Beranda > Kumpulan Renungan > Berakar, bertumbuh, berbuah

Berakar, bertumbuh, berbuah

Apa yang sebaiknya dilakukan orang tua kalau anak yang masih kecil ingin pegang sesuatu yang panas seperti panci, lilin atau air panas ?  Kalau cuma bilang awas panas, kita akan tambah repot karena dengan segala cara dan upaya dia akan berusaha menyentuh benda-benda itu lagi. Tapi coba awasi dan biarkan dia sentuh sedikit. Mungkin dia akan menangis tapi dia tidak akan lagi menyentuh apapun yang sudah kita bilang panas. Ini namanya pengalaman traumatik atau pengalaman yang membuat trauma. Efek dari pengalaman traumatik ini adalah kapok.

     Pengalaman di Yerusalem bisa saja membuat Paulus trauma sehingga kapok bersaksi bersaksi tentang Tuhan. Karena itu Tuhan menjumpai Paulus dan berkata “ Kuatkan hatimu, engkau sudah memberi kesaksianmu mengenai Aku di Yerusalem, engkau nanti harus memberi kesaksian itu di Roma juga” (BIS Kis 23 : 11 ). Paulus memang punya alasanuntuk berkecil hati karena di Yerusalem yang penduduknya sama-sama orang Yahudi  dan percaya pada Allah saja Paulus bisa ditangkap, dipukul, dikeroyok malah siap-siap untuk dicambuk apalgi di Roma yang orang-orangnya tidak percaya pada Allah, apa yang hrus diberitakan disana,Dan kalaupun ada, berarti kali ini Paulus tidak punya cara lain untuk menghindar dari hukuman mati karena sebagai warganegara Roma, Paulus memang harus diadili di tanah kelahiran yang secara otomatis membuatnya mendapat warganegara itu atau di kota Roma sebagai pusat pemerintahan.

     Perjumpaan Paulus dengan Yesus membuat Paulus tidak punya pilihan selain meneruskan rencananya ke Roma untuk memberitakan injil di Roma. Kata-kata Yesus di ayat 11 yang seperti memberi perintah sebenarnya justru jaminan; apa jaminannya ? sayangnya bukan tidak beresiko, atau keadaan yang lebih baik tetapi di tengah kondisi beresiko di Yerusalem Paulus bisa bersaksi jadi setinggi apapun resiko di Roma, Paulus akan bisa bersaksi, hanya itu. 

Alkitab mencatat : Paulus tinggal 2 tahun penuh di sebuah rumah yang disewanya sendiri di Roma. Padahal saat itu kondisinya jangankan punya rumah di Roma, sewa saja hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang benar-benar bisa membayar karena tingginya biaya hidup di Roma.

     Sebenarnya jadi orang kristen itu bisa bikin kapok. Orang yang kapok ini ciri-cirinya : ada yang langsung mengganti identitasnya sehingga akhirnya bisa dapat jodoh impian, promosu kenaikan jabatan tidak jadi gagal, mendapat perlakuan istimewa oleh lingkungan, berhasil mendapatkan pekerjaan yang diincar, jika disakiti tidak perlu dipukul yang kanan kasih yang kiri tapi bebas ambil mata untuk ganti mata atau ambil gigi untuk ganti gigi. Ciri-ciri orang yang satunya lagi, tidak sampai ganti identitas tapi dia menarik diri dan mencari zona nyaman di daerah abu-abu, dibilang orang kristen, tidak ; dibilang bukan kristen tapi toh KTP-nya kristen. Kalau model seperti ini dia juga menjalankan perintah Alkitab : Siapa yang tahu banyak nanti dituntutnya juga banyak, jadi lebih aman tahu sedikit supaya dituntutnya juga sedikit. Orang yang memutuskan untuk menarik diri akan membuatkita berpikir tentang bara yang dijauhkan dari api, waktu baru dijauhkan masih ada api-nya, ditunggu sebentar api-nya mulai mengecil dan tidak lagi keluar dari bara tapi ada di dalam kayu yang terbakar itu, coba tunggu lagi, sudah tidak ada nyala apa-apa tapi masih ada asap mengepul, ditunggu lagi  asapnya sudah tidak ada, tapi waktu dipegang wah masih panas, dan waktu kita tunggu sebentar lagi bara itu sudah mati sama sekali dan menjadi dingin sehingga tidak berguna. Kekuatan dan kebijaksanaan hidup sumbernya adalah Tuhan, jika mau menarik diri, awalnya masih tahan, masih cukup tahan, masih bisa sedikit tahan sampai akhirnya tidak tahandan menjadi lemah karena jauh dari sumber.

     Ini juga menjadi alasan kenapa sampai banyak orang orang mendirikan rumah atau memilih tinggal dekat sumber air bukan malah jauh dari sumber air.

     Salah satu panggilan kita adalah bersaksi. Tapi memang resiko tidak disukai ; dipersulit, diperlakukan tidak adil bahkan dianiaya menjadi resiko setiap orang kristen yang menjalankan tugas dan panggilan kita. Untuk bisa bertahan menghadapinya jangan jauh dari sumber kekuatannya. Itu sama saja seperti membeli rumah murahtapi mdelnya bagus walaupun jauh dari sumber air daripada membeli rumah murah model standard yang dekat sumber air. Tidak akan ada kekuatan untuk bertahan.

Tanaman-pun begitu ; ia baru bisa berbuah kalau ia dekat dengan sumber air yang membuatnya bisa berakar dan dijamin bertumbuh, apalagi orang percaya.

     Kita baru bisa melaksanakan tugas panggilan dan pengutusan kita untuk bersaksi hanya jika kita bersedia dekat dan terus dekat pada sumber kekuatan kita yakni Tuhan.

Tuhan memanggil dan mengutus kita untuk melayani dan bersaksi dalam dunia ini, ini hal yang tidak mudah ibarat pohon berakar, bertumbuh, berbuah dan jika mau bisa terus menghasilkan buah, pohon itu tidak bisa berada jauh dari sumber airnya. Hanya dengan dekat pada Tuha kita dapat makin berakar, makin bertumbuh dan makin berbuah. Sekalipun angin kencang menggoyahkan pohon tapi akar sudah menancap kuat sehingga tidak akan tumbang dan sekalipun musim kemarau mengering tapi tetap dapat bertumbuh dan buahnya manis karena dekat dengan sumber air hidupnya.

     Hidup sebagai orang kristen memang beresiko tapi diluar Tuhan resiko itu tidak dapat tertanggungkan. Amin.      

                    

About these ads
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: