Tuhan dimanakah Engkau?

Mazmur 119 : 92, 93

Tuhan dimanakah Engkau? Inilah pertanyaan yang sering kita tanyakan ketika kita menghadapi peristiwa atau kejadian yang tidak dapat kita terima. Kita mempertanyakan keberadaan Tuhan, kita mencari Dia dan bahkan dalam kekecewaan kita bisa mengira Tuhan telah menjauh dalam kehidupan kita. Gambar yang ada di atas adalah ilustrasi dari keadaan yang sebenarnya. Jika kita lihat gambar yang di zoom in atau didekatkan: tampak seorang yang sedang bertanya Allah, dimanakah Engkau? Lalu gambar itu di zoom out atau dijauhkan dan kita bisa melihat bahwa sebenarnya orang yang sedang mencari Allah itu ada dalam tangan Allah.

Ketika manusia mempertanyakan keberadaan Tuhan, ketika manusia mencari Tuhan semua itu membuktikan bahwa manusia tidak berdaya tanpa Tuhan. Kehadiran Tuhan dalam hidup manusia memberi jaminan rasa aman, keyakinan akan pertolongan Tuhan dalam hidup manusia memberi rasa tenteram dan  keterlibatan Tuhan dalam hidup manusia memberi manusia itu kemampuan untuk menghadapi peristiwa yang sedang mengujinya.

Inilah yang juga menjadi keyakinan penulis mazmur 119 ; ketika ada dalam keadaan sengsara dan menanggung penderitaan, keadaan itu tidak membuatnya menyerah dan putus asa karena Firman Tuhan menjadi kegemarannya. Penulis mazmur ini hidup dengan Firman Tuhan. Ia membaca perkataan Tuhan setiap saat dan ia merenungkan semua jaminan dan janji Tuhan yang terdapat di dalamnya. Dia tidak melupakan perintah Tuhan karena ia yakin bahwa justru karena ia hidup dengan Firman Tuhan maka ketika harus mengalami berbagai peristiwa yang menakutkan dan menyedihkan, semangat hidupnya dibangkitkan kembali. Kedekatannya dengan Firman Tuhan membuatnya tidak perlu bertanya-tanya dimana Tuhan karena ia yakin Tuhan dekat dengannya.

Inilah yang kita renungkan : Tuhan tidak seperti manusia yang hanya dekat dan bersikap manis jika kita sedang dalam keadaan baik dan segera menjauh dan menjadi jahat ketika dilihat bahwa kita bukan siapa-siapa dan tidak dapat menguntungkannya.

Dalam susah dan senang kita, dalam sedih dan gembira kita, dalam untung dan malang kita, dalam sakit dan sehat kita, dalam muda dan tua kita, dalam kuat dan lemah kita, dalam lebih dan kurang kita, dalam bersama dan sendirinya kita, kita tetap ada dalam tangan-Nya. Ia tidak pernah jauh dari kita.

Hal yang membuat kita merasa bahwa Ia jauh adalah karena kita tidak hidup dengan Firman-Nya, kita enggan untuk berbicara dengan-Nya, dan itu berarti kita-lah yang menjauh sehingga ketika peristiwa yang mengejutkan tiba kita hilang pegangan.

Apa yang kita lihat dalam kehidupan keluarga yang mampu menjalani kehidupan dengan baik setelah ditinggalkan orang yang mereka kasihi  adalah kenyataan yang dilukiskan oleh pemazmur yaitu bahwa sengsara tidak akan membuat binasa setiap orang yang hidup dekat dengan Firman Tuhan; kehilangan seorang yang dikasihi tidak akan membuat  goyah orang yang hidup melakukan perintah Tuhan. Ketika masa hidup dari seorang yang dikasihi berakhir, keluarga besar, anak-anak, cucu-cucu dan saudara bersaudara menjalani tahap itu dalam pemeliharaan Tuhan. Kehadiran salah satu anggota keluarga memang sudah tidak ada lagi tetapi jumlah anggota keluarga ini akan selalu lengkap dengan kehadiran Kristus di tengah-tengah mereka. Dan Kristus yang memberi kemampuan bagi keluarga untuk terus menerus melihat kebaikan dan pendampingan Bapa bagi mereka.

Jadi  dalam segala situasi hidup yang kita alami, tidak perlu mempertanyakan dimana Tuhan, ingatlah bahwa jika kita milik-Nya, hidup kita dekat dengan Firman-Nya, maka kita akan selalu ada dalam tangan-Nya, amin.

Tuhan memulihkan karena Kasih

Bahan Bacaan : Yehezkiel 36: 33 – 38

Kalau sampai ada anak yang karena nakalnya terusir dari rumah biasanya bukan kenakalan anak itu yang akan dibicarakan orang melainkan orang tuanya. Orang tuanya yang akan dianggap gagal, tidak mampu, tidak pantas jadi orang tua. Sehingga dari pada orang tua itu harus menjelaskan kepada setiap orang mengenai keputusannya untuk menghukum anaknya lebih baik anaknya sendiri yang dipanggil pulang ke rumah, diajak berbicara, dipulihkan keadaannya, dikasihi, disayangi dengan harapan dia akan berubah menjadi baik. Orang tua tentu lakukan hal ini bukan terutama untuk anak itu melainkan untuk memulihkan nama baiknya dan membuktikan bahwa ia dapat menjadi orang tua yang berhasil mendidik anaknya.

Dalam dunia kuno (bahkan sampai saat ini) juga demikian, kalau sebuah bangsa mengalami banyak musibah atau bahkan sampai dijajah oleh bangsa lain itu menandakan bahwa dewa mereka adalah dewa yang tidak dapat diandalkan sehingga sangat tidak pantas untuk disembah sebagai dewa.

Sehingga ketika TUHAN Allah menghukum Israel dengan membuang mereka dari tanah milik mereka dan Yerusalem serta tempat ibadah di dalamnya TUHAN Allah biarkan dihancurkan oleh bangsa Babel, maka nama TUHAN Allah-lah yang kemudian menjadi buruk. Oleh penduduk Babel dan bangsa-bangsa lain TUHAN Allah Israel dianggap sebagai TUHAN Allah yang tidak mampu menjadi Allah oleh karena tidak bisa melindungi umat-Nya dari serangan sehingga mereka harus kalah dan keluar dari tanahnya.

Jadi alasan TUHAN Allah memulihkan bukan karena Israel istimewa melainkan karena bermula dari Israel tidak setia lalu dihukum dengan diserakkan di antara bangsa2 tapi kemudian keluarnya mereka dari tanah mereka sendiri malah membuat nama TUHAN dipermalukan karena seolah2 menjadi TUHAN  yang tidak mampu melindungi dan menjaga umat-Nya (20) sehingga TUHAN Allah mengambil keputusan yang sebenarnya sangat sulit yaitu memulihkan Israel. Untuk itu berulang kali nabi diperintahkan untuk berkata bahwa pemulihan itu terjadi bukan terutama karena dan untuk Israel melainkan semata-mata supaya semua orang tahu kemampuan Allah Israel.

TUHAN memulihkan keadaan dan hati Israel sehingga menjadi umat yang taat supaya bangsa-bangsa lain melihat kemahakuasaan dan kebesaran-Nya. sekalipun dikatakan bahwa TUHAN melakukan ini untuk memulihkan nama-Nya tetapi jika untuk itu TUHAN harus menerima kembali umat yang telah menyakiti hati-Nya, TUHAN harus membuat keadaan mereka bahkan lebih baik dari sebelumnya maka dasarnya harus karena kasih. Karena hanya kasih yang dapat membuat seorang melakukan hal-hal yang sulit untuk dilakukan.

Kasih yang memampukan seorang untuk melakukan hal-hal yang luar biasa diceritakan oleh seorang anak dalam kisah seperti ini: dia terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untuk dia. Sambil memindahkan nasi ke mangkuknya, ibu berkata : “Makanlah nak, aku tidak lapar” ———-

Ibunya berusaha memancing ikan supaya dapat memberi makanan yang bergizi lalu ia akan membuat sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu anak ini memakan sup ikan itu, ibu duduk di sampingnya dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang dia makan. Dia melihat ibu seperti itu, hatinya tersentuh, lalu menggunakan sumpit ia memberi sebagian ikan itu kepada ibunya. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan” —

Untuk membiayai sekolahnya dan saudaranya, ibunya pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, dia bangun dari tempat tidur, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Dia berkata :”Ibu, tidurlah, sudah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata :”Cepatlah tidur nak, aku tidak capek” ———-

Ketika waktu ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaninya pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika lonceng berbunyi menandakan ujian sudah selesai, Ibu dengan segera menyambut dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untuknya. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, dia segera memberikan gelasnya untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata : “Minumlah nak, aku tidak haus!” ———

Setelah ayahnya meninggal karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahnya pun membantu ibu baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan mereka yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibu untuk menikah lagi. Tetapi ibu berkata : “Saya tidak butuh cinta” ——-

Setelah anak-anaknya tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Anak-anaknya yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : “Saya punya uang” ——

Setelah lulus dari S1, dan melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika. Akhirnya laki-laki itu pun bekerja di perusahaan yang memberinya beasiswa. Dengan gaji yang lumayan tinggi, dia bermaksud membawa ibunya untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati,bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata “Aku tidak terbiasa” ——–

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, anaknya segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Dia melihat ibunya yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatapnya dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibu sehingga ibu terlihat lemah dan kurus kering. Sambil berlinang air mata ia memandang ibunya. Hatinya perih dan sakit sekali melihat ibunya dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : “Jangan menangis anakku, aku tidak kesakitan” ——

Setelah mengucapkan kata-katanya itu, ibu tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.

Hanya kasih yang bisa membuat seorang menyangkali diri dan perasaannya. Dan Ini-lah yang TUHAN Allah lakukan bagi kita. Melalui Yesus Kristus, TUHAN Allah menunjukkan apa arti kasih. Ia menerima kita kembali dan memulihkan kita sekalipun kita telah amat sangat menyakiti-Nya. Memang Ia lakukan semua itu untuk membuktikan kebesaran dan kemampuan-Nya. Tetapi Ia melakukan semua itu atas dasar kasih. Karena itu Ia tidak menunggu sampai kita menjadi orang yang 100% benar, ia tidak menunggu sampai kita jadi orang suci, ia memulihkan kita dalam keadaan kita masih berdosa supaya kita belajar menghargai arti Dia bertindak atas dasar kasih.

Pemulihan yang kita terima bukan karena kita telah berbuat baik, Kebaikan yang kita rasakan bukan karena kita istimewa, Pemeliharaan yang kita alami bukan karena kita pantas, Pengampunan yang dicurahkan bukan karena kita layak, Rejeki yang berlimpah bukan karena kita dianakemaskan melainkan karena TUHAN Allah tahu kita tidak bisa hidup tanpa diri-Nya sehingga dengan kasih Ia melakukan semua itu bagi kita, amin.