Lukas 16 : 27 – 31
16:27 Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku,
16:28 sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini.
16:29 Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu.
16:30 Jawab orang itu: Tidak, bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat.
16:31 Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.”
Saya menduga banyak orang telah membaca bagian ini dan langsung menafsirkan bahwa ini adalah soal kaya-miskin. Kalau memang seperti demikian maka orang kaya akan menjalani hidupnya tanpa harapan sedangkan orang miskin akan menjalani hidupnya seenaknya. Jika dipahami seperti tadi maka orang akan berpikir bahwa kaya adalah suatu kesalahan sementara menjadi miskin adalah suatu yang benar. Padahal bagaimana jika seorang itu menjadi kaya karena dia habis dipecat tapi kemudian berusaha sehingga berhasil. Seperti pengalaman pemilik merek sepatu edward forrer yang dipecat dari pabrik sepatu tempat ia bekerja dan kemudian dengan modal ketrampilan membuat sepatu dia membuat sendiri sepatu dan dijual sampai akhirnya saat ini dia tinggal di rumah mewahnya di daerah gold coast, australia. Sementara bagaimana jika seorang tetap miskin karena dia hidup dengan pemahaman burung pipit saja Tuhan pelihara dan bunga bakung saja Tuhan kasih baju yang indah maka Tuhan juga pasti beri saya makan dan baju tanpa perlu buat apa-apa. Ini berarti tidak mungkin maksud bacaan ini adalah soal akhir hidup orang kaya-miskin, melainkan soal hidup yang dijalani setiap orang.
Perhatikan kata-kata orang kaya di ayat 30: jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada 5 saudaranya itu untuk menjelaskan soal akhir hidup maka mereka akan bertobat. Ini berarti si orang kaya sadar bahwa sampai mati dia tidak bertobat dan ke-5 saudaranya yang masih hidup pun tidak hidup dalam pertobatan.
Berarti inti kisah yang ditulis oleh Lukas ini adalah penderitaan menanti tiap orang yang tidak hidup dalam pertobatan dan sukacita menanti tiap orang yang hidup dalam pertobatan setelah hidup berakhir. Keadaan kaya ataupun miskin tidak jadi ukuran yang ada hanya orang yang dibenarkan dan yang tidak dibenarkan.
Banyak orang bisa mengaku bertobat tetapi tidak semua orang menjalani hidup dalam pertobatan. Seorang teman mengatakan dia sudah lahir baru tetapi kemudian dia mengajak teman yang lain untuk pindah dari gereja asalnya dengan alasan gereja yang baru bisa memberi transport kepada pelayan firman lebih banyak dari gereja sebelumnya, kalau begitu apa arti lahir baru bagi dia? Apakah lahir baru cuma berarti pindah gereja atau perubahan cara ibadah? Sekalipun seorang menyatakan diri sudah lahir baru, bertobat dan lain-lainnya tetapi jika dia hidup masih dengan cara yang lama maka sebenarnya dia masih lahir lama.
Setiap komitmen untuk bertobat selalu harus dibuktikan dalam hidup. Ada orang yang memahami bahwa yang tahu kita bertobat atau tidak kan Tuhan jadi ya cukup Tuhan yang tahu. Tetapi Yesus telah memberitahu bahwa cara untuk membuktikan kasih pada Tuhan adalah lewat perlakuan terhadap sesama jelasnya ada dalam Matius 25 : 34 – 46:
25:34 Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.
25:35 Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;
25:36 ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.
25:37 Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum?
25:38 Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian?
25:39 Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?
25:40 Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.
25:41 Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya.
25:42 Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum;
25:43 ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku.
25:44 Lalu merekapun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau?
25:45 Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.
25:46 Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.”
Tetapi mungkin ada yang bisa berbantah, emang pendeta itu tahu apa? Memangnya saya harus lapor dia waktu saya mau menolong orang? Memangnya manusia musti tahu waktu saya berbuat hal-hal baik. Tentu saja jawabannya tidak perlu tetapi untuk diingat ini bukan cuma persoalan menolong orang lapar, haus, memberi tumpangan, pakaian, melawat saja. Bukan karena ditulis seperti itu maka cuma itu yang dilakukan melainkan intinya yang dipahami yaitu: soal mengasihi sesama sebagai wujud dari mengasihi Tuhan. Kalau yang dipahami adalah kasih maka kita akan tahu bahwa maksud dari bacaan ini adalah menyangkut semua yang kita lakukan dan ucapkan kepada orang lain.
Dan ada satu hal yang sering terluput dari perhatian kita yaitu: kata-kata dari orang-orang yang dibenarkan dari ayat 37 – 39 : Tuhan, kapan kami lihat engkau lapar, haus, tidak punya tempat tinggal, telanjang, sakit dan di penjara sehingga kami melakukan semua itu untuk engkau? Artinya hal-hal benar yang dilakukan oleh orang-orang ini dilakukan tanpa sadar, bukan karena disuruh atau sedang diawasi atau karena dilihat orang. Hanya orang-orang yang tulus yang bisa sampai tidak menyadari kalau dirinya sudah berbuat baik. Berbuat baik bukan sebagai keharusan melainkan karena memang hidupnya seperti itu. Bandingkan dengan jawaban dari orang-orang yang tidak dibenarkan: kapan kami melihat engkau dalam keadaan seperti itu dan tidak melayani engkau? Ini jawaban dari orang-orang yang melakukan kebaikan karena alasan tertentu dan kepada orang-orang tertentu. Hanya orang-orang yang tidak tulus yang benar-benar menyadari bahwa dia sudah berbuat kebaikan. Saking sadarnya semua kebaikannya dihitung dan diumumkan sebagai (katanya) “kesaksian”
Malam ini kita semua merenungkan Firman Tuhan yang sama dan saya simpulkan supaya pemahaman kita sama sehingga tidak ada yang menuduh saya sengaja mengakali Firman Tuhan untuk kepentingan saya:
1. Lukas 16 : 27 – 31 tidak bicara soal orang kaya masuk neraka dan orang miskin masuk surga. Melainkan bicara soal menjalani hidup dalam pertobatan selama Tuhan masih menganugerahkan waktu hidup bagi kita. Karena jika kesempatan itu sudah tidak lagi diberikan maka tidak ada usaha atau jeritan menyayat hati seperti apapun untuk merubahnya. Dan ini peringatan terutama bagi saya dan semua yang hadir dan mendengar Firman Tuhan ini.
2. Menjalani hidup dalam pertobatan berarti melakukan hal-hal baik pada siapapun tanpa menjadikannya suatu keharusan, karena disuruh atau karena diawasi. Pertobatannya dibuktikan lewat hidup dengan sesama karena dengan cara seperti itulah Tuhan menginginkan kita melayani-Nya.
Dan mari kita semua belajar untuk tidak menjadikan Firman Tuhan seperti gado-gado yang bisa dipesan gak pake pedes, ga pake yang pahit, yang biasa-biasa saja. Karena kalau pemberitaan Firman sudah pake acara pesan sponsor maka apa yang ribuan tahun lalu dikuatirkan oleh Paulus terjadi yaitu dalam 2 Tim 4 : 3, 4: Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.
Amin.