Lakukan 2 in 1 dapat 3 in 1

 

Amsal 21:21

“Siapa berusaha agar keadilan dan cinta kasih dilaksanakan, akan mendapat kesejahteraaan, kehormatan dan umur yang panjang. “ (BIS)

 

“Siapa mengejar kebenaran dan kasih, akan memperoleh kehidupan, kebenaran dan kehormatan.” (TB)

 

“The person that always tries to show love and kindness will have a good life, wealth and honor.” (ERV)

 

apa yang dilakukan?

perhatikan kata-kata: berusaha, mengejar, always tries to show. Semua menunjukkan  proses berulang kali bukan cuma satu kali.

ü      Berusaha berarti sekalipun gagal tetap dicoba lagi dan kalau berhasil tetap diteruskan.

ü      Mengejar berarti bukan satu langkah maju jalan. Tapi terus mengikuti apa yang dikejar. Dan kalau orang sampai ngejar berarti tidak ada yang gak ngos-ngosan, berarti usahanya keras.

ü      Always try to show/selalu berusaha untuk menunjukkan berarti bukan satu kali ditunjukkan lalu berhenti melainkan ditunjukkannya terus-terusan.

Apa yang diusahakan?

2 in 1 yaitu:

Keadilan dan cinta kasih/ kebenaran dan kasih/ kasih dan kebaikan. Semua menyebut kasih dan keadilan, kebenaran, kebaikan. Berarti kalau di gabung dengan arti kata-kata sebelumnya jadi:

ü      keadilan dan cinta kasih itu tetap dilaksanakan. Kalau gagal dicoba lagi dan kalau berhasil tetap diteruskan.

 

ü      Kebenaran dan kasih itu tidak dikejar dalam satu langkah lalu stop melainkan dikejar sampai ngos-ngosan, pokoknya usahanya musti keras.

ü      Kasih dan kebaikan itu bukan pertunjukkan satu kali lalu berhenti melainkan harus terus-menerus ditunjukkan.

 

Apa yang didapat?

Ternyata bukan apa yang didapat tapi bahasanya adalah apa yang akan. Akan mendapat, akan memperoleh,  akan memiliki.

 

Ini berarti kalau belum dilaksanakan, belum dapat. Atau buat dulu baru dapat.

 

Apa yang akan didapat?

ü      Kesejahteraan, kehormatan dan umur yang panjang.

ü      Kehidupan, kebenaran dan kehormatan

ü      Hidup yang baik, kesejahteraan dan kehormatan.

Umur panjang, hidup sejahtera dan dihormati. Luar biasa :

ü      tidak perlu makan obat ini itu supaya umur panjang.

ü      Tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, supaya bisa hidup sejahtera.

ü      tidak perlu sampai jadi pahlawan seperti batman atau superman,  supaya dihormati orang.

Cukup jadi orang yang selalu baik pada orang lain, mengasihi orang lain, adil dengan orang lain, kita bisa menikmati umur panjang, hidup sejahtera dan dihormati orang.

 

Kenapa?

Karena kalau kita baik pada orang, mengasihi dan adil dengan siapa saja maka pertama Tuhan melihat dan yang kedua orang yang mengalami kebaikan, kasih, kebenaran dan keadilan kita itu akan memberitahu apa yang dirasakannya pada Tuhan sehingga tidak mustahil Tuhan mengaruniakan semua hal baik pada kita.

Satu persatu atau satu paket?

Maksudnya bukan yang melayankan firman sekaligus doa makan tapi yang didapat kalau kita baik bukan Cuma sejahtera saja, atau umur panjang saja atau kehormatan saja melainkan 3 in 1.

Karena percuma kalau kita sejahtera dan dihormati tapi Cuma sebentar, atau kita sejahtera dan umur panjang tapi tidak dihormati, atau kita dihormati dan umur panjang tapi tidak sejahtera.

 

Kesimpulannya?

Jadi jika kita terus menerus berusaha tanpa capek, tanpa bosan, tanpa berhenti untuk melakukan 2 in 1 yaitu: mengasihi dan baik dengan orang lain maka kita akan menikmati anugerah Tuhan berupa satu paket 3 in 1 yang isinya hidup yang sejahtera dan dihormati orang yang dinikmati sampai puas. Semuanya karena Tuhan yang kita sembah itu Tuhan yang hidup. Yang mengawasi tiap orang dengan apapun yang  dilakukannya, mendengar tiap orang dengan kata-kata yang diucapkan, melihat setiap orang yang merencanakan sesuatu mengenai sesamanya dan mengetahui isi hati tiap orang. Tuhan tidak memerlukan saksi mata atau keterangan saksi ahli ketika Ia akan memberkati atau memberi pelajaran pada seseorang karena Ia Maha tahu.

           

Untuk diingat!

Jadi kalau ingin dapat paket 3 in 1, jangan pernah berhenti berusaha untuk melakukan 2 in 1.

Tuhan memberkati, amin

Bagaimana caranya kita tahu bahwa yang kita lakukan sudah sesuai dengan kehendak Tuhan?

Pertanyaan ini sering ditanyakan oleh siapa saja dan saya tidak memiliki jawaban yang bisa 100% memuaskan kecuali (mungkin) ilustrasi ini:

 

Seorang ayah yang memiliki 2 orang putra telah menghabiskan banyak waktu hidupnya dengan putra bungsunya. Putra sulung sejak kecil sudah tinggal bersama paman dan bibinya.

Suatu hari si sulung memutuskan untuk pulang ke rumah ayahnya dan tinggal selama beberapa hari.

 

Ketika ayahnya meminta si sulung mengambil kaca matanya, ia datang dengan kaca mata yang salah.

Ketika ayahnya meminta dibawakan sendal, si sulung datang dengan sendal yang bukan dimaksud ayahnya

Ketika ayahnya meminta anak sulungnya memasak nasi, nasinya terlalu keras untuk dikunyah oleh ayahnya.

Semua yang dilakukan si sulung tidak ada yang seperti diinginkan ayahnya.

 

Si bungsu-lah yang akhirnya memberi kaca mata yang benar, membawa sendal yang dimaksud, memasak nasi yang lebih lembut.

 

Perbedaan itu terjadi karena si bungsu mengenal betul ayahnya, mereka bersama tiap saat dan hubungan mereka dekat sehingga mereka saling memahami. Sedangkan si sulung tidak betul-betul mengenal ayahnya, tidak tinggal bersama, hubungan mereka pun jauh sehingga tidak saling memahami.

 

Seperti itulah (kira-kira) jawaban atas pertanyaan :   Bagaimana caranya kita tahu bahwa yang kita lakukan sudah sesuai dengan kehendak Tuhan?

Untuk yang ga mau diganggu

Senang gak kalau lagi kerja diganggu? Malah kalau boleh kita akan berdoa supaya waktu bekerja jangan sampai ada gangguan. Demikian juga dengan rumah tangga, pekerjaan, pelayanan, sekolah, kita tidak suka diganggu. Karena mungkin menurut kita gangguan itu selain merepotkan juga tidak punya manfaat apa-apa bagi kita. Tapi mudah-mudahan pemahaman itu hanya sampai di saat ini setelah kita baca 1 Samuel 17 : 31 – 39
Kenapa? Karena tidak ada sesuatu yang terjadi dalam hidup kita tanpa ada maksud Tuhan dibaliknya, termasuk gangguan, seperti pengalaman Daud. Ketika ia ada di padang gembalaan di Betlehem untuk menggembalakan domba-domba ayahnya, Daud tidak meulu menunggui domba-dombanya yang sedang mencari makan dengan bermain kecapi, ia kerap diganggu oleh serangan singa dan beruang yang berusaha menerkam domba-dombanya. Bukannya melarikan diri, Daud yang masih muda itu memilih untuk menghadapi singa atau beruang yang sudah berhasil menerkam dombanya, ia akan membunuh singa atau beruang itu dan menyelamatkan dombanya.
Tentunya saat berhadapan dengan singa atau beruang , Daud tidak pernah berpikir akan menghadapi Goliat, tapi tanpa ia sadari lewat gangguan yang boleh dikatakan membahayakan nyawanya itu, TUHAN Allah sementara mempersiapkannya untuk berhadapan dengan Goliat.
Tapi mari kita perhatikan pemahaman Daud yang luar biasa mengenai keberhasilannya mengalahkan singa dan beruang (ay.37) : “TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.” Daud ingin mengatakan pada Saul dan semua orang yang turut hadir untuk mendengarkan bahwa bagi dirinya menghadapi singa dan beruang adalah perkara yang mustahil, tapi TUHAN telah membuktikan pertolongan-Nya sehingga tidak ada alasan untuk menjadi gentar pada Goliat. Daud memahami bahwa ternyata singa dan beruang adalah cara TUHAN untuk mempersiapkan diri dan imannya dalam menghadapi Goliat.
Kita lihat, TUHAN bekerja melalui berbagai cara. Dan apapun yang kita alami dalam hidup adalah cara TUHAN untuk mempersiapkan kita menghadapi jalan yang Ia rancang ketika Ia mau memakai kita menjadi alat-Nya.
Di awal kita mengakui bahwa kita tidak suka dengan yang namanya gangguan baik dalam rumah tangga, pekerjaan, pelayanan, sekolah, dll. Selain merepotkan, juga tidak bermanfaat bagi kita karena jalan kita menjadi terhalang dengan semua gangguan itu. Tapi coba kita pikir: dijalan kita ketemu sebuah batu yang menghalangi jalan kita. Selama kita duduk dan melihat bahwa batu ini menghalangi jalan saya maka kita akan tetap terhalang. Namun jika batu itu dipindahkan, maka batu itu tidak lagi menjadi penghalang. Jadi semua gangguan yang kita alami tetap akan menjadi penghalang bagi jalan kita selama tidak dihadapi.
Coba kita renungkan, jika Daud tidak bersedia menghadapi singa dan beruang, ketika ia melihat Goliat mencemooh barisan dari Allah yang hidup, apa yang akan ia lakukan: pastinya tidak jauh beda dengan Saul dan segenap orang Israel yaitu: hatinya cemas dan sanga ketakutan (17:11). Pasti ia akan cepat-cepat memberi pesanan ayahnya untuk kakak-kakaknya lalu pulang.
Untungnya Daud bersedia menghadapi gangguan yang tanpa sengaja membuka jalan bagi Allah untuk mempersiapkannya ketika suatu saat ia harus menghadapi Goliat, dengan pemahaman bahwa Allahnya yang hidup yang menolongnya.
Mungkin kita berpikir Tuhan hanya bekerja melalui gangguan-gangguan yang besar saja, tapi tidak lewat yang kecil-kecil. Hari ini saya harus menyelesaikan cucian 2 tumpuk besar, sementara sedang mengerjakan satu tumpukan, anak saya mondar-mandir minta dibukain makanan yang ia mau makan. Tapi karena pagi hari saya baca bagian ini, saya lalu berpikir memang tidak menyenangkan kalau diganggu, tapi jika ini Tuhan pakai untuk mempersiapkan saya menghadapi jalan di depan saya kenapa tidak? Jadi tanpa ngomel, tiap kali dia datang saya cuci tangan dan meladeni permintaannya.
Dan jika sampai hari ini Tuhan masih mempercayakan nafas hidup dan menambahkan hari hidup pada kita, maka berarti Ia masih berkenan memakai dan mempersiapkan kita untuk jalan yang sudah Ia rancang di depan kita. Mungkin kita sementara menghadapi persoalan, tantangan, ancaman, dll sehingga kita heran kenapa Tuhan masih tetap membiarkan kita hidup.
Tapi jika dengan diberi persoalan, tantangan, ancaman menjadi cara Tuhan untuk mempersiapkan kita maka biarlah Tuhan menunjukkan kemuliaan-Nya lewat hidup kita. Dan tentunya dengan menghadapinya tanpa disadari kita pun sedang membuat anak-anak kita mengetahui perbuatan-perbuatan besar Tuhan yang terjadi lewat hidup kita.

1 nada yang salah

seorang anak kecil berlatih piano pada seorang guru yang terkenal sangat disiplin dan tegas.
hari ujian pun tiba, anak kecil ini akan bermain piano dihadapan para penonton termasuk guru dan pengarang dari lagu yang akan dibawakannya.

awal dimulai dengan manis…. para penonton benar-benar menikmati permainan piano anak kecil itu. sang guru dan pengarang lagupun menatap tanpa bergeming.

lalu ditengah lagu tiba-tiba…ups! 1 nada salah.
guru dan pemilik lagu menahan napas menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. apakah anak itu akan berhenti atau melanjutkan permainannya.

ternyata anak itu tidak berhenti, setelah satu nada yang salah itu, si anak melanjutkan lagi permainannya dengan nada yang benar sampai selesai.

di belakang panggung…
anak kecil itu menunggu denga perasaan kacau balau.
ia bisa membayangkan kemarahan gurunya, tapi ia tidak sanggup membayangkan apa yang akan dilakukan pemilik lagu.

lalu, dia mendengar bunyi langkah kaki mendekat, keringat dingin semakin deras mengalir dari tubuhnya dan detak jantungnya makin menyakitkan dadanya sehingga napasnya terasa mau berhenti.
anak itu menunduk makin dalam….

tiba-tiba didengarnya suara tepuk tangan, ia mengangkat wajahnya dan melihat guru dan pemilik lagu bertepuk tangan sambil tersenyum lalu pemilik lagu itu berkata: “luar biasa nak! untung kamu lanjutkan permainanmu karena aku tidak pernah menyangka bahwa lagu itu justru menjadi semakin indah dengan 1 nada yang salah tadi.

dalam hidup kita bisa melakukan kesalahan, saat itu terjadi kita bisa memilih untuk berhenti, meneruskan kesalahan atau meneruskan dengan yang benar.

berhenti berarti kita mengakhiri hidup
meneruskan dengan yang salah berarti kita tidak menganggap pengampunan itu ada.
meneruskan dengan yang benar berarti kita menyadari kesalahan, memperbaiki dan membiarkan Tuhan menyingkapkan keindahan di akhir ceritanya.

memilih kerak nasi…

setiap kali melihat kerak nasi (lapisan paling bawah dari nasi yang telah mengeras), saya belajar untuk memahami cinta orang tua pada anaknya dan cinta Yesus pada setiap orang.

hari itu kami bertiga akan makan dan saya tahu bahwa kami tidak punya cukup nasi untuk di makan bertiga. sehingga saya putuskan untuk suami dan anak saya yang makan (dengan alasan sedang diet). suami saya mengambil nasi untuk mereka berdua. sambil menyuapi si kecil, saya lihat nasi yang ada di piringnya ternyata kerak nasi. saya tanyakan kenapa makan kerak nasi? dia menjawab: “aku suka makan kerak nasi, kok.” tapi saya tahu bahwa dia memilih makan kerak nasi supaya anak kami bisa makan bagian yang lebih baik

beberapa saat kemudian dia berkata sambil tersenyum: “akhirnya sekarang aku tahu kenapa dulu bapak bilang senang makan kerak nasi.”

saat itu saya merenung 2 hal:

cinta orang tua kepada anak membuatnya bersedia menjalani bagian yang tidak menyenangkan supaya anaknya mendapat bagian yang lebih baik.

demikian juga cinta Yesus bagi kita, sehingga Ia memilih untuk menjalani jalan penderitaan agar kita mendapatkan keselamatan.

jika suatu saat anda melihat orang tua anda makan kerak nasi dan mengatakan bahwa kerak nasi itu enak, cobalah untuk meminta orang tua berbagi kerak nasinya dengan anda.

saya jamin….

ia tidak akan bersedia berbagi kerak nasinya. tapi saat itu tentunya anda sudah tahu bahwa ia tidak bersedia berbagi bukan karena kerak nasinya enak…..

itu juga alasannya kenapa Yesus tidak bersedia membiarkan tangan anda dan saya yang dipaku di salib.