Awan gelap hanya bisa membuat matahari tidak terlihat.

Apakah kita bisa melihat bentuk matahari waktu ada awan gelap? Tidak bisa kan? Tetapi apakah berarti mataharinya hilang?

 

Memang awan gelap bisa membuat matahari tidak terlihat tapi tidak berarti awan gelap itu melenyapkannya. Demikian juga ketika kita susah, dapat banyak masalah, atau ketika kehilangan seorang yang kita kasihi, kesedihan itu membuat kita merasa Tuhan seperti pergi entah kemana sehingga Ia tidak datang untuk menolong kita. Kita merasa sendiri, kita merasa Tuhan membiarkan kita, padahal Ia tetap ada dan menunggu saat yang paling tepat untuk membuat kita melihat rencana-Nya yang paling indah dalam hidup kita.

            Jika kita mau mendapatkan kebaikan Tuhan, maka kita pun perlu  membiarkan Tuhan bekerja lewat berbagai hal yang kita alami. Paulus belajar untuk melihat kebaikan Tuhan lewat seringnya ia dipenjara, banyaknya ia disiksa, sampai hampir mati, lewat 39 kali cambukan dan masing-masing sabanyak 5 kali dari orang-orang Yahudi, lewat 3 kali dicambuk oleh orang-orang Romawi, lewat batu-batu yang dilemparkan kepadanya sampai hampir mati, lewat 3 kali kapalnya tenggelam dan lewat 24 jam terapung-apung di laut. Belum lagi bahaya-bahaya lain.

            Dengan membiarkan Tuhan bekerja lewat segala sesuatu, Paulus yakin bahwa Tuhan mendatangkan kebaikan baginya. Ia menjadi lebih tahan uji dan lebih mengandalkan Tuhan dalam hidupnya sehingga ketika ia harus dipenggal lehernya, ia tidak menyangkal imannya dan Paulus menyelesaikan pertandingan yang diperuntukkan baginya dengan baik.

            Dengan membiarkan Tuhan mengijinkan dukacita dalam hidup kita, maka kita sedang membiarkan Tuhan bekerja untuk mendatangkan kebaikan pada kita yang mengasihi-Nya dan yakinlah awan gelap hanya bisa membuat matahari tidak terlihat tetapi tidak dapat membuatnya lenyap.

Tenaaang…selalu ada 2 pilihan.

Tiap peristiwa selalu dapat dilihat dari 2 sisi. Jika pilihan kita tepat maka kebaikan Bapa-lah yang akan terlihat. Kata-kata ini dapat dijelaskan dengan cara seperti ini:

  • Lilin, terbakar sampai habis     :       dari satu sisi yaitu dari sisi lilin itu habis kita akan melihatnya sebagai hal yang tidak menyenangkan karena tadinya kita punya lilin tapi sekarang sudah habis. Dari sisi lain yaitu dari sisi cahayanya kita akan melihatnya sebagai hal yang baik karena tadinya kita gelap tapi karena lilin itu terbakar sampai habis kita memiliki sumber cahaya yang membantu kita melakukan kegiatan kita.
  • Tissue, dipakai sampai habis     :    dari satu sisi yaitu dari sisi tissue itu habis kita akan melihatnya sebagai hal yang tidak menyenangkan karena tadinya kita punya tisuue tapi sekarang tidak punya lagi. Dari sisi lain yaitu dari sisi gunanya kita akan melihatnya sebagai hal yang baik karena tadinya meja kita kotor, piring/sendok berdebu, kaki kena becek tapi karena tissue itu digunakan sampai habis semua hal yang kotor menjadi bersih.

Dari 2 hal ini kita dibantu untuk memahami bahwa memang terhadap setiap peristiwa dalam hidup kita diberi  pilihan untuk dari sisi mana peristiwa itu mau kita lihat. Jika kita memilih untuk melihatnya dari sisi yang tidak menyenangkan maka kita tidak bisa bahagia, tidak mendapat pembelajaran dan yang terpenting kita tidak mampu bersyukur. Sedangkan jika kita memilih untuk melihatnya dari sisi yang baik maka kita bisa lebih bahagia, ada pembelajaran yang didapat dan yang terpenting kita mampu bersyukur. Kalau kita memilih yang tidak tepat peristiwa baik sekalipun tidak dapat kita syukuri dan jika kita memilih yang tepat maka peritiwa yang menyedihkan sekalipun dapat disyukuri

Mau pesan gado-gado? ke warung aja….

Yohanes 7 : 14 -24

7:14. Waktu pesta itu sedang berlangsung, Yesus masuk ke Bait Allah lalu mengajar di situ.

7:15 Maka heranlah orang-orang Yahudi dan berkata: “Bagaimanakah orang ini mempunyai pengetahuan demikian tanpa belajar!”

7:16 Jawab Yesus kepada mereka: “Ajaran-Ku tidak berasal dari diri-Ku sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku.

7:17 Barangsiapa mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah, entah Aku berkata-kata dari diri-Ku sendiri.

7:18 Barangsiapa berkata-kata dari dirinya sendiri, ia mencari hormat bagi dirinya sendiri, tetapi barangsiapa mencari hormat bagi Dia yang mengutusnya, ia benar dan tidak ada ketidakbenaran padanya.

7:19 Bukankah Musa yang telah memberikan hukum Taurat kepadamu? Namun tidak seorangpun di antara kamu yang melakukan hukum Taurat itu. Mengapa kamu berusaha membunuh Aku?”

7:20 Orang banyak itu menjawab: “Engkau kerasukan setan; siapakah yang berusaha membunuh Engkau?”

7:21 Jawab Yesus kepada mereka: “Hanya satu perbuatan yang Kulakukan dan kamu semua telah heran. (band.Yoh 5)

7:22 Jadi: Musa menetapkan supaya kamu bersunat–sebenarnya sunat itu tidak berasal dari Musa, tetapi dari nenek moyang kita–dan kamu menyunat orang pada hari Sabat!

7:23 Jikalau seorang menerima sunat pada hari Sabat, supaya jangan melanggar hukum Musa, mengapa kamu marah kepada-Ku, karena Aku menyembuhkan seluruh tubuh seorang manusia pada hari Sabat.

7:24 Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil.”

 

Seorang guru sejarah memberi tugas pada murid-murid-Nya untuk membuat cerita mengenai perjuangan para pahlawan ketika membela negara. Setiap siswa harus menceritakan cerita itu di depan kelas. Pada hari yang ditentukan semua siswa mendapat giliran untuk bercerita. Jika ada siswa yang salah menyebutkan nama orang, tempat atau tanggal dalam peristiwa yang diceritakan, mereka dibiarkan sampai menyelesaikan ceritanya baru setelah itu dikoreksi oleh guru sejarah ini. Pada giliran murid yang terkahir untuk bercerita, guru ini merasa heran karena ceritanya benar-benar tepat bahkan ada fakta yang tidak diketahui oleh guru sejarahnya. Setelah selesai, guru lalu bertanya: dari buku mana kamu dapatkan cerita itu? Anak itu menjawab: saya mendapatkan cerita itu dari kakek saya. Saat itu dia-lah yang menjadi pemimpin pasukannya.

Informasi yang didapat langsung dari sumbernya tentu berbeda dengan yang didapat tidak secara langsung. Seperti dalam cerita Yesus dengan orang-orang Farisi pada hari raya pondok daun. Selama beberapa waktu orang-orang Farisi ini mengamati Yesus mengajar dan melakukan hal-hal yang tidak terdapat dalam kitab suci yang sangat mereka kuasai jadi mereka bermaksud mempertanyakan sumber ajaran Yesus. Karena kalau terbukti sumber ajaran Yesus tidak sesuai dengan sumber yang selama ini mereka yakini maka mereka bisa mempersalahkan Dia.

Ketika ajaran-Nya dipertanyakan sumbernya, hal ini justru menjadi kesempatan bagi Yesus untuk menyingkapkan kekeliruan orang-orang Farisi terhadap apa yang mereka yakini sebagai ajaran yang benar.

Jadi begini: kenapa saya sebut sebagai orang-orang Farisi padahal dalam bacaan disebut orang-orang Yahudi saja, karena orang-orang Farisi adalah kelompok agama dalam agama Yahudi yang sangat ketat menjaga hukum-hukum Musa. Mereka berusaha untuk menyenangkan hati Allah dengan cara melakukan dengan setepat-tepatnya hukum-hukum Musa. Malah supaya hukum-hukum Musa ini dijalankan dengan benar, mereka menafsirkan dan menambahkan peraturan-pertaurannya dan mengawasi supaya tiap orang Yahudi menjalankan hukum-hukum tersebut. Orang-orang Farisi memperlakukan sunat sebagai hukum Musa sehingga jika sunat itu harus dilakukan maka walaupun hari sabat tetap harus dilaksanaan. Padahal menurut Yesus sunat bukan hukum Musa melainkan sudah ada sejak jaman nenek moyang dan merupakan perjanjian yang diikat oleh Allah dengan Abraham. Sementara itu beberapa waktu sebelumnya, Yesus menyembuhkan seorang di Betesda pada hari Sabat, dan tindakan Yesus ini dianggap menghina hari sabat dan ajaran yang salah sehingga mereka mau membunuh-Nya.(Yoh. 5).

Saat itulah Yesus menyingkapkan keadaan yang sebenarnya: bahwa ajaran yang disampaikan-Nya itu bukan ajaran-Nya sendiri melainkan Ia terima dari Bapa. Kalau orang-orang Farisi menganggap ajaran mereka benar, buktinya mereka telah menjalankan yang keliru yaitu menganggap sunat sebagai hukum Musa sehingga pada hari sabat sekalipun mereka tetap akan melaksanakannya. Jadi kenapa mereka ingin membunuh-Nya kalau ia menyembuhkan 1 orang pada hari Sabat dan menjadikan itu suatu masalah besar, sementara mereka melakukan pelanggaran berulang-ulang selama bertahun-tahun tanpa menyadarinya.

Kenapa sampai kekeliruan seperti ini bisa terjadi adalah karena orang cuma belajar tetapi tidak meminta yang memiliki ajaran itu untuk menuntun agar yang dipahami benar. Saat ini sering ada komentar dari jemaat begini: “jadi, mana yang benar?” komentar-komentar seperti ini justru menjadi suatu peringatan bagi kita semua  baik yang menyampaikan maupun yang mendengarkan Firman Tuhan bahwa ini berarti kita belum sepenuhnya minta pertolongan Roh Kudus. Lho, kok bisa begitu? Bukannya kita sudah berdoa?

Coba perhatikan ayat 17, Yesus mengatakan bahwa siapapun yang mau melakukan kehendak Bapa pasti akan tahu dari mana suatu ajaran berasal. Artinya jika seorang benar-benar ingin melakukan kehendak Bapa, setiap kali ia mendengarkan Firman Tuhan, ia minta Roh Kudus menolongnya untuk memahami arti dari Firman Tuhan itu bagi hidupnya sendiri bukan hidup orang lain. Firman Tuhan didengarkan bukan dengan dugaan melainkan dengan pemahaman. Sehingga tidak muncul istilah Firman Tuhan-nya terlalu tajam dan lain sebagainya.

Kalau dianggap Firman Tuhan terlalu tajam berarti apalagi fungsi Firman Tuhan kalau tajamnya dikurangi? Karena dalam Alkitab tidak tertulis Firman Allah lembut seperti bulu domba melainkan yang tertulis: Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. Itu terdapat dalam Ibrani 4:12, jadi pedangnya bukan pedang tumpul melainkan pedang yang lebih tajam dari pedang bermata dua manapun. Justru kalau telinga kita Cuma ingin dengar yang enak-enak saja: yang mengatakan bahwa kita sudah berdosa tapi Tuhan tidak melihat dosa kita, maka apa yang dikuatirkan Paulus dan disampaikan pada Timotius terbukti. Coba periksa 2 Tim 4 : 3, 4 Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.

            Dan satu hal yang terlupakan adalah kita menganggap orang yang akan menyampaikan Firman sudah pasti menyampaikan Firman Tuhan, sehingga membuat kita lupa atau merasa tidak perlu untuk berdoa bagi orang itu. Akibatnya kita jadi kecewa karena tidak ada berkat yang kita terima dari Firman yang disampaikan. Hal ini saya sadari waktu setelah doa konsistori, prebiter yang waktu itu menjadi P1 memberi alasan kenapa waktu berdoa, dia tidak secara khusus mendoakan pelayan Firman karena menurutnya semua sama-sama melayani Tuhan. Padahal bukan soal nama pelayan Firman disebut melainkan bahwa tugas menyampaikan Firman Tuhan sangat mudah berubah menjadi menyampaikan Firman sendiri jika Roh Kudus tidak menuntun. Oleh karena itu perlu dukungan bukan saja dari keluarga yang bersangkutan, atau presbiter yang mendampingi melainkan semua orang yang hadir dalam ibadah itu.

            Ketika semua orang mendukung siapapun yang akan menyampaikan Firman Tuhan dalam doa maka, sekalipun kotbah yang disiapkan bermaksud untuk menyampaikan isi hatinya sendiri, tapi Roh Kudus akan mencegahnya sehingga yang disampaikan benar-benar seperti yang Tuhan kehendaki. Dan akhirnya kita semua bisa sama-sama mengerti dan mendapat berkat dari Firman Tuhan yang disampaikan.

            Jika kita benar-benar ingin hidup seperti yang Bapa kehendaki maka kita akan mengaminkan semua yang dikatakan oleh Firman Tuhan dan sekalipun kita mendengar berbagai macam ajaran yang membingungkan, Roh Kudus akan memberi tahu kita mana yang harus kita pegang dan lakukan, amin.

 

harus kenal jangan cuma tahu

Matius 16:13-16

16:13. Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?”

16:14 Jawab mereka: “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.”

16:15 Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”

16:16 Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!”

 

            10 calon pemandu wisata yang dipanggil ke sebuah kota kecil yang bersejarah. Tertarik dengan jaminan yang ditawarkan sepuluh orang ini bersiap untuk diuji pengetahuannya mengenai sejarah kota itu. Begitu tiba di kota kecil itu, seorang ibu menyambut mereka dan mempersilahkan mereka untuk tinggal di sebuah penginapan sampai semua ujian selesai dijalankan dan diumumkan satu orang yang akan diterima. Hari pertama mereka bersemangat untuk menjalani semua pelosok kota. Hari kedua beberapa memilih tinggal karena sudah tahu semua tempat yang ada di kota kecil itu. Hari ketiga yang tinggal di penginapan makin banyak, hari keempat hanya ada 1 orang yang memutuskan untuk berkeliling,  demikian juga hari ke-5 sampai genap 1 minggu ke-10 orang itu sudah tinggal di tempat itu. Beberapa dari mereka sudah mulai mengeluh karena kota itu begitu kecil  sehingga membosankan. Beberapa meminta ujian dipercepat supaya ketahuan siapa yang diterima. Pada hari yang ke-8 mereka semua dipanggil ke kantor desa untuk mengikuti ujian. Mereka semua mendapat pertanyaan yang sama: berapa waktu yang diperlukan Ibu Smith untuk menyelesaikan ceritanya? Pertanyaan ini sama sekali di luar dugaan ke-10 orang itu. Ketika jawabannya dikumpulkan hanya satu orang yang menjawab dengan benar yaitu 5 hari. Dan orang inilah yang diterima menjadi pemandu wisata di desa kecil itu. Kenapa? Karena setelah bertemu dengan Ibu Smith di hari ketiga, ia diminta datang selama 4 hari berturut-turut untuk mendengarkan Ibu Smith menceritakan secara lengkap sejarah desa itu yang tidak diceritakan dalam buku-buku atau katalog-katalog panduan wisata. Dan siapapun yang mendengarkan ceritanya secara lengkap akan mengenal dan mencintai kota itu. Kota itu tidak memerlukan seorang yang tahu tentangnya melainkan seorang yang mengenal, mencintai dan terikat dengan kota itu.

            Ketika Yesus menanyakan mengenai siapa Anak Manusia di mata orang-orang dan siapakah Dia menurut para murid, saat itu bukannya Yesus sedang butuh pengakuan atau sedang lupa tentang siapa Dirinya. Melainkan Yesus menguji seberapa jauh murid-murid-Nya mengenal diri-Nya. Kenapa hal ini menjadi sesuatu yang penting bagi Yesus, karena setelah nanti Dia tidak lagi bersama-sama dengan muri-murid-Nya,  mereka akan menjadi tim yang akan meneruskan pelayanan-Nya. Jika mereka tidak punya ide tentang siapa yang saat ini sedang bersama-sama dengan mereka, jika mereka tidak mengenalnya, tidak mencintai-Nya dan terikat pada-Nya, bagaimana mereka akan meneruskan pelayanan-Nya?

            Pengutusan murid-murid-Nya akan menjadi hal yang berat untuk dilakukan jika muri-murid ini tidak benar-benar paham siapa Yesus dan apa misi-Nya. Pengutusan ini tidak memerlukan orang yang tahu melainkan seorang yang memang mengenal, memahami dan mencintai Yesus.  Terbukti, kecintaan murid-murid pada Yesus, keyakinan mereka akan kemesiasan-Nya, dan kepercayaan mereka bahwa Ia adalah Juruselamat yang selama itu dijanjikan dan dinantikan telah membuat murid-murid ini bersedia untuk dirajam, dikejar-kejar, dianiaya, tidak lelah memberitakan, bahkan mengalami akhir hidup yang tragis. Penganiayaan tidak membuat mereka  ciut, kelaparan tidak membuat mereka lemah, tidak diterima tidak membuat mereka putus asa, ditutupnya satu pintu hati tidak membuat mereka lelah mengharapkan ada pintu lain yang akan terbuka, kedinginan tidak membuat mereka menyerah. Semua itu bisa ditanggung karena mereka sangat mengenal, memahami dan meyakini perjuangan-Nya. Mereka tidak hanya sekedar tahu siapa nama ayah-ibunya, di mana Ia dilahirkan, mujizat apa yang sudah dilakukan, kebaikan apa yang sudah dibuat, hukum apa yang sudah diajarkan, melainkan mereka meyakini untuk apa Ia dihadirkan Bapa di tengah-tengah dunia ini.

            Ada seorang mau membangun rumah untuk ditinggali oleh para orang tua yang sudah lanjut usia. Ia tidak hanya sekedar membayar para pekerja dan mencukupkan kebutuhan untuk pembangunan itu. Tetapi orang ini mengajak para pekerja untuk tinggal bersama dengan dia selama seminggu di sebuah panti jompo. Mereka mulai dari mengamati kegiatan orang-orang tua yang sudah lanjut usia itu, mengetahui kebiasaan, lalu  mengenal tabiat sampai akhirnya mereka semua memahami untuk apa rumah itu dibangun. Setelah itu orang-orang ini mulai bekerja dengan sungguh-sungguh dan mereka mewujudkan ide-ide hebat yang sangat membantu orang-orang tua dalam keterbatasan mereka. Biarpun sulit karena bahan atau idenya tidak lazim, tapi mereka tidak putus asa. Kita semua bisa membayangkan, jika sebuah tempat tinggal dibangun dengan pengertian, pemahaman dan kesungguhan maka tempat itu pasti akan sangat nyaman untuk ditinggali.

            Demikian juga ketika kita berkomitmen untuk mengikut Yesus dan menjadi saksi-Nya, maka yang diperlukan bukan sekedar tahu siapa itu Yesus, apa latar belakangnya, sampai mana kemampuan-Nya. Melainkan benar-benar mengenal, mencintai dan terikat pada-Nya. Dalam perumpamaan, Yesus mengumpamakan diri-Nya adalah Pokok Anggur dan pengikut-Nya adalah ranting-rantingnya. Hanya dengan terikat pada pokoknya, maka ranting-ranting anggur bisa berbuah.

            Siapa saja boleh menyatakan ia sangat mengenal Yesus, bahkan mungkin pernah bertemu dengan Yesus. Tapi semua itu akan teruji ketika anak kita bermasalah, ketika pasangan kita berubah setia dan orang ketiga hadir dalam rumah tangga kita, ketika hasil kerja keras tidak bisa mencukupi semua yang kita butuhkan, ketika doa selama bertahun-tahun belum terjawab, ketika apa yang kita terima berbeda dengan apa yang kita inginkan,  ketika menerima tantangan dalam pelayanan,  ketika  satu per satu yang kita miliki terpaksa dijual, ketika seorang yang kita kasihi terbaring di ruang gawat darurat, ketika kita dirumahkan, ketika belum ada suara tangisan bayi di rumah kita, ketika kita ditinggalkan oleh orang yang kita kasihi, ketika kita dilupakan oleh orang-orang yang pernah mengaku dekat dengan kita, ketika usaha kita dicurangi, maupun ketika orang membicarakan semua yang buruk mengenai kita. Apa yang kita lakukan dalam saat-saat itulah yang menunjukkkan seberapa jauh kita mengenal, mencintai dan terikat pada Yesus.

Jika kita sungguh-sungguh mengenal, mencintai dan memahami Yesus kita akan tahu bahwa memberi maaf itu bukan hak melainkan kewajiban kita dan bahwa mereka yang dimaafkan adalah orang-orang yang berhak untuk menerimanya. Kita akan tahu bahwa 7 roti bisa memberi makan 4000 orang karena apa yang ada itu disyukuri. Kita akan tahu bahwa Tuhan akan memberi jawaban terbaik hanya jika kita bersedia untuk menunggu waktu-Nya. Kita akan tahu bahwa  Yesus mencukupkan apa yang kita butuhkan bukan setiap apa yang kita inginkan. Kita akan tahu bahwa dalam pelayanan yang dipercayakan pada kita, kita tidak melayani manusia atau dipekerjakan oleh manusia melainkan melayani Tuhan lewat sesama dan hanya Tuhan yang kita takuti. Kita akan tahu bahwa semua yang kita miliki saat ini tidak ada satupun yang akan kita bawa menghadap Bapa nanti dan tidak ada satupun yang bisa membuat Bapa baru mau atau berhenti mengasihi kita. Kita akan tahu bahwa kelemahan tubuh membuka jalan bagi kita untuk mendekat dan mengalami kasih sayang Tuhan. Kita akan tahu bahwa dirumahkan bukan sebuah tanda titik. Kita akan tahu bahwa kehadiran seorang anak adalah hak Bapa. Kita akan tahu bahwa tidak ada satupun hubungan di dunia yang kekal. Kita akan tahu bahwa sekalipun seorang ibu melupakan anak yang dikandungnya, kita tidak akan dilupakan oleh Bapa. Kita akan tahu bahwa Bapa mengatur rejeki kita masing-masing sesuai dengan kemurahan-Nya. Kita akan tahu bahwa pembalasan 100% adalah urusan Bapa.

Sehingga hidup yang kita cerminkan adalah hidup yang menunjukkan pengenalan, pemahaman dan cinta kita bagi Yesus. Seorang perawat yang bekerja di antara orang-orang yang tidak seiman pernah ditanya oleh salah seorang pasiennya. Kamu agamanya apa? Saya Kristen. Kenapa orang sebaik kamu beragama Kristen. Ibu ini menjawab: saya bisa menjadi seorang yang baik karena Yesus menginginkan saya seperti itu. Disadari atau tidak, saat itu satu pintu hati sedang diketuk oleh Yesus yang hidup dalam diri seorang perawat. Tapi sudahkah kita mempersiapakan jawaban jika suatu saat seorang bertanya pada kita: apa agama anda? Lalu kita jawab saya beragama Kristen. Dan orang itu lanjut bertanya: Kenapa orang sejahat anada beragama Kristen? Apakah kita akan menjawab: Saya jahat karena Yesus menginginkan saya seperti itu? Mudahan-mudahan bukan itu jawabannya. Amin.

Kalo ga bisa buktikan, jangan bertobat dulu.

Lukas 16 : 27 – 31

16:27 Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku,

16:28 sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini.

16:29 Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu.

16:30 Jawab orang itu: Tidak, bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat.

16:31 Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.”

Saya menduga banyak orang telah membaca bagian ini dan langsung menafsirkan bahwa ini adalah soal kaya-miskin. Kalau memang seperti demikian maka orang kaya akan menjalani hidupnya tanpa harapan sedangkan orang miskin akan menjalani hidupnya seenaknya. Jika dipahami seperti tadi maka orang akan berpikir bahwa kaya adalah suatu kesalahan sementara menjadi miskin adalah suatu yang benar. Padahal bagaimana jika seorang itu menjadi kaya karena dia habis dipecat tapi kemudian berusaha sehingga berhasil. Seperti pengalaman pemilik merek sepatu edward forrer yang dipecat dari pabrik sepatu tempat ia bekerja dan kemudian dengan modal ketrampilan membuat sepatu dia membuat sendiri sepatu dan dijual sampai akhirnya saat ini dia tinggal di rumah mewahnya di daerah gold coast, australia. Sementara bagaimana jika seorang tetap miskin karena dia hidup dengan pemahaman burung pipit saja Tuhan pelihara dan bunga bakung saja Tuhan kasih baju yang indah maka Tuhan juga pasti beri saya makan dan baju tanpa perlu buat apa-apa. Ini berarti tidak mungkin maksud bacaan ini adalah soal akhir hidup orang kaya-miskin, melainkan soal hidup yang dijalani setiap orang.

            Perhatikan kata-kata orang kaya di ayat 30: jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada 5 saudaranya itu untuk menjelaskan soal akhir hidup maka mereka akan bertobat. Ini berarti si orang kaya sadar bahwa sampai mati dia tidak bertobat dan ke-5 saudaranya yang masih hidup pun tidak hidup dalam pertobatan.

Berarti inti kisah yang ditulis oleh Lukas ini adalah penderitaan menanti tiap orang yang tidak hidup dalam pertobatan dan sukacita menanti tiap orang yang hidup dalam pertobatan setelah hidup berakhir. Keadaan kaya ataupun miskin tidak jadi ukuran yang ada hanya orang yang dibenarkan dan yang tidak dibenarkan.

            Banyak orang bisa mengaku bertobat tetapi tidak semua orang menjalani hidup dalam pertobatan. Seorang teman mengatakan dia sudah lahir baru tetapi kemudian dia mengajak teman yang lain untuk pindah dari gereja asalnya dengan alasan gereja yang baru bisa memberi transport kepada pelayan firman lebih banyak dari gereja sebelumnya, kalau begitu apa arti lahir baru bagi dia? Apakah lahir baru cuma berarti pindah gereja atau perubahan cara ibadah? Sekalipun seorang menyatakan diri sudah lahir baru, bertobat dan lain-lainnya tetapi jika dia hidup masih dengan cara yang lama maka sebenarnya dia masih lahir lama.

            Setiap komitmen untuk bertobat selalu harus dibuktikan dalam hidup. Ada orang yang memahami bahwa yang tahu kita bertobat atau tidak kan Tuhan jadi ya cukup Tuhan yang tahu. Tetapi Yesus telah memberitahu bahwa cara untuk membuktikan kasih pada Tuhan adalah lewat perlakuan terhadap sesama  jelasnya ada dalam Matius 25 : 34 – 46:

25:34 Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.

25:35 Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;

25:36 ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.

25:37 Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum?

25:38 Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian?

25:39 Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?

25:40 Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.

25:41 Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya.

25:42 Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum;

25:43 ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku.

25:44 Lalu merekapun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau?

25:45 Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.

25:46 Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.”

 

Tetapi mungkin ada yang bisa berbantah, emang pendeta itu tahu apa? Memangnya saya harus lapor dia waktu saya mau menolong orang? Memangnya manusia musti tahu waktu saya berbuat hal-hal baik.  Tentu saja jawabannya tidak perlu tetapi untuk diingat ini bukan cuma persoalan menolong orang lapar, haus, memberi tumpangan, pakaian, melawat saja. Bukan karena ditulis seperti itu maka cuma itu yang dilakukan melainkan intinya yang dipahami yaitu: soal mengasihi sesama sebagai wujud dari mengasihi Tuhan. Kalau yang dipahami adalah kasih maka kita akan tahu bahwa maksud dari bacaan ini adalah menyangkut semua yang kita lakukan dan ucapkan kepada orang lain.

            Dan ada satu hal yang sering terluput dari perhatian kita yaitu:  kata-kata dari orang-orang yang dibenarkan dari ayat 37 – 39 : Tuhan, kapan kami lihat engkau lapar, haus, tidak punya tempat tinggal, telanjang, sakit dan di penjara sehingga kami melakukan semua itu untuk engkau? Artinya hal-hal benar yang dilakukan oleh orang-orang ini dilakukan tanpa sadar, bukan karena disuruh atau sedang diawasi atau karena dilihat orang. Hanya orang-orang yang tulus yang bisa sampai tidak menyadari kalau dirinya sudah berbuat baik. Berbuat baik bukan sebagai keharusan melainkan karena memang hidupnya seperti itu. Bandingkan dengan jawaban dari orang-orang yang tidak dibenarkan: kapan kami melihat engkau dalam keadaan seperti itu dan tidak melayani engkau? Ini jawaban dari orang-orang yang melakukan kebaikan karena alasan tertentu dan kepada orang-orang tertentu. Hanya orang-orang yang tidak tulus yang benar-benar menyadari bahwa dia sudah berbuat kebaikan. Saking sadarnya semua kebaikannya dihitung dan diumumkan sebagai (katanya) “kesaksian”

            Malam ini kita semua merenungkan Firman Tuhan yang sama dan saya simpulkan supaya pemahaman kita sama sehingga tidak ada yang menuduh saya sengaja mengakali Firman Tuhan untuk kepentingan saya:

1.        Lukas 16 : 27 – 31 tidak bicara soal orang kaya masuk neraka dan orang miskin masuk surga. Melainkan bicara soal menjalani hidup dalam pertobatan selama Tuhan masih menganugerahkan waktu hidup bagi kita. Karena jika kesempatan itu sudah tidak lagi diberikan maka tidak ada usaha atau jeritan menyayat hati seperti apapun untuk merubahnya. Dan ini peringatan terutama bagi saya dan semua yang hadir dan mendengar Firman Tuhan ini.

2.       Menjalani hidup dalam pertobatan berarti melakukan hal-hal baik pada siapapun tanpa menjadikannya suatu keharusan, karena disuruh atau karena diawasi. Pertobatannya dibuktikan lewat hidup dengan sesama karena dengan cara seperti itulah Tuhan menginginkan kita melayani-Nya.

Dan mari kita semua belajar untuk tidak menjadikan Firman Tuhan seperti gado-gado yang bisa dipesan gak pake pedes, ga pake yang pahit, yang biasa-biasa saja. Karena kalau pemberitaan Firman sudah pake acara pesan sponsor maka apa yang ribuan tahun lalu dikuatirkan oleh Paulus terjadi yaitu dalam 2 Tim 4 : 3, 4: Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.

Amin.