji kalau Mama tidak akan marah lagi sama Eric. Selamat tinggal ma…” Eric ditinggalkan oleh ibu kandungnya saat ia berumur 4 tahun dan selama 10 tahun Eric terus menunggu ibunya datang menjemput dia. Ketika surat ini dibaca oleh ibu kandungnya Eric telah meninggal sehari sebelumnya. Dan sejak saat itu ibu dari eric ini mencap dirinya sendiri ‘ibu terburuk di dunia’. Dia kehilangan damai sejahtera, sukacita, ketentraman dan bahkan kesehatannya dalam hidup hanya karena ia lebih memikirkan hidup bebas derita.
Mungkin kita tidak dapat menjadi wanita atau pria yang sempurna, mungkin kita tidak pernah bisa menjadi ayah atau ibu ideal, mungkin kita tidak akan pernah menjadi manusia sempurna, tetapi ada perbedaan antara manusia yang mau berusaha menjadi lebih baik dan manusia yang mengeraskan hati. Jadi kalau memang kita tidak bisa menjadi manusia sempurna paling tidak kita dapat menjadi seorang yang mau terus belajar dan berusaha untuk menjadi lebih baik sehingga berkat-berkat Tuhan yang tidak terbeli dengan uang akan tetap menjadi bagian kita, amin.



