Forgive and Forget
Kita tidak bisa menghindar dari sakit hati dan amarah tetapi kita bisa membebaskan diri dari belenggu dendam jika kita bersedia mengampuni dan melupakan apa yang orang lain perbuat pada kita. Dan setiap orang yang hidup di dalam Tuhan dan telah menerima pengampunan seharusnya bersedia untuk saling mengampuni dan melupakan dendam. Karena bukti seorang hidup di dalam Tuhan bukan pada asesoris rohani yang dikenakan melainkan pada sejauh mana hidupnya diubah oleh Tuhan yang dipercayai.
ini akan mengingatkan dan kalau bisa menggugah kita semua untuk bisa mengampuni dan melupakan segala kepahitan yang kita alami karena jika itu kita lakukan maka kita sebenarnya menolong diri kita sendiri, bukan orang lain.
Banyak orang berkata: pengampunan adalah ide yang sangat baik sampai ketika mereka harus mengampuni. Dan melupakan sepertinya tidak akan menjadi suatu akhir yang masuk akal dan yang diinginkan kalau kita sendiri yang harus melakukannya.
Tetapi kenapa kita harus mengampuni dan melupakan semua dendam dan amarah? Berikut ini alasannya:
- alasan kesehatan: penelitian belakangan membuktikan bahwa ketika seorang mengampuni dan melupakan maka ia akan menikmati tekanan darah yang lebih baik, sistem kekebalan tubuhnya lebih kuat, menurunkan hormon stress yang beredar di dalam darah. Sakit punggung, masalah dengan perut/pencernaan, sakit kepala akan hilang. Ketika seorang berhasil melakukannya akan mengurangi amarah, kepahitan, depresi dan emosi negatif lainnya.Itu sebabnya tadi dikatakan bahwa kalau kita mengampuni dan melupakan apa yang telah dilakukan seseorang pada kita maka kita sebenarnya bukan menolong orang itu melainkan menolong diri sendiri. Tetapi jika seorang berkeras untuk tidak mau mengampuni dan melupakan maka itu sama saja dengan dia mau mengatakan: selamat datang: tekanan darah tinggi, kekebalan tubuh yang melemah, hormon stress, sakit punggung, masalah pencernaan, dan sakit kepala. Comfort yourself inside me. Anggap aja tubuh saya ini seperti rumah sendiri…
- alasan rohani: dalam tubuh yang sakit tidak mungkin ada jiwa yang sehat. Ketika tubuh kita melemah karena menahan semua kepahitan, dendam dan amarah maka kita tidak mungkin bisa bersyukur dan menjalani hidup pemberian Tuhan dengan sukacita dan bahagia. Itu sebabnya dari sejak sekitar tahun 62 (bukan 1962) berarti 1947 tahun yang lalu, Paulus telah mengingatkan orang-orang Kristen di Kolose bahwa jika mereka mau supaya hidup mereka bisa dijalani dengan bahagia dan penuh syukur maka mau tidak mau mereka harus bisa saling mengampuni dan melupakan dendam antara satu dengan yang lain. Karena kalau tidak maka sebagai orang-orang yang telah hidup di dalam Tuhan, hidup mereka tidak akan menjadi berkat dan dengan begitu sia-sia saja mereka hidup. Lalu sekiranya mereka pikir mengampuni dan melupakan adalah hal yang mustahil bisa terjadi maka Paulus mengingatkan bahwa mereka adalah orang-orang yang telah menerima pengampunan dari Kristus. Dan orang yang telah mengalami pengampunan seharusnya menjadi orang yang bisa mengampuni dibandingkan dengan orang yang tidak pernah mengalami bagaimana rasanya diampuni.
Jadi keputusan apapun yang akan saudara-saudara dan saya buat, ingat bahwa kita melakukan itu semua untuk kebaikan diri sendiri. Semua yang dilakukan oleh orang tua, saudara, pasangan, sahabat, atasan, rekan kerja, rekan sepelayanan yang telah menyakiti hati kita dan membuat kita dipenuhi dengan rasa kecewa dan marah yang kemudian menjadi dendam, tidak bisa terus kita biarkan membelenggu kita dan membuat kita tidak bahagia. Mengampuni dan lalu melupakan bukan sebuah perkara yang mustahil dilakukan seperti yang dipikirkan oleh kebanyakan orang, karena hidup adalah anugerah yang tidak bisa diminta apalagi diulangi sehingga sangat sayang jika kita harus menjalaninya dengan tidak bahagia.
Ada sebuah cerita mengenai dua orang sahabat yang sedang berjalan melalui gurun pasir. Pada suatu kali dalam perjalanan itu, mereka bertengkar,dan salah seorang dari mereka menampar pipi yang lain. Orang yang mendapat tamparanpun terluka hatinya, tapi dengan tanpa mengatakan sepatah kata pun, ia menulis di pasir:
“HARI INI TEMAN BAIKKU MENAMPAR PIPIKU”
Mereka melanjutkan perjalanan sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka memutuskan untuk mandi di sana. Waktu itu orang yang menerima tamparan dan sakit hatinya, tenggelam dan temannya berhasil menyelamatkannya. Setelah pulih dari rasa takutnya, ia memahat di sebuah batu:
“HARI INI TEMAN BAIKKU MENYELAMATKAN NYAWAKU”.
Teman yang telah menampar dan menyelamatkan sahabatnya, bertanya,
“Mengapa setelah saya menyakitimu kamu menulis di pasir, dan sekarang kamu menulis di batu?”
Yang ditanya tersenyum dan menjawab:
“Saat seorang teman menyakiti kita,kita harus menuliskannya di pasir, dimana angin maaf akan bertugas menghapusnya, dan saat sesuatu yang hebat terjadi, kita harus memahatnya di batu kenangan di hati, dimana tidak ada angin yang dapat menghapusnya.”



