YHWH atau Bapa?

Penjelasan berikut akan bikin merah kuping tapi tenang aja karena saya ga lagi sedang marah-marah kok…cuma suka sebel kalau ada orang ngajak orang lain untuk mempersoalkan hal-hal yang ga penting sama sekali……
untuk kata Yahwe…
Tidak  usah yang kayak gitu diribetin karena tidak membangun iman kita karena sebenarnya kata yahwe pun belum tentu benar. kenapa?
Alasan pertama karena huruf  ibrani itu ga ada huruf hidupnya dan ketika TUHAN Allah menyatakan nama-Nya hanya dipakai 4 huruf ibrani yaitu YHWH tanpa huruf hidup artinya yang punya nama saja tidak kasih tahu bagaimana cara baca nama-Nya, ngapain juga diusahain. Lembaga Alkitab Indonesia sudah sangat bijak dengan menyalin YHWH dalam huruf besar TUHAN. seharusnya kita yang ada dalam budaya timur ini malah lebih bisa ngerti soal penyebutan nama seorang yang dihormati. contoh: kalau masih kecil kita memang bisa memanggil nama kecil seseorang tetapi makin lama nama kecil tidak lagi dipakai, dan semakin seorang dihormati maka rasa segan itu ditunjukkan lewat menyapa dengan memakai gelar. jadi kalau dulu dipanggil Iyem karena namanya Sariyem lalu  karena sekarang sudah jadi ibu menteri atau ibu guru maka memanggil nama dianggap tidak hormat. yang paling pantas adalah menyebut gelar yang dimiliki misalnya Bu Guru atau Bu Menteri,  begitu juga dengan TUHAN (YHWH). Bapak kita di rumah aja tidak kita panggil namanya begitu saja melainkan ada sebutan papa, bapak atau ama kan? jadi kenapa  dengan TUHAN kita pingiiiiiin sekali manggil nama-Nya bulet-bulet itu kan namanya lancang?? jadi yang Tuhan Yesus ajarkan itu sudah benar: sapalah dengan Bapa di Surga.
Alasan berikutnya: mana yang lebih baik: kita sapa YHWH tetapi yang punya nama enggan untuk nengok karena kita ga sopan atau kita sapa Bapa tetapi TUHAN berkenan untuk memandang kita karena kita sopan.
Alasan berikutnya: iblis itu senang kalau TUHAN Allah tidak dihormati jadi waktu ada orang yang getol banget untuk menyapa Bapa sebagai YHWH yang jingkrak-jingkrak itu iblis.
Alasan berikutnya: kalau saya panggil seorang ibu dengan nama saja hei Yanti! itu tandanya saya menempatkan ibu itu sejajar dengan saya atau seolah-olah kita ini teman sepantaran. demikian juga ketika kita menyebut YHWH! prinsip tadi juga berlaku. dan tolong ingat hawa sampai makan buah pengetahuan baik dan jahat karena ia ingin sama dengan TUHAN Allah. jadi saat kita menyamakan kedudukan bukankah kita sudah punya keinginan seperti hawa? maka iblis menang lagi.
Alasan berikutnya: mendebatkan istilah sampai habisin waktu itu mempengaruhi iman ga? kalau iman jadi berkembang karena bahas istilah-istilah, ya.. silahkan tetapi kalau waktu habis dan iman cuma begitu-begitu aja mending ke laut kali ya…. :-)
 
Jadi jangan mudah percaya pada buku….atau orang-orang yang menyarankan buku-buku tertentu..  tanyain dulu orang itu sekolah teologi ga? kalau cuma tahunya baca doang mending sekolah dulu kali ya…..
 
Agak pedes ya???? ini cuma karena gregetan sama orang yang suka bahas hal-hal yang ga penting dan ga membangun iman kayak gitu. mending urus diri dan keluarga supaya jangan sampe lancang nyebut Bapa dengan nama kayak temen….dikirain udah paling bener tahu-tahu selama itu dia nyenengin iblis dan waktu mati masuk neraka.

Mengampuni Sahabat

Bahan Alkitab: Ayub 42:10.

“Lalu TUHAN memulihkan keadaan Ayub, setelah ia meminta doa untuk sahabat-sahabatnya, dan TUHAN memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu.”

 

Lebih baik sakit gigi dari pada sakit hati hanya berlaku kalau pas lagi sakit hati.  Seperti kalau dikhianati sahabat yang selama ini makan sepiring, tidur seranjang baik lewat perbuatannya atau ucapannya. Apalagi kalau merasa tidak melakukan salah tapi dituduh berbuat macam-macam oleh sahabat sendiri yang parahnya lagi merasa diri sudah paling benar.

            Itulah yang dialami Ayub ketika Ia mengalami pencobaan atas kesalehannya. Sahabat-sahabatnya memang mengunjunginya dan (berniat) menghiburnya. Tetapi percakapan mereka justru mengarah pada usaha untuk mengingatkan Ayub akan dosa-dosanya. Keadaan Ayub seperti: sudah jatuh tertimpa tangga, ketiban tembok. Tapi ketika masa sulit itu lewat, ketika segala yang dulu pernah hilang kembali dimiliki, ketika ada kesempatan untuk membalas yang Ayub lakukan justru memohon pengampunan TUHAN atas sahabat-sahabtanya itu.

Ketika sahabat mengkhianati atau menyakiti bahkan meninggalkan kita terutama saat kita membutuhkan dukungan mereka, teladan Ayub adalah sekalipun ada kesempatan untuk membalas, tidak perlu diambil. Karena justru saat sahabat tidak dapat menjadi sahabat kita bisa belajar menghargai Yesus sebagai Sahabat Sejati.

Tidak ada yang lebih baik antara sakit gigi dan sakit hati tapi  yang jelas dua-duanya sakit dan dua-duanya ada obatnya.

Mengampuni Orang Tua

Bahan Alkitab : Keluaran 20:12.

“Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu. “

 

Coba periksa baik-baik siapa tahu ada catatan kaki atau nb yang terselip di perintah kelima ini. Dapat? Tidak? Coba cari lagi, mungkin terlewat! Tidak ketemu juga?  Maaf sebelumnya tapi kalau begitu apapun keadaan orang tua kita yang bisa kita lakukan hanya satu hal : menghormati mereka titik!  Surga bukan di telapak kaki ibu (saja) karena dalam Alkitab tidak menyebutkan hal itu. Alkitab mengingatkan untuk menghormati ayah dan ibu tidak ada pakai pilih-pilih dan kriteria lain. Mereka dihormati karena mereka orang tua.

Ketika mereka menempuh jalan yang salah bukan berarti mereka dibentak, dimaki-maki, disumpah-sumpahin. Justru ketika kita tahu mereka salah, menjadi tugas kita untuk mendoakan orang tua kita agar Tuhan menolong mereka menyadari kesalahan yang telah dilakukan.

Ketika kita merasa mereka menyakiti hati kita, yang harus dilakukan adalah mengampuni mereka. Kenapa harus mengampuni orang tua yang sudah menyakiti hati kita? Karena yang kita sebut menyakiti hati, mereka sebut demi kebaikan. Yang kita sebut melukakan hati, mereka sebut kasih sayang. Satu hal yang tidak bisa disangkal adalah sekalipun pangkat dan gelar kita berbaris di depan dan belakang nama kita tetap saja orang tua yang memiliki pengalaman hidup yang tidak bisa kita samai dalam usia kita. Jalan yang saat ini kita lewati adalah jalan yang dulu pernah mereka lalui sehingga mereka dapat memberi tahu kita di mana ada lubang, tanjakan, belokan, atau jalan yang rata.

            Kalau ada nb di perintah ke-5 silahkan berikan syarat ketika mengampuni kedua orang tua yang telah membuatmu melihat dunia.

Sang Raja Damai

Yohanes 12 : 12 – 19

 

12:12. Keesokan harinya ketika orang banyak yang datang merayakan pesta mendengar, bahwa Yesus sedang di tengah jalan menuju Yerusalem,

12:13 mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru-seru: “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!”

12:14 Yesus menemukan seekor keledai muda lalu Ia naik ke atasnya, seperti ada tertulis:

12:15 “Jangan takut, hai puteri Sion, lihatlah, Rajamu datang, duduk di atas seekor anak keledai.”

12:16 Mula-mula murid-murid Yesus tidak mengerti akan hal itu, tetapi sesudah Yesus dimuliakan, teringatlah mereka, bahwa nas itu mengenai Dia, dan bahwa mereka telah melakukannya juga untuk Dia.

12:17 Orang banyak yang bersama-sama dengan Dia ketika Ia memanggil Lazarus keluar dari kubur dan membangkitkannya dari antara orang mati, memberi kesaksian tentang Dia.

12:18 Sebab itu orang banyak itu pergi menyongsong Dia, karena mereka mendengar, bahwa Ia yang membuat mujizat itu.

12:19 Maka kata orang-orang Farisi seorang kepada yang lain: “Kamu lihat sendiri, bahwa kamu sama sekali tidak berhasil, lihatlah, seluruh dunia datang mengikuti Dia.”

 

                  Coba cari lukisan 8 keledai sedang berlari. Pasti tidak akan ketemu. Karena hanya kuda yang jumlahnya 8 yang akan dilukis sedang berlari. Kuda itu lambang kegagahan, keperkasaan, kekuatan, ketangkasan dan kemenangan. Sehingga jika dipajang di dalam rumah atau ruang usaha diharapkan hidup atau usahanya akan jaya dan kuat selamanya.

                  Orang juga tidak akan tertarik jika anda pasang iklan: dijual susu keledai liar. Tapi sekalipun itu susu kedele tapi kalo iklannya susu kuda liar pasti orang tertarik untuk beli. Sekali lagi itu karena anggapan umum bahwa kuda itu hewan perkasa jadi kalau minum susu kuda liar pasti jadi perkasa.

                  Sejak jaman dulu kuda adalah bagian dari perlengkapan perang di samping kereta, tombak, perisai, baju perang dan lain-lain. Dalam peperangan biasanya raja akan turun sebagai pemimpin peperangan dan jika raja berhasil memenangkan peperangan maka ia akan kembali ke wilayahnya dengan menunggangi kuda lalu disambut oleh rakyat yang memujanya.

                  Tetapi peristiwa Yesus masuk ke Yerusalem menjadi peristiwa yang unik karena memang Yesus menunggangi hewan dan disambut dengan arak-arakkan, sehingga berarti Ia menyatakan bahwa diri-Nya adalah Raja Israel. Hanya saja ada yang tidak biasa pada hewan yang ditunggangi oleh Yesus. Yesus tidak menunggangi seekor kuda yang perkasa, tidak terkalahkan, kuat, yang biasa maju dalam pertempuran dan melihat pertumpahan darah. Melainkan Ia menunggangi seekor keledai tapi bukan keledai tua atau keledai liar melainkan keledai muda, yang belum berpengalaman dan cenderung lemah.

                  Sekalipun peristiwa ini ganjil tetapi Yesus menggenapi nubuat nabi Zakaria dalam Zakaria 9:9 “Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.”  Hampir 600 tahun Israel menunggu nubuat nabi Zakaria ini digenapi dan hari itu semua orang bisa menyaksikan penggenapannya. Bahkan orang-orang Farisi pun mulai saling mempersalahkan dan mengakui kegagalan mereka karena pengaruh mereka justru memudar di hadapan orang banyak yang mengikut dan menyambut Yesus. Mereka mengatakan bahwa seluruh dunia datang mengikut Yesus karena memang saat itu di Yerusalem sedang berkumpul orang-orang Yahudi dari seluruh dunia yang akan merayakan paskah.

                  Sebenarnya pantang bagi seorang raja untuk menunjukkan sisi lemahnya dan ketika Yesus menunjukkan kelembutan dan kedamaian tentunya Ia akan dianggap sebagai memperlihatkan sisi lemah seorang Raja. Yesus masuk ke Yerusalem dengan menyatakan diri sebagai Raja Israel tetapi seperti yang ditunjukkan oleh hewan yang ditunggangi-Nya, Yesus tidak menunjukkan kekuatan dan kekuasaannya sebagaimana lazimnya seorang raja. Dan itulah tujuan Yesus. Ia mau mengumumkan kepada semua orang yang melihat dan menyambut-Nya bahwa Ia adalah Raja Damai. Kekuasaan-Nya tidak diperoleh lewat perang atau pertumpahan darah melainkan lewat jalan damai.

                  Jika Yesus saja menunjukkan kerendahan, kenapa kita rebutan ingin menunjukkan bahwa kita yang paling berkuasa? Jika Yesus saja menunjukkan kedamaian kenapa kita mengusahakan segala cara supaya mempertahankan perang? Jika Yesus saja menunjukkan kelembutan kenapa kita merasa hebat dengan kekasaran dan ketidaksopanan kita? Jika Yesus saja menunjukkan kebaikan yang tulus kenapa kita masih saja suka menyimpan motivasi lain di balik kebaikan kita?

                  Tujuan kehadiran Yesus di dunia ini yang paling utama bukan mendamaikan manusia dengan manusia, melainkan mendamaikan manusia dengan Bapa. Ketika hubungan manusia dengan Bapa pulih, maka Bapa akan menolong setiap orang untuk berdamai dengan diri sendiri dan orang lain. Jika kita menerima Yesus sebagai Juru damai bagi hubungan kita dengan Bapa,  maka pulihnya hubungan kita dengan Bapa akan menular sampai pada pulihnya hubungan kita dengan sesama: dengan orang tua, dengan suami, dengan istri, dengan kekasih, dengan anak, dengan saudara, dengan rekan sepelayanan, dengan orang yang memusuhi kita.

                  Dari mana kita bisa tahu atau mendapat bukti bahwa hubungan kita dengan Bapa sudah pulih? Buktinya dapat dilihat dari hubungan kita dengan sesama. Singkatnya begini: Yesus hadir untuk memulihkan hubungan manusia dengan Bapa. Ketika hubungan itu dipulihkan maka manusia akan dibantu untuk memulihkan hubungannya dengan sesama. Sehingga kalau ingin tahu apakah hubungan seorang dengan Bapa sudah pulih dapat terlihat dari pulihnya hubungan dengan sesama.

                  Yesus menjadi Juru damai untuk mengembalikan kasih yang ada dalam manusia itu hanya tertuju pada Bapa. Oleh karena dosa, kasih yang ada dalam diri manusia tidak lagi 100% tertuju pada Bapa melainkan pada diri sendiri, pada harta benda, pada jabatan, pada orang-orang tertentu, dll. Dengan dipulihkannya hubungan ini maka manusia bisa kembali mengasihi Bapa dengan segenap hati. Dan wujud kasih kita pada Bapa nampak dalam kasih kepada manusia. Sampai tahap ini tidak ada lagi orang yang iri,  yang sirik, yang serakah, yang suka merencanakan kejahatan, yang munafik, yang keras hati, yang tidak tulus, yang gila hormat, yang tinggi hati. Artinya jika sampai saat ini semua keadaan itu masih ada dalam diri kita (jangan tunjuk atau lihat orang lain), maka status kita perlu dipertanyakan lagi: apakah benar kita adalah pengikut Kristus, apakah Yesus menjadi satu-satunya Juruselamat dalam hidup kita? Amin.

kebutaannya tidak sampai menyentuh imannya.

Markus 10 : 46 – 52

 

10:46. Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerikho. Dan ketika Yesus keluar dari Yerikho, bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan orang banyak yang berbondong-bondong, ada seorang pengemis yang buta, bernama Bartimeus, anak Timeus, duduk di pinggir jalan.

10:47 Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!”

10:48 Banyak orang menegornya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: “Anak Daud, kasihanilah aku!”

10:49 Lalu Yesus berhenti dan berkata: “Panggillah dia!” Mereka memanggil orang buta itu dan berkata kepadanya: “Kuatkan hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau.”

10:50 Lalu ia menanggalkan jubahnya, ia segera berdiri dan pergi mendapatkan Yesus.

10:51 Tanya Yesus kepadanya: “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab orang buta itu: “Rabuni, supaya aku dapat melihat!”

10:52 Lalu kata Yesus kepadanya: “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.

 

Sepertinya mengemis dapat  menjadi mata pencarian yang hasilnya lumayan. Ada seorang pengemis cacat yang biasanya mengemis di salah satu pojok jalan pantura bahkan bisa punya rumah 2 lantai plus mobil hanya dari hasil mengemis. Jadi tidak heran kalau ada orang yang yang tubuhnya tidak kenapa-napa dengan sengaja membuat bagian tertentu cacat supaya ia dapat membuat orang jatuh kasihan dengan keadaannya dan memberi sedekah.

Demikian juga dengan para pengemis di Yerikho. Yerikho ini sebuah kota perdagangan yang menghubungkan 3 benua. Pajak dari para pedagang juga merupakan sumber pendapatan yang melimpah. Herodes Agung dan penerusnya membangun sebuah tempat peristirahatan musim dingin di Yerikho dengan taman hias yang megah. Selain menginvestasikan uang di kota ini, raja memperoleh uang dari pohon kurma dan balsem. Yerikho adalah sebuah kota kaya namun demikian seperti biasanya di mana ada kekayaan di situ juga ada kemiskinan, sehingga di tempat yang strategis seperti Yerikho segala macam pengemis ada disitu, termasuk rombongan pengemis buta. Di kota Yerikho para pengemis dapat memperoleh sedekah perhari lebih banyak daripada di Yerusalem yang hanya 24 km jauhnya dari situ. Jadi tentulah justru keadaan buta adalah satu keuntungan bagi para pengemis ini untuk mendapatkan uang atau pemberian lainnya. Tetapi kebutaan rupanya tidak dianggap suatu keuntungan bagi Bartimeus bin Timeus.  Padahal bisa saja setelah tidak lagi buta justru akan membuat Bartimeus kehilangan mata pencariannya yang selama itu telah menjadi sumber nafkahnya. Tetapi rupanya resiko itu tidak membuat Bartimeus takut. Begitu ia tahu bahwa Yesus lewat di Yerikho, ia minta disembuhkan.

Teriakan Bartimeus : Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku! bisa jadi masalah karena gelar Anak Daud adalah gelar yang semua orang tahu sebagai gelar Mesias. Dan kalau sampai terdengar oleh tentara Romawi lalu dianggap bahwa ada pemimpin lain yang diakui oleh rakyat Yahudi maka rombongan Yesus yang sedang lewat di Yerikho bisa kena masalah. Itu sebabnya banyak orang menyuruhnya diam. Tetapi Bartimeus tidak peduli dengan semua urusan politik sehingga ia berteriak lebih keras lagi dan kali ini tidak memanggil nama Yesus melainkan gelar Mesias-Nya: Anak Daud kasihanilah aku! Dan iman Bartimeus bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan itu membuat Yesus menyatakan ia sembuh. Namun sekalipun disuruh untuk pergi tetapi yang dilakukan Bartimeus justru ia mengikuti Yesus.

Bartimeus memang awalnya buta tetapi kebutaan itu tidak pernah menyentuh imannya. Dibandingkan banyak orang yang mendapat tubuh yang sempurna tetapi imannya buta, imannya tuli, imannya bisu, imannya lumpuh, imannya cacat. Sehingga seorang Mesias sudah hadir di antara mereka namun iman mereka yang cacat itu membuat mereka tidak mampu mengakui-Nya sebagai Mesias. Mereka bisa melihat mesias itu melakukan mujizat tetapi iman mereka tidak melihat-Nya. Mereka bisa mendengar mesias itu mengajar tetapi iman mereka tidak mendengar-Nya. Mereka bisa berbicara dengan mesias itu, tetapi imannya bisu. Mereka bisa mendekat dan meraih mesias itu tetapi iman mereka tidak mau berjalan mengikuti-Nya. Dan akhirnya iman yang tidak dapat melihat, mendengar, berbicara dan berjalan bersama Mesias,  membuat orang-orang yang sempurna tubuhnya itu justru tidak selamat. Sedangkan Bartimeus walaupun dia sudah disembuhkan tetapi tidak lantas membuat imannya menjadi cacat. Justru sekalipun disuruh pergi, Bartimeus memilih untuk berjalan mengikuti Yesus.

Dengan kelompok mana kita menyamakan diri kita saat ini?

Dengan Bartimeus yang ketika cacat dan setelah disembuhkan imannya tidak tersentuh oleh kekurangan itu, atau

Dengan orang banyak yang sekalipun dianugerahi tubuh yang sempurna namun imannya justru lemah.

Dalam hal apa kita bisa disebut memiliki iman yang lemah?

Ketika kita putus asa waktu sakit

Ketika kita putus asa dengan kondisi ekonomi kita.

Ketika kita putus asa dengan penderitaan kita.

Ketika kita putus asa dengan keadaan pasangan kita.

Ketika kita putus asa dengan keadaan anak-anak kita.

Ketika kita mengeluh dalam pelayanan kita

Ketika kita mengeluh dalam pekerjaan kita

Ketika kita mengeluh dalam menjalani hidup rumah tangga.

Karena saat itu kita tidak mengakui bahwa Yesus mampu menjadi penyelamat bagi kita. Karena saat itu kita sudah menyatakan bahwa Yesus tidak bisa memulihkan keadaan kita. Karena saat itu kita sudah menganggap bahwa Yesus tidak bisa memberi kita jalan keluar. Dan karena saat itu kita sudah berpikir bahwa Yesus tidak mampu membuat kita kuat menghadapi persoalan-persoalan kita.

            Mengakui Yesus sebagai Mesias bukan berarti hanya menyebut nama-Nya dalam doa. Melainkan pengakuan itu akan nampak ketika kita menghadapi persoalan-persoalan hidup kita. Jika kita putus asa dan mengeluh berarti pengakuan itu hanya di bibir. Namun jika dalam kondisi sakit, berkekurangan, menderita, disakiti, dikecewakan, dikhianati, diperlakukan tidak adil kita menyatakan semuanya pada Yesus dan tidak mengambil keputusan sendiri, maka pertolongan Tuhan akan dinyatakan pada kita. Jika kita menyadari saat ini bahwa iman kita lemah mari kita sama-sama nyatakan: Tuhan, tolonglah,bangunkan iman. amin