Ketika pilot otomatis ingin mengambil alih

Lukas 13:1. Pada waktu itu orang menceritakan kepada Yesus mengenai beberapa orang Galilea yang dibunuh Pilatus, ketika mereka sedang mempersembahkan kurban kepada Allah. 13:2 Menanggapi cerita itu, Yesus berkata, “Karena orang-orang Galilea itu dibunuh seperti itu, kalian kira itu buktinya mereka lebih berdosa daripada semua orang Galilea yang lain? 13:3 Sama sekali tidak! Tetapi ingatlah: kalau kalian tidak bertobat dari dosa-dosamu, kalian semua akan mati juga, seperti mereka. (BIS)

Satu peristiwa perjamuan kudus yang selalu saya ingat adalah waktu mengikutinya di daerah maluku tengah, ketika semua orang yang mendapat giliran maju ke meja perjamuan sudah duduk, tiba-tiba kaca mata yang dipegang seorang ibu jatuh dan pecah. Menurut saya, itu bukan sebuah kejadian yang aneh, tetapi bagi penduduk setempat rupanya itu pertanda ada yang salah dengan ibu itu. Dan pembicaraan tentang ibu yang kaca matanya pecah dalam ibadah perjamuan kudus menjadi bahan pembicaraan selama seminggu penuh, seolah-olah ibu itu telah melakukan aib besar yang tidak terampuni hanya gara-gara kacamatanya jatuh ketika ia duduk di meja perjamuan, padahal saya tahu betul ibu itu kecapean karena mengurus pernikahan anak-nya.

Pemahaman: bahwa jika sesuatu yang buruk terjadi pada seseorang berarti orang itu telah berbuat dosa, sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Salah satunya dalam peristiwa terbunuhnya beberapa orang Galilea yang hendak membawa persembahan korban pada Allah. Dengan alasan yang tidak jelas orang-orang ini dibunuh oleh Pilatus dan darah mereka dicampur dengan darah korban yang mau mereka persembahkan. Setelah peristiwa itu beberapa orang kemudian datang menyampaikan berita itu kepada Yesus. Mereka mengira Yesus akan memberi pernyataan bahwa orang-orang yang dibunuh itu mati dengan cara demikian karena dosa mereka yang sangat besar dan membenarkan mereka yang tidak mengalami nasib seperti itu.

Tapi yang terjadi justru sebaliknya Yesus malah berbalik menyerang mereka dengan mengatakan bahwa jika tidak bertobat, maka mereka pun akan binasa dengan cara yang sama seperti orang-orang yang dibunuh Pilatus itu. Dari pernyataan Yesus ini yang mau dikatakan adalah: tiap orang hendaknya berusaha supaya tidak terjebak dalam godaan untuk menilai orang lain lebih berdosa dari dirinya hanya karena melihat hidupnya lebih baik dari orang lain.

Seperti yang saya pernah dengar dari mulut seorang yang mengaku hamba Tuhan bahwa para pelayan firman yang berkotbah di mana-mana dan hidupnya bergelimpangan harta itu menandakan bahwa mereka lebih benar hidupnya sehingga mereka ini lebih diberkati Tuhan dari para pelayan firman yang hidupnya susah dan hal ini sekaligus menandakan bahwa hidup mereka perlu dipertanyakan karena kalau hidupnya benar di hadapan Tuhan tidak mungkin bisa sampai ga punya apa-apa. Belakangan saya dengar bisnis dari hamba Tuhan ini mengalami kemunduran dan jemaatnya pun tidak bertambah banyak, dan saya hanya bisa bertanya bagaimana dia menilai keadaannya saat ini.

Yesus mengkritik orang-orang yang menganggap orang lain lebih berdosa daripada dirinya hanya karena keadaan mereka lebih baik dari orang lain. Yesus mengkritik orang-orang yang ingin dianggap dosanya tidak seberat dan sebanyak orang lain hanya karena keadaan mereka lebih baik dari orang-orang lain itu. Orang-orang seperti ini laparnya bukan makanan tetapi pujian. Tapi bukannya pujian yang dimakan orang-orang ini melainkan pil pahit yang Yesus berikan bagi mereka agar mereka menyadari bahwa mereka bukannya lapar tapi sakit. Mereka bukan orang-orang benar melainkan justru orang-orang yang memerlukan pertobatan.

Ketika kita melihat keadaan orang lain tidak sebaik keadaan kita jangan buru-buru memberi cap bahwa dosa orang itu lebih besar dari dosa kita atau sebaliknya ketika melihat keadaan orang lain lebih baik dari keadaan kita, jangan juga buru-buru memberi cap bahwa kita lebih berdosa dari mereka. Karena intinya tidak ada dosa besar atau dosa kecil melainkan yang ada hanyalah dosa dan faktanya semua orang berdosa.

Keadaan baik ataupun buruk, untung ataupun malang, sehat atau sakit, celaka atau selamat, kuat ataupun lemah, jaya atau bangkrut, berlimpah atau kurang tidak menjadi ukuran bagi besar atau kecilnya dosa dan juga bukan suatu ukuran yang menandakan seorang diberkati atau tidak melainkan semua itu adalah bagian dari rancangan Tuhan dalam hidup setiap orang.

Buktinya ada orang yang hidupnya nampak sempurna tapi ternyata berakhir menyedihkan, ada orang yang hidupnya benar-benar di bawah standar tapi berakhir dengan kejayaan. Dan ada juga orang yang begitu-begitu saja hidupnya tidak maju tidak juga mundur tapi bahagia sementara keadaan yang sama tapi dialami orang lain yang dirasakan justru tidak bahagia. Ini karena Tuhan tidak memakai kurikulum sekolah untuk membentuk setiap orang sehingga harus memakai metode dan bahan yang seragam. Ia membentuk tiap orang dengan cara yang berbeda, sehingga kita tidak bisa pakai ukuran baik tanda dosanya sedikit sehingga diberkati lalu buruk sebagai tanda dosanya banyak sehingga dikutuk.

Jadi kalau mendengar ada orang yang dengan mulutnya sendiri menyebut dirinya baik, bijak, rendah hati, murah hati, maka berdoalah saat itu juga supaya Tuhan mengampuninya dan membuatnya bertobat sehingga dia tidak harus menanggung suatu keadaan yang tidak akan ingin ditanggungnya.

Renungan ini saya dapat waktu menonton salah satu bagian dari film kartun wall-e yaitu ketika pilot otomatis yang seharusnya hanya berfungsi untuk mendampingi dan menolong pilot dalam menjalankan pesawat ruang angkasa tiba-tiba berubah ingin menjadi penguasa. Ia mengira dengan kepintaran dan kekuatannya untuk melumpuhkan pilot berarti kendali atas pesawat itu ada di tangannya. Pilot otomatis ini lupa kalau ia cuma alat yang diciptakan untuk menolong bukan untuk mengambil alih kepemimpinan. Alat ini lupa bahwa untuk mengoperasikannya atau jika mau mengakhiri fungsinya hanya semudah menekan tombol manual dan semua kehebatan dan kekuatan yang begitu dibanggakannya itu berakhir.

Apapun keadaan kita saat ini, kita semua adalah alat kecil dalam tangan Tuhan. Kelebihan, kehebatan, kemampuan, kejayaan kita tidak dapat membuat kita mengira bisa mengambil alih kendali Tuhan atas hidup kita maupun orang lain. Dan sebaliknya kekurangan dan kelemahan kita pun tidak lantas membuat kita lalu mengira hidup kita ada di luar kendali Tuhan.

Pemegang kendali atas hidup tiap manusia di bumi ini adalah Tuhan dan Ia yang mengetahui rahasia perjalanan hidup tiap orang. Sehingga tidak ada yang pasti selama kita masih menjalani hidup di dunia ini. Apa yang kita lihat saat ini belum tentu akan demikian untuk seterusnya. Atau apa yang tidak kita lihat saat ini belum tentu berarti tidak akan muncul suatu saat nanti. Karena itu hindari untuk menganggap diri atau ingin dianggap tidak seberdosa orang lain hanya karena keadaan kita lebih baik dari mereka. Sehingga kita benar-benar dengan sukacita dapat memberi hidup, waktu, tangan, langkah, suara bahkan lidah kita untuk Tuhan pakai agar membuat nama-Nya semakin diagungkan dan dimuliakan, amin.