setiap kali melihat kerak nasi (lapisan paling bawah dari nasi yang telah mengeras), saya belajar untuk memahami cinta orang tua pada anaknya dan cinta Yesus pada setiap orang.
hari itu kami bertiga akan makan dan saya tahu bahwa kami tidak punya cukup nasi untuk di makan bertiga. sehingga saya putuskan untuk suami dan anak saya yang makan (dengan alasan sedang diet). suami saya mengambil nasi untuk mereka berdua. sambil menyuapi si kecil, saya lihat nasi yang ada di piringnya ternyata kerak nasi. saya tanyakan kenapa makan kerak nasi? dia menjawab: “aku suka makan kerak nasi, kok.” tapi saya tahu bahwa dia memilih makan kerak nasi supaya anak kami bisa makan bagian yang lebih baik
beberapa saat kemudian dia berkata sambil tersenyum: “akhirnya sekarang aku tahu kenapa dulu bapak bilang senang makan kerak nasi.”
saat itu saya merenung 2 hal:
cinta orang tua kepada anak membuatnya bersedia menjalani bagian yang tidak menyenangkan supaya anaknya mendapat bagian yang lebih baik.
demikian juga cinta Yesus bagi kita, sehingga Ia memilih untuk menjalani jalan penderitaan agar kita mendapatkan keselamatan.
jika suatu saat anda melihat orang tua anda makan kerak nasi dan mengatakan bahwa kerak nasi itu enak, cobalah untuk meminta orang tua berbagi kerak nasinya dengan anda.
saya jamin….
ia tidak akan bersedia berbagi kerak nasinya. tapi saat itu tentunya anda sudah tahu bahwa ia tidak bersedia berbagi bukan karena kerak nasinya enak…..
itu juga alasannya kenapa Yesus tidak bersedia membiarkan tangan anda dan saya yang dipaku di salib.



