“amit-amit jabang bayi…!!”

     Kata-kata yang paling sering diucapkan seorang ibu di indonesia selama 9 bulan 10 hari  masa kehamilannya adalah : “amit-amit jabang bayi”

Liat orang aneh  :  “amit-amit jabang bayi”

Liat orang bermasalah : “amit-amit jabang bayi”

Liat orang jahat yang lagi digebukin : “amit-amit jabang bayi”

Malah gadis-gadis dengan perut rata atau bapak-bapak yang gak perlu mengandung pun bisa mengucapkan kata-kata ini.

     Amit-amit jabang bayi diucapkan sebagai kata-kata penolak bala atau supaya anak yang sedang dikandung tidak seperti itu. Berarti setiap orang yang mengucapkan berharap dapat anak yang tidak bermasalah sama seperti orang dagang pingin untung, orang yang punya anak pingin anaknya gak macam-macam.

     Apakah harapan seperti ini wajar ?  semua akan setuju dengan jawaban wajar donk ?  Tapi jika Yesus yang ditanya maka Yesus punya jawaban yang lain dari kita yaitu :  hati-hati menganggap harapan punya anak yang tidak bermasalah sebagai hal wajar apalgi jika terbawa sampai ke gereja. Kenapa ?  karena pada dasarnya  Allah tidak pernah memberi produk gagal.  Jadi kalau tidak bermasalah dianggap wajar berarti yang bermasalah akan dianggap tidak wajar. Dan reaksi dari tidak wajar adalah dibuang, disingkirkan, ditolak atau dicuekin.

     Perumpamaan domba yang hilang berangkat dari pemahaman tadi : untuk apa buang waktu, energi dan usaha untuk seorang yang bermasalah kalau masih ada 99 orang yang tidak bermasalah. Peduli amat untuk 1 yang hilang, kalau yang masih ada pada kita jumlahnya lebih banyak. Pada dasarnya tidak seperti itu maksud Allah dengan hadirnya orang-orang yang bermasalah. Sekali lagi Allah tidak punya istilah produk gagal. Contoh, kalau di Ambon tempat cetak sagu itu namanya Forna.  1 forna itu bisa cetak beberapa lempeng sagu. Kata orang dalam 1 cetakan atau forna-pun pasti ada 1 yang hasilnya tidak bagus/ seperti gagal. Jadi biasa dianggap wajar kalau dalam 1 keluarga kakak beradik ada 1 yang lain sendiri karena sagupun seperti itu. Ini seolah-olah mengklaim adanya 1 produk gagal  ” ..gak apa-apa karena yang berhasil khan masih banyak.. “. Tapi Alkitab punya prinsip lain, kalau ada 1 domba yang hilang jangan cuek tapi cari sampai dapat, karena sukacita  1 domba hilang yang ditemukan kembali jauh lebih besar  daripada sukacita karena ada 99 domba yang tidak hilang. Apakah ini berarti tidak bagus kalau 1 gereja isinya orang baik semua ?  dan lebih bagus  kalau 1 gereja  99 % sesat dan 1 %  baik ? tentu tidak seperti itu pemahamannya. Kembali pada tugas gereja adalah untuk melayani, bersekutu dan bersaksi. Kalau sudah baik semua berarti gereja tidak punya tugas lagi ; kalau tidak ada tugas lagi buat apa tetap ada gereja ? Sementara kalau hampir semuanya sesat bagaimana gereja bisa melaksanakan tugasnya? siapa yang mau diutus ?

     Berarti jika Allah menghadirkan orang-orang bermasalah dalam keluarga atau gereja adalah supaya kita tetap bergumul. Pergumulan kita untuk menjaga agar tidak keluar jalur supaya bisa menolong orang yang keluar jalur kembali pada jalur yang benar. Karena bagaimana kita bisa menolong seorang keluar dari sumur temapt ia terperosok kalau kita ada bersama-sama dengan orang itu dalam sumur.

     Dengan menghadirkan  orang-orang yang bermasalah dalam hidup dan pelayanan kita,  Allah ingin membuat kita mengembangkan sikap peduli atau rasa tidak rela melihat orang-orang tersebut dikalahkan oleh masalah mereka, sehingga mau tidak mau kita makin menjaga dan memperbaiki diri demi supaya bisa menolong mereka.

     Jadi jangan mereka dicuekin, ditolak, diomelin, disingkirkan apalgi dibuang karena sikap seperti itu akan membuat mereka semakin betah dalam pelanggaran mereka. Dan lagi jika Yesus saja mengatakan  Dia datang bukan untuk orang sehat tapi untuk orang sakit dan bukan untuk orang benar tapi untuk orang berdosa, kenapa kita mesti merasa lebih dari Yesus dengan tidak peduli pada saudara-saudara kita yang lain.

     Sama seperti Yesus peduli pada pertobatan Zakheus, peduli pada anak-anak, peduli pada seorang perempuan berdosa daripada celaan orang banyak,  maka kita-pun bisa memilih untuk bersikap seperti itu. Jika kita mengatakan bahwa kita mengasihi Yesus maka mari kita saling peduli,  Amin.