Yang punya (harta) dikasih, yang ga punya (harta) diambil?

Markus 4:25 Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.”

ayat ini sering dipakai untuk membenarkan pemahaman soal yang punya banyak materi/harta akan dapat lebih banyak lagi dan yang tidak punya materi/harta apa yang sedikit pun akan diambil darinya. udah gitu kalo dikotbahin begitu pake diaminin lagi kan kasihan yang waktu itu dateng ibadah dengan ongkos pas-pas. dia jadi mikir waduh udah susah payah ga makan biar bisa punya ongkos ke ibadah tapi malah disumpahin ga dapet apa-apa :-( sedangkan yang kantongnya tuebelbel senyum-senyum keenakan.

coba deh, kayaknya jaka sembung banget ngartiin ayat ini  seperti itu.

pertama: kalo dicocokin ama ajaran Yesus yang laen ga bakal nyambung, karena mosok Yesus nambahin kekayaan orang yang udah punya buanyak trus yang idupnya enggan mati tak mau masih diludesin juga hartanya?? ga masuk akal banget!!

kedua: dicocokin ama tema yang lagi dibicarain di pasal 4 juga ga cocok. mosok lagi ngomongin soal pemberitaan Firman dan bagaimana Firman Tuhan itu mempengaruhi hidup pemberita dan pendengarnya lalu tiba-tiba nyinggung harta-harti orang.

jadi emang ga boleh asal comot dan baca sepotong-sepotong kayak makan donat. Tolong baca seluruhnya jangan lupa minta pertolongan Roh Kudus supaya bukan roh gentanyangan yang menuntun. Sehingga ayat ini akan dipahami begini:

makin seorang berusaha untuk mendengar, memahami dan melakukan Firman Tuhan, makin banyak pemahaman yang ditambahkan kepadanya (ibarat makin banyak belajar makin banyak tahu). Sementara orang yang tidak berusaha untuk mendengar, memahami dan melakukan Firman Tuhan, maka sedikit yang dia paham dan tahu itu akan makin habis alias makin ga tahu apa-apa (ibarat makin ogah belajar makin ga tahu apa-apa).

gheetooo….God bless :-)

    

 
 

Bersandar pada TUHAN

1 Samuel 9 : 15 – 19

9:15 Tetapi TUHAN telah menyatakan kepada Samuel, sehari sebelum kedatangan Saul, demikian:

9:16 “Besok kira-kira waktu ini Aku akan menyuruh kepadamu seorang laki-laki dari tanah Benyamin; engkau akan mengurapi dia menjadi raja atas umat-Ku Israel dan ia akan menyelamatkan umat-Ku dari tangan orang Filistin. Sebab Aku telah memperhatikan sengsara umat-Ku itu, karena teriakannya telah sampai kepada-Ku.”

9:17 Ketika Samuel melihat Saul, maka berfirmanlah TUHAN kepadanya: “Inilah orang yang Kusebutkan kepadamu itu; orang ini akan memegang tampuk pemerintahan atas umat-Ku.”

9:18. Dalam pada itu Saul, datang mendekati Samuel di tengah pintu gerbang dan berkata: “Maaf, di mana rumah pelihat itu?”

9:19 Jawab Samuel kepada Saul, katanya: “Akulah pelihat itu. Naiklah mendahului aku ke bukit. Hari ini kamu makan bersama-sama dengan daku; besok pagi aku membiarkan engkau pergi dan aku akan memberitahukan kepadamu segala sesuatu yang ada dalam hatimu.

 

 

Untuk pertama kali Amerika memiliki presiden dari komunitas kulit berwarna dan kemenangan Barack Obama adalah juga karena ia memiliki banyak dukungan. Dalam sebuah persaingan pihak yang menang selalu ditentukan oleh banyak atau sedikitnya dukungan. Bagi yang mampu meraih banyak dukungan bisa berharap untuk memenangkan persaingan dan sebaliknya lupakan kemenangan jika tidak punya cukup pendukung. Tapi dengan memilih seorang yang berasal dari keturunan berada namun dari suku yang paling kecil di Israel dan yang kaumnya adalah yang paling hina dari segala kaum suku Benyamin (9:21), maka TUHAN Allah ingin menunjukkan pada Israel dan juga Saul bahwa dasar yang dipakai TUHAN Allah dalam pemilihan raja bukan dari banyak atau sedikitnya dukungan, mulia atau hinanya sebuah golongan, melainkan semata-mata menurut kehendak-Nya  yang bebas.

Dengan mengetahui hal ini maka baik Israel maupun Saul tidak dapat memegahkan diri dan diharapkan setelah itu akan menjalani hidup dalam ketaatan kepada TUHAN Allah. Coba perhatikan pesan TUHAN Allah pada Samuel. Hanya tertulis bahwa besok ia akan bertemu dengan seorang laki-laki dari tanah Benyamin. Tidak disebutkan bahwa dia hebat atau perkasa, atau berpendidikan atau kebal senjata. Infonya hanya seorang laki-laki dari tanah Benyamin titik, tidak ada penjelasan apapun. Tidak ada uji kelayakan atau kampanye. Hanya seorang laki-laki dari suku paling kecil dan paling tidak dianggap yang harus Samuel urapi menjadi raja atas Israel dan dia yang akan memimpin Israel dalam peperangan. Kita juga baca Israel memang meminta seorang raja sebagai pemimpin, tetapi sebenarnya segala keputusan dan peraturan tetap berasal dari TUHAN Allah. Ini dibuktikan dengan lamanya seorang raja tidak diberi batas waktu karena semata-mata tergantung pada kehendak TUHAN Allah yaitu jika baik rakyat maupun raja hidup takut dan beribadah pada TUHAN (baca pasal 12 : 14, 15, 24, 25)

            Peristiwa pemilihan Saul menjadi raja ini membuat kita belajar bahwa TUHAN Allah tidak memakai ukuran yang disepakati semua orang atau yang populer melainkan memakai ukuran-Nya sendiri. sehingga kita diingatkan bahwa dengan ukuran yang sama juga Ia memilih siapa saja yang ingin Ia libatkan dalam rencana-Nya. Kenapa tidak memakai ukuran seperti yang kita pakai kalau memilih seorang yang layak adalah supaya tidak ada seorang pun yang dapat memegahkan diri bahwa karena kehebatan, kesalehan, kepandaian, kebesaran dan kebaikannyalah, Tuhan memakainya. Dengan begitu tiap orang menjalankan pengutusannya dalam takut dan ketaatan pada Tuhan.

            Tapi maaf, kita tidak sedang bicara soal pendeta, penatua, diaken, para pengurus, pelayan anak dan teruna, komisi-komisi atau panitia-panitia saja melainkan semua anggota jemaat. Tuhan memakai kita sebagai alat-Nya di tempat kita belajar, melayani, bekerja dan tinggal. Dalam lingkup keluarga inti, keluarga besar, lingkungan tempat tinggal, gereja bahkan bangsa dan  negara. Ia memakai kita yang tua dan muda, besar dan kecil, yang saat ini sakit maupun sehat, lemah maupun kuat, bekerja maupun tidak, berpasangan maupun tidak, menikah maupun tidak, memiliki anak maupun tidak, dikenal banyak orang maupun yang tidak, banyak masalah maupun sedikit, dalam krisis maupun yang telah melewatinya, yang didatangi maupun yang ditinggalkan, yang didekati maupun yang dijauhi, yang dipuji maupun yang difitnah, yang dicurangi maupun yang diperlakukan adil. Ia memakai kita dalam kondisi apapun untuk menolong, mendoakan, memaafkan, melayani, memperhatikan, mendengarkan orang lain. Supaya kita tidak berpikir bahwa alasan Bapa memakai kita adalah karena kita hebat, mampu, pantas, jaya, melainkan supaya kita ingat bahwa Bapa mau diri-Nyalah yang diandalkan.

Kalau begitu kita ini adalah orang-orang yang menerima kepercayaan  artinya kalau suatu saat ternyata Bapa tidak percaya lagi dan mau menarik kembali kepercayaan-Nya pada kita itu sepenuhnya adalah hak Bapa. Kalaupun kita merasa kita ini mampu, pandai, jaya, itu adalah cara Bapa memperlengkapi kita untuk melaksanakan rencana-Nya. Dan bagi siapa saja yang membandingkan diri dengan orang lain lalu berpikir bahwa dirinya tidak memiliki apa-apa untuk dapat dipakai menjadi  alat Tuhan, kita juga diingatkan bahwa  Bapa yang punya urusan untuk memperlengkapi kita menurut kehendak-Nya. Ia bisa melengkapi kita dengan waktu, tenaga, materi, kepekaan, perhatian dan apa saja menurut hikmat-Nya. Yang perlu kita lakukan hanya menyediakan diri untuk dipakai, bersandar pada Bapa dan tidak mencuri kemuliaan yang seharusnya untuk Bapa lalu nantikan: Bapa akan memakai kita mengerjakan hal-hal yang mustahil bagi pikiran manusia. Amin

Menghadapi kesulitan hidup

Keluaran 17 : 1 – 4

17:1. Kemudian berangkatlah segenap jemaah Israel dari padang gurun Sin, berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan, sesuai dengan titah TUHAN, lalu berkemahlah mereka di Rafidim, tetapi di sana tidak ada air untuk diminum bangsa itu.

17:2 Jadi mulailah mereka itu bertengkar dengan Musa, kata mereka: “Berikanlah air kepada kami, supaya kami dapat minum.” Tetapi Musa berkata kepada mereka: “Mengapakah kamu bertengkar dengan aku? Mengapakah kamu mencobai TUHAN?”

17:3 Hauslah bangsa itu akan air di sana; bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa dan berkata: “Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?”

17:4 Lalu berseru-serulah Musa kepada TUHAN, katanya: “Apakah yang akan kulakukan kepada bangsa ini? Sebentar lagi mereka akan melempari aku dengan batu!”

 

Sesuatu yang dikagumi tapi dihindari banyak orang adalah kesulitan. Seperti kita kagum dengan anak-anak sekolah yang mampu memenangkan olimpiade matematika tapi bagi kita yang tidak menyukainya tentu akan menghindar. Seperti kita kagum terhadap ibu Teresa yang bisa memeluk orang-orang kusta yang hampir meninggal sementara kita akan lebih memilih untuk tidak melihat pengemis yang tangan-kakinya membusuk. Seperti kita kagum terhadap para astronot yang pergi ke bulan tapi kita sendiri akan menolak untuk disuruh duduk dalam tempat kecil yang terbang ke ruang hampa udara tanpa jaminan bisa kembali ke bumi.

            Tidak menyukai kesulitan itu wajar tapi mencari-cari pihak lain untuk dipersalahkan sebagai penyebab kesulitan yang kita alami adalah tindakan kerdil. Kebiasaan ini sudah ada sejak manusia pertama diciptakan menurut catatan di Kejadian 3:11-13. Ketika TUHAN Allah berkata: “Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?” Adam menjawab: “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” Lalu  TUHAN Allah bertanya kepada Hawa : “Apakah yang telah kauperbuat ini?” Maka Hawa menjawab: “Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.”  Dan kebiasaan ini tanpa sadar terus diwariskan dari keturunan ke keturunan, terutama dari orang tua ke anak. Seperti kalau anak terantuk meja bukan anaknya yang salah tapi meja, kalau anak tidak naik kelas bukan anak yang salah tapi gurunya, kalau tangan anak kejepit pintu, pintunya yang salah. Sehingga waktu anak itu besar dan menghadapi kesulitan dia pun akan cenderung mencari pihak lain untuk dipersalahkan. Secara  spontan begitu ada masalah, hambatan, kegagalan, kesulitan yang pertama dipikrkan adalah siapa yang salah? Siapa penyebabnya> Siapa yang bertanggung jawab? Yang jelas bukan saya! Bahkan Tuhan pun menjadi pihak yang juga dimasukkan dalam daftar yang bisa dipersalahkan atas berbagai macam kesulitan, kegagalan rencana, batalnya sebuah acara, bangkrutnya sebuah usaha, sakit bahkan hidupnya susah karena mau taat pada Tuhan ( kita bisa ingat kata-kata istri Ayub:  Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!”)

            Inilah yang dialami oleh Musa ketika membawa Israel keluar dari Mesir dan menjalani pengembaraan di padang gurun. Memang mereka menempatkan Musa sebagai pemimpin perjalanan yang sangat mereka percaya, segani dan hormati setelah TUHAN Allah, tetapi dia juga akan  menjadi sasaran untuk dipersalahkan jika mereka mengalami masalah atau kesulitan. Seperti saat mereka berkemah di Rafidim yang saking keringnya tempat itu mereka tidak menemukan sumber air untuk kebutuhan keluarga dan ternak mereka dan seperti lagu lama yang diputar lagi mereka mulai mengeluh dan mengomel bahkan siap untuk merajam Musa. Tapi Musa memperingatkan mereka bahwa tindakan mereka seperti itu adalah tindakan mencobai TUHAN.

Dalam Alkitab dalam Bahasa Indonesia sehari-hari ayat 2 maksudnya lebih jelas yaitu Musa tidak menganggap bahwa dia yang sedang diomeli melainkan dia mengatakan : “Mengapa kamu mengomel dan mencobai TUHAN?” Kenapa diingatkan bahwa mengeluh dan mengomel adalah tindakan mencobai TUHAN karena sejak awal pengembaraan TUHAN telah berjanji untuk menyertai dan memelihara mereka sehingga jika mereka mengeluh dan mengomel berarti mereka menganggap bahwa TUHAN tidak mampu untuk menepati janji-Nya dan seolah memberi batas kepada kemampuan TUHAN untk menolong mereka.

Mengeluh dan mengomel ketika menghadapi masalah, kesulitan, sakit, doa yang belum terjawab menjadi tanda kita telah memberi batas bagi kemampuan Tuhan. Seolah-olah kuasa Tuhan terbatas sehingga tidak mampu memberi jalan keluar. Sehingga kalau kita mau mencari penyebab dari kesulitan yang kita alami tidak akan jalan keluar, sebaliknya  makin memperpanjang masalah. Kuncinya adalah mengubah pandangan tentang kesulitan (tiap orang saya berikan satu hal untuk direnungkan agar kita bisa sama-sama mengubah pandangan tentang kesulitan) :

·          Tuhan sengaja memberi hidup yang tidak mudah supaya kita tidak berpikir untuk menjalaninya dengan kekuatan sendiri

·          Keputusasaan dalam menghadapi hidup adalah satu tanda bahwa kita belum benar-benar mengenal Yesus, sehingga kita tidak tahu apa yang akan Yesus lakukan ketika badai menghantam perahu hidup kita..

·          Guru yang baik memberi soal-soal yang sulit hanya kepada anak yang menurutnya benar-benar mampu mengerjakannya. Kalau hidup kita sulit, sekarang kita tahu alasan di balik kesulitan itu.

·          Tidak ada hasil memuaskan yang didapat dari latihan yang mudah dan ringan. Iman juga seperti itu.

·          Apakah ada cara lain untuk menjadi seorang yang tahan uji selain dari bersedia untuk diuji berkali-kali?

Dengan demikian kita bisa melihat kesulitan sebagai latihan yang Tuhan berikan supaya kita tidak mengandalkan kekuatan sendiri, supaya kita lebih mengenal Yesus, karena kita dianggap mampu, supaya hasil pembentukan yang terjadi pada kita memuaskan dan supaya kita tahan uji.

            Tidak ada yang perlu dipersalahkan ketika kesulitan hidup itu datang karena kesulitan  adalah salah satu cara Bapa berkomunikasi dengan kita dan isi pesan-Nya: Aku ingin diandalkan, amin.