Beranda > Kumpulan Renungan > Yesus bukan tender yang bisa dimenangkan

Yesus bukan tender yang bisa dimenangkan

Bacaan :  Lukas 10 :1-4

Seorang anak perempuan kecil sedang berdiri sendiri sambil memandang sedih ke sekelompok temannya yang sedang berbicara dengan senang sambil makan donat. Mereka tidak bersedia berbicara dengan dia dan tidak ingin berbagi kegembiraan bersama hanya karena ia tidak memakai baju yang sama dengan mereka. Seperti ini juga gambaran gereja-gereja saat ini. Kalau tidak pakai ‘baju’ yang sama maka keselamatan dan kebenaran belum bisa dimiliki. Sehingga gereja-gereja berlomba-lomba untuk mengiklankan dirinya sebagai yang terbaik dan terbenar. Sebagai yang satu-satunya dipakai Tuhan dan yang satu-satunya ada Tuhannya.

Dalam sebuah konferensi tahunan gerejanya, Henry B. Eyring salah satu presiden (istilah gereja itu untuk menyebut pemimpinnya) memberi kesaksian bahwa gereja mereka adalah satu-satunya gereja yang benar dan hidup dan nabi mereka adalah satu-satunya nabi Kristus.

Lalu di salah satu website, ada pdt yang mengajari bagaimana memilih satu gereja yang benar-benar menjalankan Firman TUHAN. Setelah mengutip sejumlah ayat yang kemudian ditafsirkan dengan keliru akhirnya si pdt memberi beberapa kesimpulan yang salah satunya : jangan terkecoh dengan gereja yang bicara kasih tapi ternyata tidak ada kuasanya, tidak percaya karunia ROH KUDUS dan bahasa lidah, tidak percaya kesembuhan ilahi, dan tidak sanggup mengubah orang berdosa jadi benar (yang merokok terus merokok, yang narkoba terus narkoba, yang pelit terus pelit, yang kecanduan pornografi terus saja kecanduan, yang sering kesurupan terus kesurupan, yang jahat terus jahat). Intinya jangan terkecoh dengan gereja yang tidak ada kuasanya. Lalu diakhiri dengan iklan : kalau Anda sedang mencari-cari gereja, mari, pintu Gereja X  selalu terbuka untuk Anda. Hubungi kami sekarang juga. TUHAN YESUS sendiri menantikan Anda di sini untuk menjamah dan mengubahkan hidup Anda selamanya. DIA-lah yang akan memuaskan kerinduan hati Anda yang paling dalam.

Dan dengan bahasa yang sama dan nama gereja yang berbeda akan sering kita temukan saat ini karena ada begitu banyak iklan gereja saat ini untuk menarik orang menjadi pengikut-Nya dengan menyudutkan gereja lainnya. Gereja melawan gereja dan Yesus hanya dibuat sebagai pemanis untuk menarik perhatian calon pengikut.

Hal ini berbeda sekali dengan usaha yang dilakukan Lukas untuk membuat Teofilus percaya pada Yesus. Kitab Lukas ini sebenarnya adalah upaya Lukas untuk meyakinkan Teofilus bahwa pengajaran yang diterima oleh Teofilus tentang Yesus itu benar. Dan bahwa ajaran Yesus dapat diterima bahkan oleh orang-orang seperti Lukas dan Teofilus yang bukan seorang Yahudi. Yesus sekalipun seorang Yahudi tetapi Ia tidak mengkhususkan diri-Nya untuk orang-orang Yahudi saja. Itu sebabnya Lukas menganggap perlu untuk menambahkan informasi yang tidak terdapat di kitab Injil lainnya yaitu mengenai adanya 70 orang murid di samping 12 murid yang sudah ada, yang diutus kepada orang-orang bukan Yahudi.

Jika kita perhatikan usaha Lukas dalam bacaan kita ini, kita akan temukan bahwa : kuasa dan tugas yang Yesus berikan bagi ke-12 murid maupun untuk ke -70 murid adalah sama yaitu sama-sama mendapat kuasa dan tugas untuk memberitakan Injil. Dalam ayat -3 pengutusan ke-70 murid itu adalah untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di kota-kota yang sama sekali belum mengenal Yesus dan ajaran-Nya. Ini adalah sebuah perjalanan yang waktunya sudah ditentukan dan ke-70 orang murid tidak boleh membawa apapun karena kebutuhan mereka akan ditanggung oleh kota yang akan menerima mereka. Sehingga ayat 4 tidak untuk ditafsirkan sebagai larangan bagi para pemberita Injil untuk membawa apapun, melainkan sesuai dengan konteksnya saat itu, larangan ini semata-mata menjadi cara untuk mengetahui apakah sebuah kota bersedia menerima ajaran Yesus yang diberitakan oleh para murid itu atau tidak. Demikian pula halnya dengan larangan untuk memberi salam yang tidak diartikan sebagai sama sekali dilarang mengucap salam saat ini, melainkan untuk saat itu, larangan tersebut menjadi bagian dari pesan Yesus kepada 70 murid supaya menjadi tanda apakah mereka diterima atau tidak di suatu tempat dan apakah mereka berhenti atau melanjutkan perjalanan mereka.

Bahkan kalau diperhatikan lebih baik lagi  kecaman Yesus di ayat 13 – 16  justru ditujukan kepada kota-kota yang terletak di wilayah Galilea yang merupakan wilayah orang Yahudi ( Khorazim, Betsaida dan Kapernaum). Sementara itu Yesus malah menilai kota Tirus dan Sidon yang ada di wilayah Fenisia dan Siria sebagai kota-kota yang nasibnya akan lebih baik sekalipun mereka bukanlah kota-kota Yahudi.

Lebih lanjut diceritakan bahwa laporan dari ke-70 murid adalah laporan yang sangat diharapkan yaitu bahwa akhirnya banyak orang-orang bukan Yahudi yang menjadi percaya pada Yesus, ini ditandai dengan takluknya roh-roh jahat yang menguasai mereka sebelumnya. Misi Injil kepada orang-orang non-Yahudi dinyatakan berhasil sehingga tentunya Teofilus tidak perlu ragu untuk percaya pada Yesus.

Apa yang diceritakan Lukas pada Teofilus ini  memberi pelajaran bagi kita ditengah-tengah maraknya gereja-gereja atau para pengkhotbah yang mengklaim keselamatan dan kebenaran hanya milik mereka dan hanya dapat diterima oleh orang-orang yang menjadi anggota mereka ternyata tidak dapat dibenarkan menurut Alkitab. Karena sejak awal Yesus tidak mengkhususkan diri dan ajaran-Nya untuk bangsa atau kaum tertentu (dan saat ini untuk gereja tertentu) melainkan kepada siapa saja yang mau menerima dan percaya kepada-Nya lalu berjalan mengikuti ajaran dan hidup-Nya. Tugas gereja adalah memberitakan mengenai Yesus dan membimbing orang-orang yang telah percaya untuk menjalani imannya pada Yesus bukan malah percaya pada gereja-Nya.

Dan kuasa untuk melakukan sesuatu yang luar biasa tidak selamanya dapat menjadi ukuran bahwa sebuah gereja punya kuasa karena toh para dukun juga bisa melakukan hal yang membuat kita terheran-heran.

Para ilusionis juga dapat membuat kita terkagum-kagum dengan sendok yang bengkok atau kartu yang ketebak. Sehingga upaya untuk mengiklankan gereja dengan cara apapun apalagi dengan memakai ayat Alkitab adalah tidak dapat dibenarkan menurut Alkitab karena Yesus hadir untuk semua orang dan dapat dipercaya oleh semua orang. Yesus tidak pernah menyatakan diri-Nya adalah milik satu gereja tertentu dan Yesus bukan tender yang bisa dimenangkan dalam arti gereja mana yang presentasi dan performanya paling baik yang akan memenangkan Yesus untuk membuat Roh-Nya ada dalam gedung gereja mereka.

Pelajaran lain dari cerita mengenai ke-70 orang murid ini adalah setiap orang yang telah menjadi pengikut Yesus, punya tanggung jawab untuk memberitakan mengenai Yesus dengan memperhatikan bahwa ketika pelayanan yang dijalankan itu dinilai berhasil, maka jangan berbangga hati dengan apa saja yang sudah dicapai, melainkan biarlah yang disebut sebagai keberhasilan itu dihitung dan dinilai oleh Bapa di surga. Artinya keberhasilan itu bukan untuk disebutkan apalagi diberitakan. Seringkali orang merasa perlu untuk menyebutkan jumlah jiwa yang dibawa pada Tuhan seolah-olah itu menjadi ukuran apakah Roh Tuhan ada dalam dirinya atau tidak. Padahal perlu berhati-hati supaya tidak sampai terjebak dalam pemahaman jumlah peserta ibadah sebagi ukuran ada tidaknya Roh Tuhan di suatu tempat. Karena tanpa memakai Tuhan pun para pemusik mampu mengumpulkan orang satu stadion sepak bola dan tanpa membawa-bawa Tuhan pun semua bangku dalam pertandingan sepak bola bisa penuh. Artinya jumlah tidak selamanya menjadi ukuran keberhasilan dalam pelayanan, malah Yesus mengingatkan ke-70 murid yang kembali itu untuk tidak bersukacita karena roh-roh yang menguasai orang-orang sebelumnya takluk kepada mereka melainkan membiarkan Bapa di surga yang menilai setiap pelayanan yang sudah dilakukan.

Melihat semua perkembangan saat ini kita bisa mendapat satu fakta baru bahwa saat ini iblis tidak keberatan jika nama Yesus tetap disebutkan asalkan saja pemahaman dan cara hidup orang-orangnya bisa tetap mengikuti pemahaman dan caranya si iblis. Setiap orang bisa mengukur diri sendiri: apakah yang saya cari dalam persekutuan yang saya ikuti? Pengkotbahnyakah atau Kristus? Apa yang membuat saya kagum? Gedung gerejanyakah atau persekutuan jemaatnya? Apa yang membuat saya bahagia saat beribadah? Suasananya atau kerinduannya? Apa yang membuat saya ingin lagi datang? Janji2 dan doa hamba Tuhan bahwa saya akan berhasil, sembuh, dapat ini, dapat itu? atau karena keyakinan akan kebenaran? Mari dengan jujur kita nilai diri kita sendiri lalu berusaha untuk mengenal Yesus lebih baik lagi supaya jangan sampai kita berpikir bahwa kita sedang mengikuti Yesus padahal sebenarnya bukan Yesus yang sedang berjalan di depan kita, amin.

Categories: Kumpulan Renungan
  1. Belum ada komentar.
  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.