1 Samuel 9 : 15 – 19
9:15 Tetapi TUHAN telah menyatakan kepada Samuel, sehari sebelum kedatangan Saul, demikian:
9:16 “Besok kira-kira waktu ini Aku akan menyuruh kepadamu seorang laki-laki dari tanah Benyamin; engkau akan mengurapi dia menjadi raja atas umat-Ku Israel dan ia akan menyelamatkan umat-Ku dari tangan orang Filistin. Sebab Aku telah memperhatikan sengsara umat-Ku itu, karena teriakannya telah sampai kepada-Ku.”
9:17 Ketika Samuel melihat Saul, maka berfirmanlah TUHAN kepadanya: “Inilah orang yang Kusebutkan kepadamu itu; orang ini akan memegang tampuk pemerintahan atas umat-Ku.”
9:18. Dalam pada itu Saul, datang mendekati Samuel di tengah pintu gerbang dan berkata: “Maaf, di mana rumah pelihat itu?”
9:19 Jawab Samuel kepada Saul, katanya: “Akulah pelihat itu. Naiklah mendahului aku ke bukit. Hari ini kamu makan bersama-sama dengan daku; besok pagi aku membiarkan engkau pergi dan aku akan memberitahukan kepadamu segala sesuatu yang ada dalam hatimu.
Untuk pertama kali Amerika memiliki presiden dari komunitas kulit berwarna dan kemenangan Barack Obama adalah juga karena ia memiliki banyak dukungan. Dalam sebuah persaingan pihak yang menang selalu ditentukan oleh banyak atau sedikitnya dukungan. Bagi yang mampu meraih banyak dukungan bisa berharap untuk memenangkan persaingan dan sebaliknya lupakan kemenangan jika tidak punya cukup pendukung. Tapi dengan memilih seorang yang berasal dari keturunan berada namun dari suku yang paling kecil di Israel dan yang kaumnya adalah yang paling hina dari segala kaum suku Benyamin (9:21), maka TUHAN Allah ingin menunjukkan pada Israel dan juga Saul bahwa dasar yang dipakai TUHAN Allah dalam pemilihan raja bukan dari banyak atau sedikitnya dukungan, mulia atau hinanya sebuah golongan, melainkan semata-mata menurut kehendak-Nya yang bebas.
Dengan mengetahui hal ini maka baik Israel maupun Saul tidak dapat memegahkan diri dan diharapkan setelah itu akan menjalani hidup dalam ketaatan kepada TUHAN Allah. Coba perhatikan pesan TUHAN Allah pada Samuel. Hanya tertulis bahwa besok ia akan bertemu dengan seorang laki-laki dari tanah Benyamin. Tidak disebutkan bahwa dia hebat atau perkasa, atau berpendidikan atau kebal senjata. Infonya hanya seorang laki-laki dari tanah Benyamin titik, tidak ada penjelasan apapun. Tidak ada uji kelayakan atau kampanye. Hanya seorang laki-laki dari suku paling kecil dan paling tidak dianggap yang harus Samuel urapi menjadi raja atas Israel dan dia yang akan memimpin Israel dalam peperangan. Kita juga baca Israel memang meminta seorang raja sebagai pemimpin, tetapi sebenarnya segala keputusan dan peraturan tetap berasal dari TUHAN Allah. Ini dibuktikan dengan lamanya seorang raja tidak diberi batas waktu karena semata-mata tergantung pada kehendak TUHAN Allah yaitu jika baik rakyat maupun raja hidup takut dan beribadah pada TUHAN (baca pasal 12 : 14, 15, 24, 25)
Peristiwa pemilihan Saul menjadi raja ini membuat kita belajar bahwa TUHAN Allah tidak memakai ukuran yang disepakati semua orang atau yang populer melainkan memakai ukuran-Nya sendiri. sehingga kita diingatkan bahwa dengan ukuran yang sama juga Ia memilih siapa saja yang ingin Ia libatkan dalam rencana-Nya. Kenapa tidak memakai ukuran seperti yang kita pakai kalau memilih seorang yang layak adalah supaya tidak ada seorang pun yang dapat memegahkan diri bahwa karena kehebatan, kesalehan, kepandaian, kebesaran dan kebaikannyalah, Tuhan memakainya. Dengan begitu tiap orang menjalankan pengutusannya dalam takut dan ketaatan pada Tuhan.
Tapi maaf, kita tidak sedang bicara soal pendeta, penatua, diaken, para pengurus, pelayan anak dan teruna, komisi-komisi atau panitia-panitia saja melainkan semua anggota jemaat. Tuhan memakai kita sebagai alat-Nya di tempat kita belajar, melayani, bekerja dan tinggal. Dalam lingkup keluarga inti, keluarga besar, lingkungan tempat tinggal, gereja bahkan bangsa dan negara. Ia memakai kita yang tua dan muda, besar dan kecil, yang saat ini sakit maupun sehat, lemah maupun kuat, bekerja maupun tidak, berpasangan maupun tidak, menikah maupun tidak, memiliki anak maupun tidak, dikenal banyak orang maupun yang tidak, banyak masalah maupun sedikit, dalam krisis maupun yang telah melewatinya, yang didatangi maupun yang ditinggalkan, yang didekati maupun yang dijauhi, yang dipuji maupun yang difitnah, yang dicurangi maupun yang diperlakukan adil. Ia memakai kita dalam kondisi apapun untuk menolong, mendoakan, memaafkan, melayani, memperhatikan, mendengarkan orang lain. Supaya kita tidak berpikir bahwa alasan Bapa memakai kita adalah karena kita hebat, mampu, pantas, jaya, melainkan supaya kita ingat bahwa Bapa mau diri-Nyalah yang diandalkan.
Kalau begitu kita ini adalah orang-orang yang menerima kepercayaan artinya kalau suatu saat ternyata Bapa tidak percaya lagi dan mau menarik kembali kepercayaan-Nya pada kita itu sepenuhnya adalah hak Bapa. Kalaupun kita merasa kita ini mampu, pandai, jaya, itu adalah cara Bapa memperlengkapi kita untuk melaksanakan rencana-Nya. Dan bagi siapa saja yang membandingkan diri dengan orang lain lalu berpikir bahwa dirinya tidak memiliki apa-apa untuk dapat dipakai menjadi alat Tuhan, kita juga diingatkan bahwa Bapa yang punya urusan untuk memperlengkapi kita menurut kehendak-Nya. Ia bisa melengkapi kita dengan waktu, tenaga, materi, kepekaan, perhatian dan apa saja menurut hikmat-Nya. Yang perlu kita lakukan hanya menyediakan diri untuk dipakai, bersandar pada Bapa dan tidak mencuri kemuliaan yang seharusnya untuk Bapa lalu nantikan: Bapa akan memakai kita mengerjakan hal-hal yang mustahil bagi pikiran manusia. Amin